Berkat Perjuangan Laskar Merah Tameng Adat Borneo, Tanah Milik Buruh Bangunan Berhasil Direbut

img

(Laskar merah Tameng Adat Borneo) 

POSKOTAKALTIMNEWS.COM,BALIKPAPAN- Berkat perjuangan Laskar Merah Tameng Adat Borneo telah berhasil melakukan pembelaan atas lahan milik dua buruh bangunan yang bersengketa bertahun tahun, akhirnya dimenangkan oleh Saparudin dan Muhamad Sabril yang disebut sebagai buruh bangunan.

Kedua buruh bangunan Saparuddin dan Muhammad Sabril mengucapkan rasa terima kasih kepada Panglima Besar Laskar Merah Tameng Adat Borneo, Basuki Rahmat, SKM Senin (26.07.2021).

Panglima Besar Laskar Merah Tameng Adat Borneo Basuki Rahmat, SKM telah berhasil melakukan pembelaan merebut kembali tanah warisan keluarga seluas 8.239 M2 yang terletak di Jl. Manunggal RT. 59 Kelurahan Sungai Nangka Kecamatan Balikpapan Selatan (d/h Kelurahan  Gunung Bahagia).

Bersamaan dengan itu, Badan Pertanahan Nasional  (BPN) Balikpapan melaksanakan pemeriksaan dan mengukur lahan, atas permohonan Saparuddin sebagai ahli waris dari Sabri Bin Banting Ali sebagai pemilik tanah. Yang dimenangkan gugatan perkaranya  dalam status Putusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde).

Nurul Fariati, SH advokasi berkantor pada Sahabat Law Office sebagai Kuasa Hukum dari Saparuddin dan Muhammad Sabril menerangkan bahwa pihaknya telah di ajak bekerja sama Oleh Panglima Besar Laskar Merah Tameng Adat Borneo Basuki Rahmat, SKM,  karena ada gangguan dari Endi Daud yang dengan segala upaya  berusaha merampas perwatasan tersebut.

Walaupun tanpa alat bukti yang kuat, Endi Daud sekitar November 2020 berani menggugat Saparuddin dan Muhammad Sabril dengan sangkaan "Melawan Hukum" di Pengadilan Negeri Balikpapan tercatat daam register No. 227/Pdt.G/2020/PN Balikpapan. Karena itu gugatan Endi daud tidak diperiksa pokok perkaranya dan gugatan dinyatakan ditolak.

Karena selain disebabkan ne bis in idem (perkara yang sama tidak boleh diajukan untuk kedua kali), juga Endi Daud dianggap Diskualifikasi in persona (orang yang tidak punya kapasitas menggugat).

Selanjutnya Nurul menjelaskan telah dilakukan eksekusi terhadap objek sengketa 12 Juli 2017 dan telah di catat dalam berita acara eksekusi riil (Penyerahan Objek Sengketa) Nomor : E .22.2014-12/Pdt.G/2008/PN Bpp tentang perintah eksekusi riil. Endi Daud mengirimkan surat aduan 13 Juli 2017 mengenai keberatan atas pelaksanaan eksekusi riil. “Namun tidak ditanggapi oleh Mahkamah Agung.”ujarnya.

Hal tersebut tercatat dalam laporan tentang proses eksekusi putusan perdata No. 12/Pdt.G/2018/PN Bpp. Berkenaan dengan pengaduan atas ketidakpuasan terhadap eksekusi yang telah selesai dilaksanakan Nomor : W18.U2/1934/PDT.01.05/VIII/2017 menyatakan Endi Daud tidak diketahui kapasitasnya dalam suratnya tanggal  13 Juli 2017 yang di tujukan kepada ketua MA mengatas namakan kepentingan pihak pemohon eksekusi.

Sementara itu Panglima Besar Laskar Merah Tameng Adat Borneo yang mempunyai panggilan akrab Bang Ibas, Rabu (28/7/2021) mengatakan bahwa, keterangan mengenai gangguan-gangguan yang dilakukan Endi Daud terhadap ahli waris sangat keterlaluan.

Diantaranya gangguan itu adalah pasca eksekusi riil mencabut plang nama Saparuddin yang terpasang di atas tanah sampai beberapa kali (sekitar kurang lebih lima kali) kemudian menegakan plang bertulisan informasi kepemilikan tanah adalah Mustari berdasarkan putusan pengadilan yang yang senyatanya atas nama Sabri Bin Banting Ali, tapi dituliskan dalam baliho adalah Mustari. Sungguh menyesatkan informasi yang luar biasa.

Masih menurutnya, pada saat eksekusi riil Juru Sita pengadilan Negeri Balikpapan menyerahkan objek sengketa pada Saparuddin. Konon kabarnya Endi Daud menggunakan salah satu media online yang menayangkan video dirinya sedang berada di lokasi eksekusi riil di informasikan sebagai "Penggugat" yang menang perkara tapi tidak puas pada pelaksanaan eksekusi riil.

Selain itu, Endi Daud memagar area tanah dan  menggemboknya. Kini pagar telah dibuka oleh Laskar Merah sehingga  ahli waris berhasil menguasai secara de facto setelah sebelumnya menguasai secara de jure tanah warisannya.

Panglima Laskar Merah yang di kenal sangat santun ini menngungkapkan selama rentang waktu pasca eksekusi riil tahun 2017 sampai sekarang banyak perbuatan Endi Daud yang merugikan, diantaranya pungutan liar  terhadap warga yang berbatasan dengan tanah serta menghibahkan sebagian kecil tanah untuk jalan kampung dengan memungut dana pada warga sekitar.

Terlebih lagi saat sekarang tanah sedang proses konversi dan peralihan yang dimohonkan pada BPN. Dimana Bang Ibas bersama Laskar Merah mengawal proses dari segel sampai ditingkatkan menjadi serrificat hak milik atas nama ahli waris. Setelah dirinya tidak berhasil menggugat Saparuddin dan Muhammad Sabril, Endi Daud bersikap tidak rela atas pemasangan plang bertanda."Tanah Dalam Pengawasan Tameng Adat Borneo" dimana ahli waris setuju dengan hal tersebut.

"Kemudian Endi Daud menulis surat yang isinya fitnah terhadap Panglima Ibas, dimana suratnya ditembuskan pada banyak pihak. Kemudian Endi Daud mencabut plang tersebut, "ungkap Bang Ibas.

Bang Ibas menyatakan,  saat ini pihaknya bersinergi dengan Advokat Nurul Fariati, SH dalam rangka melindungi orang kecil seperti Saparuddin dan Mohammad Sabri demi mendapatkan keadilan guna melindungi aset mereka yang berharga untuk merubah nasib dimasa depan. (mid)