Dispar Kukar Mulai Petakan Desa yang Melestarikan Tradisi Lokal, Siapkan Festival Budaya Berbasis Desa

img

(Plt.Kadispar Kukar Arianto/pic:tanty)


POSKOTAKALTIMNEWS,KUKAR: Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai melakukan pemetaan terhadap desa-desa yang masih aktif melestarikan tradisi dan budaya lokal.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya penguatan identitas budaya daerah serta pengembangan potensi pariwisata berbasis masyarakat.

Plt. Kepala Dispar Kukar, Arianto, mengungkapkan bahwa pelestarian budaya tidak bisa dilepaskan dari peran desa sebagai ruang hidup tradisi yang otentik.

Sebab itu pihaknya akan mengembangkan pendekatan berbasis komunitas dengan mendukung berbagai festival budaya yang digerakkan langsung oleh desa.

“Kami sedang memetakan desa-desa yang secara aktif masih menjaga warisan budayanya. Ke depan, Pemkab Kukar akan mendorong lahirnya festival budaya yang berbasis desa sebagai bentuk apresiasi sekaligus promosi budaya lokal,” ujar Arianto, Senin (30/06/2025).

Arianto mencontohkan Desa Bukit Raya di Kecamatan Tenggarong Seberang, yang beberapa waktu lalu merayakan Hari Ulang Tahun Ke-45. Yang dimeriahkan dengan penampilan panggung hiburan mulai dari hiburan lokal hingga warisan tradisi yang perlahan mulai langka di banyak desa lain yakni Wayang Kulit.

“Tentu langkah mereka untuk menggelar acara itu menunjukkan pelestarian budaya bisa berjalan tanpa harus bergantung pada proyek-proyek besar. Dan kita patut bangga atas hal itu,” katanya.

Arianto juga mengatakan festival budaya desa seperti itu diharapkan menjadi agenda rutin, yang tidak hanya menampilkan kesenian dan tradisi setempat, tetapi juga membuka ruang partisipasi bagi generasi muda dan pelaku ekonomi kreatif di tingkat lokal.

Diakuinya kegiatan seperti itu sebenarnya kekuatan yang selama ini kurang di dukung. Sebab itu ia menilai ketika Desa sudah punya modal sosial dan budaya, tinggal menjadi tanggung jawab pemerintah hadir untuk memperkuat dan mendorong pengembangannya.

“Pelestarian seni tradisional yang digelar desa seharusnya tidak hanya terjadi dalam momen ulang tahun desa seperti di Bukit Raya, tapi perlu diagendakan,” terangnya.

Lebih lanjut, dirinya juga menyayangkan selama ini banyak desa hanya menampilkan budaya saat perayaan tertentu, tanpa pendampingan berkelanjutan atau dukungan promosi yang layak.

Menurutnya masih banyak desa yang memiliki potensi budaya kuat namun minim akses terhadap pembinaan, pelatihan, atau kerja sama dengan pelaku industri wisata. Akibatnya, kegiatan budaya hanya menjadi agenda musiman yang tidak berdampak pada ekonomi warga atau regenerasi pelaku seni.

“Kita harus ubah cara pandang. Budaya desa bukan pelengkap wisata, tapi fondasinya. Kalau ini dikelola baik, bisa jadi daya tarik utama,” tegasnya.

Dirinya juga menyampaikan pihak Dispar Kukar akan mendukung lahirnya festival budaya berbasis desa, tidak hanya perayaan tapi model festival yang dimulai dari bawah.

“Yang dilakukan warga Bukit Raya ini penting, bukan hanya untuk menjaga identitas, tapi juga sebagai peluang ekonomi kreatif. Ini bisa mendatangkan wisatawan jika dikelola dengan benar,” tambahnya.

Arianto juga berharap dengan adanya sinergi antara pemerintah desa, seniman lokal, dan sektor swasta menjadi kunci dalam pengembangan wisata yang tidak hanya sekedar pelestarian namun juga memiliki kesinambungan terhadap kekuatan ekonomi. (Adv/Tan)