Populasi Pesut Mahakam Semakin Memprihatinkan

img

TENGGARONG. Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) berencana akan mengusulkan Zona Pelestarian Habitat Pesut Mahakam ke Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengingat satwa yang memiliki nama latin Orcaella brevirostris ini jumlah populasinya semakain menurut.


“Ada kurang lebih sekitar 48 ribu hektar yang akan kami usulkan utnuk menjadi zona pelestarian pesut mahakam itu termasuk juga rawa-rawa,” Hal ini disampaikan  Co-Founder RASI, Danielle Kreb, kepada Poskota Kaltim, Senin, (27/11/2017).


Danielle mengatakan, hasil dari penelitain pada tahun 2016 lalu hanya ada sekitar 80 ekor lumba-lumba air tawar ini yang masih bertahan hidup di kawasan perairan mahakam, kemataian pada satwa yang di lindungi ini pun terbilang tinggi hampir mencapai 3 ekor pertahunya.


“Satu ekor Pesut Mahakam betina hanya bisa melahirkan satu ekor anak pesut dengan rentang usia ke hamilan 14 bulan, setelah itu iduk akan menyusui selama 1,5 tahun berarti kurang lebih 2-3 tahun baru bisa melahirkan lagi, tidak seperti binatang lain yang bisa melahirkan 1 kali dalam setahun, perkembangbikan pesut ini memang cukup lama,” jelas Danielle  Peneliti asal Belanda yang mengamati kehidupan Pesut Mahakam sejak 1997.

Apa bila usulan Zona Pelestarian Pesut Mahakam sudah di tentukan oleh pemerintan, maka akan ada pembatasan untuk kapal besar sepeti kapal ponton dan kapal besar lainya.


“Pembatansan itu bukan larangan melintas, kita hanya menghimbau agar tidak menaikan jumlah frekuensinya dan kita akan atur waktu pelayaranya tidak ada lagi dalam waktu bersamaan ada 2-3 kapal yang meintas di zona yang telah di tetapkan serta tidan boleh lagi stanbay di muara-muara anak sungai mahakam yang merupakan habitat pesut untuk mencari makan,” terang Danielle.

Daniel juga menghibau masyarakat yang masih bermukim di pinggiran sunagi mahakam, agar memperhatikan dan mencintai likungan dengan tidak membuang sampah lagi lansung kesungai, sampah pelastik itu tidak akan terbawa arus sungai ke laut lanjut, ini semakin memperjelek kwalitas ekosistem

“Saya perna meneliti pesut mati dan saya temui di dalam perut pesut itu terdapat sampah pelastik dan popok bayi, mohon bagi masya rakatyang masih tinggal di pingir sungai dan rakit tolong sampahnya di kumpulan dan di buang di darat langsung pada tempanya, karena sugai bukan untuk sampah,” ucapnya. aji/poskotakaltimnews.com