Membangun Karakter Siswa di Masa Pandemi

img

Oleh : Ahmad Ali, M.Pd


Dalam Kitab Alala terbitan Pesantren Agung Lirboyo disebutkan ada enam syarat dalam mencari ilmu. Cerdas adalah syarat yang pertama, Semangat adalah Syarat kedua,l Sabar adalah syarat ketiga dan Biaya adalah syarat yang keempat, Keberadaan Guru yang memberi petunjuk adalah syarat kelima. Sanad Guru menjadi faktor penting sebagai jaminan orisinilitas dari keilmuan yang dipelajari.

Hal ini karena ilmu adalah sesuatu yang diwariskan bukan apa yang asal kita searching di kolom pencarian internet atau pengetahuan yang belum tentu kebenarnnya. Lamanya Waktu belajar adalah Syarat yang keenam.

Sejak awal bulan Maret tahun 2020 penyebaran pandemi Covid-19 telah melanda dunia terjadi. Sudah ratusan ribu bahkan jutaan orang yang terpapar virus covid ini dalam waktu singkat.

Dalam mensikapi hal ini Pemerintah mengeluarkan kebijakan guna memutus mata rantai penyebaran covid 19 diantaranya adalah PSBB, diberlakukan lock down, hingga mencanangkan era New Normal yang disertai protokol kesehatan. Pada masa ini kita harus menjaga jarak fisik dengan orang lain, mencuci tangan dengan sabun, mengunakan masker, dan beraktivitas dari rumah. Dunia Pendidikan termasuk salah satu sektor yang terkena dampak dari pandemi Covid 19 ini.

Kemendikbud selaku stake holder pendidikan telah menetapkan pembelajaran daring sebagai tata cara proses pembelajaran jarak jauh di tahun ajaran baru nanti. Dukungan dari pemerintah, sekolah, guru, siswa dan orang tua sangat dibutuhkan.

Hal yang perlu dicermati adalah bahwa berpatokan pada syarat mencari ilmu yang tertuang dalam Kitab Alala khususnya syarat ke harus ada petunjuk dari guru dalam masa transformasi ilmu pada proses pembelajaran sedang di sisi ada keterbatasan untuk melakukan proses pembelajaran dikarenakan adanya pandemi covid 19 maka seorang Guru dituntut harus bisa lebih berinovasi agar “kehadiran” guru masih bisa dirasakan oleh siswa.

Kerja sama antara Guru dan Wali Murid harus dioptimalkan untuk tetap bisa menjamin keberlangsungan pendidikan peserta didik. Rumah sebagai tempat tinggal para siswa bukan sekedar menjadi tempat tinggal. Saatnya rumah menjadi Home Scooling dengan orang tua yang berinteraksi dengan anaknya lebih lama bisa berperan sebagai “Guru Pengganti”.

Kedua orang tua sebagai penanggung jawab dari penghuni rumah mejadi tempat penanaman  karakter yang kuat. Orang tua sebagai role model  harus dapat memberikan rasa aman terhadap anak –anak agar mereka merasa dekat.

Pendidikan karakter melalui  sekolah  jarak jauh di saat peserta didik sedang school from home (sekolah  dari rumah) dapat tetap dikawal dan dikontrol oleh para guru. Kegiatan Guru Kunjung yang terjadwal harus dilakukan dengan batasan – batasan protokol kesehatan Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan buku control karakter.

Ada banyak karakter positif yang dapat dikembangkan oleh guru sesuai kompetensi inti dari kurikulum 2013 seperti memiliki sifat relijius, jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, toleransi, gotong royong, santun, percaya diri, dll. Keberadaan Buku kontrol harus ada keterkaitan antara Guru, orang tua dan siswa.

Guru dapat pula memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi di group WA peserta didik, dan memberikan hukuman melalui WA jalur pribadi agar nama baiknya tetap terjaga dan anak tidak merasa direndahkan di depan teman – temannya. Langkah ini bisa dilakukan terkait dengan penugasan.

Mengajak siswa berbagi pulsa kepada siswa yang membutuhkan juga bisa menumbuhkan rasa simpati dan empati. Kontrol Guru dalam group WA siswa sebagai bentuk penanaman karakter sopan dan santun dalam berucap dan bertanggung jawab juga bisa diaksanakan.

Tanggung jawab pendidikan karakter ada di tangan kita bersama demi mewujudkan pembangunan pendidikan nasional yang didasarkan pada paradigma membangun  manusia Indonesia seutuhnya. Yaitu manusia Indonesia yang memiliki keimanan, ketakwaan, akhlak mulia dan budi pekerti yang luhur, memiliki kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk menguasai ilmu pengetahuan, serta memiliki kecakakapan dan keterampilan demi Indonesia unggul.

(Penulis adalah guru di Tenggarong dan pengurus Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kaltim).