Pantai Teluk Harapan Tergerus Abrasi, Mantan Ketua DPRD Madri Pani Minta Pemerintah Bangun Pemecah Ombak
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Keindahan Pantai Teluk Harapan di Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, terancam abrasi yang kian menggerus garis pantai setiap tahun.
Mantan Ketua DPRD
Berau periode 2019–2024, Madri Pani, menilai kondisi ini perlu segera direspons
pemerintah dengan membangun pemecah ombak, agar ekosistem wisata dan UMKM lokal
tidak hilang tergerus laut.
“Pantai Teluk Harapan
ramai wisatawan. Sangat disayangkan kalau keindahan pantai ini hilang begitu
saja karena abrasi. UMKM di sepanjang pantai pun bisa tergeser,” ujar Madri
Pani saat ditemui media.
Permasalahan abrasi
ini, lanjutnya, sudah sering dibahas dalam Musyawarah Rencana Pembangunan
(Musrenbang), namun belum terealisasi karena kekhawatiran proyek pemecah ombak
akan merusak terumbu karang di sekitar pantai.
“Kami paham soal
terumbu karang, tapi pemecah ombak bisa ditempatkan di area pasir putih yang
tidak mengganggu ekosistem laut,” katanya.
Selain mengingatkan
ancaman abrasi, Madri juga menyoroti lemahnya jaringan komunikasi di wilayah
tersebut. Menurutnya, Pemkab Berau
seharusnya jemput bola ke Pemerintah Pusat untuk meminta pembangunan tower jaringan,
bukan hanya mengandalkan sinyal dari Tanjung Batu.
“Kalau wisatawan
ramai, jaringan langsung down. Padahal jaringan kuat penting, bukan hanya untuk
komunikasi darurat, tapi juga agar wisatawan bisa mempromosikan Maratua lewat
media sosial. Konektivitas yang baik juga membantu pendidikan dan pelayanan administrasi
kampung di era digital saat ini,” tegasnya.
Selain hal itu, Madri
menyampaikan pula bahwa masyarakat juga menghadapi masalah air bersih, dimana
selama ini masih bergantung pada air hujan, termasuk kondisi Embung Teluk Harapan yang belum
difungsikan optimal. Warga berharap pemerintah daerah lebih serius
memperhatikan infrastruktur dasar di kawasan wisata ini.
Madri Pani
menegaskan, pemerintah perlu berterima kasih kepada warga Maratua yang masih bertahan dengan segala
keterbatasan di pulau terluar Berau tersebut.
“Masyarakat di sini
luar biasa. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap menjaga potensi wisata
Maratua. Sudah sepantasnya pemerintah hadir memberikan solusi nyata,” tutup
Madri.
Sementara itu, warga lokal Maratua, Tarisno, mengatakan abrasi di Teluk Harapan terjadi setiap tahun, terutama saat angin selatan bertiup kencang di bulan November hingga Desember. Tahun ini, abrasi disebut sudah memakan garis pantai hingga 15 meter.
“Dulu air laut belum
pernah sampai ke jalan. Sekarang, setiap musim angin selatan pasti ada abrasi.
Dalam setahun bisa bergeser sekitar satu meter,” ungkap Tarisno. (sep/FN)