Hitungan Jam yang Mengubah Kawasan Pemukiman Warga Danau Aji, Hj Zaidar : "Saya sudah tidak ingat apa-apa, cuman ambil Al-Qur'an, ambil Yasin, itu saja"

img

Rumah Hj. Zaidar yang menyisakan dinding beton di tengah puing-puing kebakaran di Danau Aji, Tenggarong. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Sore itu, rumah-rumah di kawasan Danau Aji, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih menjadi tempat warga menjalani aktivitas seperti biasa.

 

Tidak ada yang menyangka, suasana yang semula berjalan normal akan berubah menjadi kepanikan hanya dalam hitungan jam ketika kobaran api muncul melahap puluhan rumah di permukiman padat, pada Senin (5/10/2026) sore itu.

 

Warga yang semula masih berada di dalam rumah mendadak harus berpacu dengan waktu.

 

Mereka berusaha keluar sembari membawa barang yang masih sempat diraih, sementara api terus membesar dan merambat dari satu bangunan ke bangunan lainnya.

 

Dalam kondisi seperti itu, tidak ada lagi waktu untuk memilah mana barang yang penting dan mana yang bisa ditinggalkan.

 

Keselamatan menjadi pilihan pertama, sedangkan pakaian, perabotan, barang berharga hingga benda-benda yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan harus direlakan ketika api semakin mendekat.

 

Ketika kobaran akhirnya berhasil dipadamkan, sebagian warga menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat.

 

Tempat yang sebelumnya menjadi rumah untuk berlindung bersama keluarga telah berubah menjadi puing, menyisakan barang-barang yang berhasil diselamatkan dan kenangan yang tidak ikut terbakar.


Di antara warga yang sore itu harus berpacu dengan waktu adalah Supriyadi, Ketua RT 33 yang usianya telah lebih dari 70 tahun.

 

Ia masih mengingat jelas bagaimana sore yang awalnya berjalan biasa berubah menjadi kepanikan setelah suara warga memberitahukan adanya api di belakang rumahnya.

 

Supriyadi kemudian keluar untuk memastikan kabar tersebut dan mendapati kepulan asap sudah membumbung tepat di belakang rumahnya. Tidak lama berselang, kobaran api mulai terlihat semakin besar.

 

“Saya melihat dari sini, ternyata sudah mengepul di belakang rumah saya, persis,” ujarnya saat ditemui Selasa (6/10/2026), sehari setelah kebakaran.

 

Sekitar pukul 16.30 Wita, api diketahui muncul dari sebuah rumah sewaan yang berada di belakang rumah Supriyadi. Rumah tersebut dalam keadaan kosong karena ditinggalkan penghuninya.

 

Namun, dari mana api pertama kali berasal, hingga kini belum diketahuinya secara pasti.

 

Dalam situasi yang berubah menjadi keadaan darurat itu, Supriyadi mengaku tidak lagi memikirkan penyebab kebakaran.

 

Perhatiannya hanya tertuju pada bagaimana dirinya bisa keluar dengan selamat sekaligus mengamankan barang yang dianggap paling penting.

 

Pakaian dan barang-barang lain yang berada di dalam rumah terpaksa ditinggalkan.

 

Dokumen berupa sertifikat, surat keputusan (SK) dan sejumlah data pribadi justru menjadi yang pertama kali dipikirkan karena dianggap sulit digantikan jika ikut terbakar.

 

“Baju nggak sempat, sama sekali nggak sempat. Hanya SK-SK itu saja yang saya amankan dulu,” tuturnya.

 

Menurut Supriyadi, api berkembang begitu cepat sehingga warga hanya memiliki waktu yang sangat terbatas untuk menyelamatkan barang dari dalam rumah.

 

Ia memperkirakan petugas pemadam kebakaran tiba sekitar 10 hingga 20 menit setelah api pertama kali terlihat, sementara warga lebih dahulu berusaha menyelamatkan diri dan membantu satu sama lain.

 

“Api merambat sangat cepat sekali. Sekitar 10-15-20 menit baru PMK datang,” ujarnya.

 

Sebagai Ketua RT 33, Supriyadi menyebut kawasan tersebut dihuni sekitar 73 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 290 jiwa.

 

Sebagian besar warga tinggal di rumah kontrakan yang berdiri cukup berdekatan, baik di bagian belakang maupun sisi permukiman.

 

Kepadatan bangunan membuat kobaran api dengan cepat melahap rumah-rumah di sekitarnya yang sebagian besar terbuat dari material kayu.

 

Dalam kondisi tersebut, warga tidak memiliki banyak pilihan selain segera meninggalkan rumah dan menyelamatkan apa yang masih sempat dibawa.

 

Namun, bagi Supriyadi, kebakaran itu bukan hanya persoalan warga yang kehilangan tempat tinggal.

 

Rumah yang ditempatinya bersama sang istri juga ikut terdampak, setelah api padam, ia pun harus menghadapi kenyataan bahwa tempat yang selama ini menjadi rumah dan tempat mereka pulang sudah tidak dapat ditempati lagi.

 

Untuk sementara, Supriyadi dan istrinya tinggal di rumah anak mereka di Jalan Belida. Di tengah kehilangan tersebut, ia berusaha menerima kejadian itu sebagai musibah yang telah terjadi dan memilih tidak larut dalam penyesalan.

 

“Ya gimana ya, disesali sudah memang terlanjur, memang itu musibah. Iya kan? Pasrah saja, sudah terjadi,” kata dia.

 

Meski demikian, menerima keadaan bukan berarti Supriyadi kehilangan harapan.

 

Setelah kehilangan rumah, keinginannya sederhana, yakni memperoleh bantuan agar dirinya dan warga lain yang menjadi korban dapat kembali memiliki tempat tinggal dan perlahan menata kehidupan.

 

“Kami berharap kepada pemerintah yang pasti tempat tinggal kami. Kalau bisa kami mohon dibantu atau bagaimana, walaupun tidak 100 persen. Kan tidak mungkin kalau 100 persen, saya rasa itu saja harapan kami,” ujarnya.

 

Pengalaman serupa dirasakan Hj. Zaidar, perempuan berusia 70 tahun yang sore itu berada di rumah bersama suaminya.

 

Ketika suara anak-anak terdengar dari belakang rumah dan berulang kali meneriakkan adanya api, Zaidar baru menyadari bahwa kebakaran sudah semakin dekat dengan tempat tinggalnya.

 

“Ada api, ada api,” ujar Zaidar menirukan teriakan anak-anak.

 

Zaidar kemudian melihat ke arah belakang rumah dan mendapati api telah menjulang tinggi hingga melewati pepohonan.

 

Panas yang mulai terasa membuat warga di sekitar rumah meminta Zaidar segera keluar karena kobaran api semakin mendekat.

 

Dalam kondisi panik, warga bahkan harus beberapa kali membantu mengangkat Zaidar agar segera meninggalkan rumah.

 

Tidak ada lagi waktu baginya untuk memikirkan seluruh barang yang berada di dalam rumah, apalagi memilih satu per satu benda yang ingin diselamatkan.

 

“Ada tiga kali atau empat kali sudah diangkat sama bapak-bapak, kan Ibu harus keluar, ini sudah panas,” kata dia.

 

Di tengah kepanikan itu, hanya dua benda yang terlintas dalam pikirannya dan sempat dibawa keluar, yakni Al-Qur'an dan Yasin.

 

Barang-barang lain harus ditinggalkan karena waktu tidak lagi memungkinkan baginya untuk kembali masuk ke rumah.

 

“Saya sudah tidak ingat apa-apa. Cuma ambil Al-Quran, ambil Yasin, itu saja,” tuturnya.

 

Sejumlah berkas dan ijazah masih berhasil diselamatkan. Mobil dan sepeda motor juga sempat dikeluarkan dari rumah.

 

Namun, sebagian besar barang lainnya tidak sempat dibawa ketika api semakin mendekati bangunan.

 

“Kalau barang yang lain tidak ada sama sekali,” ujarnya.

 

Rumah dua lantai tersebut merupakan milik Zaidar dan selama ini ditempatinya bersama sang suami.

 

Bangunan itu bukan sekadar tempat tinggal, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari hingga akhirnya kebakaran memaksa keduanya meninggalkan rumah dalam waktu singkat.

 

Kini, rumah tersebut tidak lagi dapat ditempati, Zaidar juga belum dapat memastikan berapa besar kerugian yang dialaminya.

 

Namun, di tengah kehilangan itu, ia berusaha menerima keadaan dengan prinsip yang selama ini diyakininya.

 

“Ya namanya manusia kan kaget. Orang Jawa bilang nrimo, ikhlas. Sudah waktunya,” kata dia.

 

Bagi Zaidar, kehilangan harta benda tidak berarti kehilangan pegangan. Ia memilih menyerahkan apa yang telah terjadi kepada Allah dan menjadikan keyakinan tersebut sebagai kekuatan untuk menghadapi kehidupan setelah kebakaran.

 

“Yang terus menguatkan saya Allah Ta'ala. Ibu hanya berpegang kepada Allah Ta'ala. Semua datangnya dari Allah, kembali kepada Allah,” ucapnya.

 

Kini, harapannya tidak muluk, ia berharap ada bantuan pemerintah agar dirinya bersama warga lain yang kehilangan tempat tinggal dapat kembali memulai kehidupan dari kondisi yang baru.

 

“Harapannya mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah,” tuturnya.

 

Di tengah musibah yang membuatnya kehilangan banyak barang, Zaidar juga tidak melupakan masyarakat, relawan dan petugas yang datang membantu.

 

Ia menyaksikan sendiri bantuan makanan maupun tenaga diberikan kepada warga ketika mereka berada dalam kondisi paling sulit setelah kebakaran.

 

“Kami terima kasih sekali kepada yang telah menyumbangkan makanan, menyumbangkan tenaganya, membantu kami dengan segala kekuatan orang-orang kemarin itu,” kata dia.

 

Cepatnya kobaran api juga dirasakan Sopian Adim (30), salah seorang keluarga korban.

 

Ia melihat sendiri bagaimana api membesar dalam waktu singkat hingga membuat warga di kawasan tersebut berusaha menyelamatkan keluarga sekaligus barang-barang yang masih memungkinkan untuk dikeluarkan.

 

“Rumah terbakar saat itu sangat besar dan sangat cepat sekali kejadiannya,” ujarnya.

 

Menurut Sopian, kondisi permukiman yang padat menjadi salah satu faktor yang membuat api cepat menjalar.

 

Sejumlah rumah menggunakan material kayu, sementara angin yang cukup kencang turut membuat kobaran api semakin mudah membesar dan berpindah dari satu bangunan ke bangunan lainnya.

 

Di tengah kondisi tersebut, Sopian juga mendengar beberapa suara ledakan dari area yang terbakar.

 

Ia memperkirakan suara itu kemungkinan berasal dari tabung gas LPG yang berada di rumah-rumah warga, meski dirinya tidak mengetahui secara pasti sumber ledakan tersebut.

 

Ketika api semakin sulit dikendalikan, Sopian bersama keluarganya memilih menyelamatkan diri sembari mengeluarkan barang-barang yang masih sempat dibawa.

 

Warga lainnya melakukan hal serupa, sementara petugas pemadam kebakaran berupaya menghentikan kobaran agar tidak semakin meluas.

 

Menurut Sopian, proses pemadaman juga menghadapi kendala ketersediaan air. Berdasarkan informasi yang diterimanya, petugas sempat kesulitan mendapatkan pasokan air karena Sungai Mahakam yang menjadi salah satu sumber air sedang surut dan di sejumlah bagian hanya menyisakan lumpur.

 

Kondisi kemarau yang terjadi saat itu turut membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit.

 

Meski demikian, Sopian tidak ingin menyalahkan petugas karena menurutnya mereka telah berusaha semaksimal mungkin untuk memadamkan api sekaligus membantu warga yang terdampak.

 

Ia juga menyebut kawasan tersebut sebenarnya telah dipetakan sebagai wilayah rawan kebakaran sejak sekitar tiga tahun lalu. Namun, dirinya belum mengetahui bagaimana tindak lanjut terhadap pemetaan tersebut.

 

Setelah api berhasil dipadamkan, persoalan warga belum selesai, mereka harus menghadapi kehilangan rumah, barang-barang dan berbagai kebutuhan yang selama ini menopang kehidupan sehari-hari.

 

Sebagian warga kini harus tinggal sementara di rumah keluarga maupun lokasi yang disiapkan bagi korban.

 

Bantuan pun mulai berdatangan dari masyarakat dan para donatur. Makanan, pakaian dan berbagai kebutuhan lainnya diberikan kepada warga yang terdampak untuk membantu mereka melewati hari-hari pertama setelah kehilangan tempat tinggal.

 

Bagi Sopian, bantuan tersebut memiliki arti besar karena datang ketika warga sedang berada dalam kondisi paling membutuhkan.

 

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada petugas pemadam kebakaran, relawan, masyarakat dan para donatur yang telah membantu sejak kebakaran berlangsung hingga setelah api berhasil dipadamkan.

 

“Sedikit kecilnya bantuan sangat bermanfaat bagi kami. Terima kasih kepada orang yang masih peduli terhadap korban bencana,” tutupnya. (Kriz)