Komitmen Subholding Upstream Pertamina Jaga Produksi Migas di Delta Mahakam
BALIKPAPAN- Subholding Upstream Pertamina
melalui PT Pertamina Hulu Indonesia Regional 3 Kalimantan berkomitmen untuk
menjaga produksi minyak dan gas bumi (migas) dari lapangan-lapangan di
Kalimantan.
Sejak tahun 1974 Wilayah Kerja (WK) Mahakam
sudah mulai diproduksi dan mencapai puncak produksi di era awal tahun 2000, dan
mengalami decline rate atau penurunan alamiah yang cukup tinggi.
"Untuk mempertahankan tingkat produksi,
kami melakukan berbagai upaya diantaranya borderless operation, ultra deep
Bekapai dan pengembangan sumur Manpatu yang merupakan sumur eksplorasi. Sumur
Manpatu sedang dalam proses, dengan target tahun 2026 sudah dapat beroperasi
sebesar 80 MMSCFD," ujar Chalid Said Salim, Direktur Utama PT Pertamina
Hulu Indonesia, Regional 3 Kalimantan saat melakukan kunjungan ke lapangan
Senipah, Peciko & South Mahakam (SPS), (12/04).
Lebih lanjut, Chalid menambahkan bahwa untuk
pencapaian 2021, produksi gas PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mencapai 526
MMSCFD atau 102 % terhadap RKAP dan minyak 24.800 BOPD 108% terhadap RKAP.
"Outlook 2022 target produksi gas
sebesar 508 MMSCFD dan produksi minyak
sebesar 23.700 BOPD dan target jumlah sumur pemboran 2022 sebanyak 97
sumur," ujarnya.
Wiko Migantoro, Direktur Pengembangan &
Produksi PT Pertamina Hulu Energi dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa
kehadiran subholding upstream Pertamina sebagai pejuang energi di sisi hulu,
dimana dalam kondisi saat ini sangat perlu menjalankan value creation dalam hal
efisiensi dan optimalisasi sehingga dapat membantu ekosistem bisnis Pertamina
secara menyeluruh.
"Kami mengapresiasi upaya yang dilakukan
rekan perwira semua. Setelah melihat secara langsung, saya optimis bisa menuntaskan
target yang sudah ditetapkan", ujar Wiko.
Sementara itu, Rinaldi Firmansyah Komisaris
PT Pertamina Hulu Energi menyampaikan bahwa Pertamina saat ini sudah menjadi
mayoritas yang menguasai produksi minyak dan gas nasional, sehingga perlu
menggiatkan usaha lainnya, karena bila Pertamina terganggu maka produksi
nasional juga akan terganggu.
"Cost optimization yang dilakukan oleh
Regional Kalimantan bagus sekali dan positif, agar dilanjutkan dan ditularkan
ke regional lainnya," pungkas Rinaldi.(pk)