Cokelat Berau Go Internasional, Valrhona Prancis Jalin Kerja Sama : Ekspor Perdana 20 Ton Biji Kakao Fermentasi
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Aroma manis cokelat dari Kabupaten Berau kini sudah tercium hingga Eropa. Setelah melewati proses panjang dan penilaian ketat, kakao Berau resmi dilirik Valrhona merupakan perusahaan cokelat premium asal Prancis yang dikenal hanya memilih bahan baku terbaik di dunia.
Kepala Dinas
Perkebunan Berau, Lita Handini, mengatakan langkah ini menjadi babak baru bagi
petani kakao lokal. “Sekitar Bulan Desember mendatang rencananya kita ekspor
perdana 20 ton biji kakao fermentasi ke Prancis. Ini kerja sama pertama dengan
Valrhona, dan pastinya jadi kebanggaan besar bagi Berau,” ujarnya bersemangat.
Proses penjajakan
kerja sama ini tidak berlangsung instan. Tim Valrhona telah beberapa kali
datang ke Berau, menelusuri kebun-kebun kakao, berbincang langsung dengan
petani, hingga memeriksa sistem budidaya di lapangan.
“Semua itu karena
mereka ingin memastikan bahwa kakao kita tidak berasal dari lahan hasil
deforestasi. Selain itu mereka tidak ingin
kandungan bahan kimia dan logam beratnya juga dan semua harus aman,” jelas Lita.
Sampel biji kakao
Berau bahkan dikirim ke laboratorium di Singapura untuk memastikan kadar logam
berat berada di bawah ambang batas internasional. Hasilnya? Lolos dengan nilai
memuaskan. Kualitas kakao Berau memang tak diragukan.
Tahun 2023, Berau
menyabet juara nasional biji kakao fermentasi terbaik, dan tahun 2025 kembali
menorehkan prestasi dengan terpilih sebagai salah satu dari sembilan kakao
terbaik Indonesia yang akan bersaing di Cocoa of Excellence Competition di
Italia.
“Cokelat Berau punya cita rasa khas perpaduan aroma buah tropis dan keasaman
seimbang. Ini yang bikin Valrhona tertarik,” tutur Lita bangga.
Di balik kesuksesan
ini, ada tangan-tangan gigih petani di Kecamatan Suaran, Birang, Kelay, dan
Long Lanuk, yang tetap setia menanam kakao meski harga pasar naik turun. Harga
biji kakao kini berada di kisaran Rp70 ribu–Rp100 ribu per kilogram, pernah menembus
Rp120 ribu/kg di puncak permintaan dunia.
“Kami dorong petani
melakukan fermentasi sendiri agar harga jual naik. Pemerintah sudah bantu alat
dan pelatihan. Tinggal semangatnya yang harus dijaga,” kata Lita.
PT Katulistiwa Agro
Serasi Sentosa (KASS) menjadi motor utama dalam pengumpulan dan ekspor biji
kakao. Perusahaan lokal ini juga dipercaya menjadi mitra resmi Valrhona dalam
ekspor perdana ke Prancis.
Lita menegaskan,
pemerintah daerah tak sekadar mengejar ekspor, tetapi ingin menumbuhkan rasa
bangga bagi petani. “Kalau ekspor dilaunching oleh Bupati, masyarakat bisa
lihat bahwa hasil kebun mereka sampai ke luar negeri. Itu motivasi luar biasa,”
ujarnya.
Dengan total luas
1.037 hektare dan produksi sekitar 800 ton per tahun, Berau kini bersiap
memperluas lahan hingga 100 hektare per tahun. Potensi pasar masih terbuka
lebar — tak hanya ke Eropa dan Amerika, tapi juga ke dalam negeri seperti Bali,
Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Perjalanan kakao
Berau membuktikan bahwa kualitas dan keberlanjutan bisa berjalan berdampingan.
Dari biji kakao hasil tangan petani lokal, kini lahir produk yang siap bersaing
di panggung dunia.
“Kalau harga tetap
stabil, petani semangat, dan pasar terus terbuka, saya yakin cokelat Berau bisa
jadi ikon baru Indonesia di pasar global,” pungkas Lita dengan optimisme.
(sep/FN)