Warga Pemilik Lahan di Dasaq Mendesak PT BOSS, Jika Lahan Tak Dibayar Akan Duduki Lokasi Tambang Sejak Kamis

img

(Keterangan foto :   Pertemuan masyarakat pemilik lahan di Kampung Dasaq, Kecamatan Muara Pahu, dengan PT Boss, Selasa 18 Agustus 2020.(foto : ran/poskota kaltim)

 

SENDAWAR – “Semakin lama aku merasa kau hanya bermanis-manis muka. Cukup terakhir kali ini, hati luka disayat kepedihan”. Adalah sebait lirik lagu Dian Piesesha, berjudul Demi Hari Esok. Sepenggal lagu itu yang sempat terdengar sayup oleh Poskota Kaltim dari salah rumah warga pemilik lahan di Kampung Dasaq, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), saat melakukan peliputan langsung di Kampung Dasaq, Selasa (18/8/2020). 

Mungkin lagu itu oleh warga pemilik lahan di kampung itu untuk membuang kesedihan, karena ganti rugi lahan masyarakat Kampung Dasaq oleh PT Bangun Olah Sarana Sukses (BOSS) hingga saat ini belum ada kejelasannya.  

Pertemuan yang berulang-ulang dilakukan antar perwakilan masyarakat pemilik lahan dengan PT BOSS yang menambang batubara  di Kampung Dasaq, hingga saat ini belum ada keputusan untuk kepastian pembayarannya. 

Pertemuan yang kesekian kalinya pada Selasa (18/8) di Ruang Meeting, Kantor PT Boss, Kampung Dasaq, juga hanya berakhir tanpa hasil. Samasekali tidak ada Direktur atau perwakilan elit perusahaan penambang batubara itu yang hadir dan seharusnya bisa mengambil keputusan penting.

“Hanya perwakilan manajemen PT BOSS yang tidak bisa mengambil keputusan. Kmai pertanyakan dimana Direktur PT BOSS yag sering berkoar-koar selama ini. Ayo segera selesaikan hutang kepada masyarakat pemilik lahan,” sebut Ketua DPD GEPAK Kubar, Mathias Genting SH, yang  merupakan pemegang kuasa masyarakat pemilik lahan Kampung Dasaq, Rabu (19/8) di Sendawar. 

Mathias menegaskan bahwa notulen (berita acara) dalam setiap pertemuan selalu ada dan ditandatangi perwakilan PT BOSS. Termasuk dalam pertemuan 18 Agustus 2020. Intinya, masyarakat pemilik lahan di Kampung Dasaq menginginkan pembayaran pelunasan ganti rugi lahan secara sekaligus dan tidak ada pembayaran dua kali oleh PT BOSS.

“Pada Selasa (18/8/2020) telah dilakukan penghentian aktivitas penambangan PT Boss di Kampung Dasaq  dibeberapa titik oleh masyarakat Dasaq. Diantaranya di areal tambang (pompa pembuangan air),” ungkap Mathias Genting, didampingi Sekretaris Pokdar Kamtibmas Resor Kubar, Sarjudi SH yang juga Koordinator Kubar-Mahulu Lembaga Bantuan Hukum (LBH) A Johnson Daud SH MHum dan Rekan. 

Mathias menuturkan, dalam aksi damai masyarakat Dasaq dimulai sejak 18 Agustus 2020, tertulis dalam berita acara, bahwa tidak ada lagi aktifitas unit alat berat PT BOSS (harus stand by di area office). “Serta penghentian aktifitas di pelabuhan PT Boss,” katanya.

Dia menjelaskan, agar perusahan itu segera mengindahkan tuntutan masyarakat. Karena pertemuan bukan hanya dilakukan sepihak oleh masyarakat. Tetapi pada dua pekan lalu menurutnya, pertemuan sudah difasilitasi oleh Polres Kubar di Markas Polres, Sendawar. Namun perusahaan itu mengingkari hasil pertemuan yang tercatat didalam berita acara.

“Terindikasi membangkang dan berpura-pura tidak tahu. Padahal dalam beberapa kali pertemuan selalu ada perwakilan manajemen PT BOSS hadir dan bertanda tangan, diantaranya yang bernama Yudi SE,” jelas Mathias.

Mathias menuturkan, pihaknya  memberikan waktu kepada PT Boss untuk melunasi ganti rugi lahan masyarakat Kampung Dasaq tersebut, selama dua hari. 

“Memberikan waktu kepada PT Boss sampai dengan Kamis (20/8/2020), agar melunasi hutang ganti rugi lahan kepada masyarakat Dasaq. Tidak ada lagi proses mediasi atau pertemuan,” ungkapnya. 

Sementara itu, Sarjudi mengatakan, masyarakat Kampung Dasaq menyatakan sikap. Apabila manajemen PT Boss tidak juga melakukan ganti rugi lahan yang telah digarap atau masuk dalam konsesinya, maka mereka akan melakukan penghentian total seluruh kegiatan operasional perusahaan itu di Kawasan Dasaq. 

“Kecuali untuk kebutuhan logistik dan pelayanan kesehatan, bagi karyawan PT Boss site Dasaq masih ditoleransi,” ucapnya. 

Pihak manajemen PT Boss yang diwakili oleh Muksin dan RM Suseno yang hadir dalam pertemuan 18 Agustus 2020 menyatakan siap untuk menyampaikan tuntutan masyarakat pemilik lahan di Kampung Dasaq kepada atasannya.

Keduanya bertandatangan dalam berita acara pertemuan, menyatakan siap menyampaikan hasil notulen rapat pertemuan itu kepada Head Office PT Boss.(ran)