Ikan Mati Akibat Air Sungai Mahakam Bangar, Pemkab Kukar Siapkan Bantuan untuk Petani Keramba

img

(Keramba milik salah seorang warga di Desa Rempanga Kecamatan Loa Kulu yanga turut terkenda dampak akibat kondisi air sungai Mahakam Bangar)

POSKOTAKALTIMNEWS.COM, TENGGARONG- Fenomena air sungai Mahakam Bangar seminggu terakhir ini, cukup “memukul” para pemilik keramba ikan diwilayah Tenggarong dan sekitarnya. Kondisi air bangar menyebabkan hampir seluruh ikan budidaya dikeramba mati.

Menyikapi fenomena itu Kepala Bidang Pengelolaan Budidaya Ikan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kutai Kartanegara Fadli menyebut, terjadi penurunan  kualitas air di sungai Mahakam. Para pemilik keramba perlu melakukan upaya  mengatasi hal tersebut, diantaranya mengurangi pemberian pakan.

"Memberikan aerasi buatan untuk penambahan oksigen pada ikan, tidak melakukan penebaran benih pada saat kualitas air sungai Mahakam menurun,  melakukan pemanenan pada ikan yang sudah mencapai ukuran konsumsi" kata Fadli kepada Poskotakaltimnews, di ruang kerjanya, Kamis (10/6/2021).

Selain itu juga memindahkan ikan secepatnya ke lokasi yang dapat menyelamatkan kehidupan ikan itu sendiri, seperti kolam penampungan.

Pemerintah Kukar melalui DKP tidak akan tutup mata menyikapi fenomena ini, nantinya pemerintah  akan memberikan bantuan kepada pemilik pembudidaya ikan keramba, saat ini masih dilakukan pendataan terkait jumlah keramba yang terdampak karena air bangar.

"Setelah didata nanti kita kasih bantuan, bantuan tersebut berupa benih maupun pakan, namun bantuan tersebut diberikan perkelompok, jadi mereka harus mengajukan proposal terlebih dahulu" tuturnya.

Menurut Fadli data yang ada di DKP Kukar, untuk jumlah pembudidaya ikan yang terdata di Dinas Kelautan dan Perikanan khusus wilayah Tenggarong ada 500 Rumah Tangga Pembudidaya (RTP) dengan jumlah sekitar 1000 keramba, Loa Kulu ada 600 RTP dengan jumlah 14.000 keramba, sedangkan Loa Janan ada 97 RTP dengan jumlah 2000 keramba.

Secara terpisah salah satu pemilik keramba diwilayah Desa Rempanga Kecamatan La Kulu Juwair (76) mengatakan, dampak dari air bangar ini mengalami kerugian sekitar 1 Kwintal sampai hari ini.

"Ikan yang mati sehari bisa 20 Kg, saya hanya bisa pasrah dengan kondisi seperti ini, bersyukur sebelumnya sudah terjual sekitar 2 Kwintal ke pasar dengan harga standar Rp. 30 ribu" ujar Juwair

Saat ini untuk meminimalisir kerugian, pihaknya menjual ikan dengan harga dibawah standar perkilonya Rp. 20 ribu, baik itu ikan mas, ikan nila, maupun ikan patin.

"Saya berharap dengan kejadian  yang menimpa hampir seluruh pemilik keramba, agar mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah" ucapnya.(*riz)