Bupati Ingatkan Seluruh OPD, Sri Juniarsih : Jangan Lupa ASN Sebagai Pelayan Masyarakat
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Di tengah pembahasan arah pembangunan Kabupaten Berau ke depan, khususnya terkait penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027, Bupati Sri Juniarsih Mas menyelipkan pesan yang tajam sekaligus reflektif bagi seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), jangan sampai aparatur sipil negara (ASN) lupa jati dirinya sebagai pelayan masyarakat.
“Untuk itu kami
menegaskan bahwa birokrasi tidak boleh membangun jarak dengan masyarakat,
apalagi merasa “lebih tinggi” dari warga yang dilayani,” ungkap Bupati Berau
Sri Juniarsih Mas, baru-baru ini.
Seluruh OPD yang ada
itu adalah pelayan. Sebagai pelayan, tidak ada yang dirajakan. Pernyataan
tersebut menjadi semacam alarm bagi birokrasi di Berau. Sebab, menurut Sri
Juniarsih, ukuran keberhasilan pemerintahan bukan hanya pada program yang
berjalan, tetapi pada kualitas pelayanan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Karenanya kami rutin
memantau berbagai keluhan warga, terutama yang disampaikan melalui media
sosial. Dari sana, ia menangkap bahwa masih ada ketidakpuasan terhadap layanan
publik mulai dari lambatnya respons hingga koordinasi yang belum optimal,” tukasnya.
Namun alih-alih
menghindari kritik, Sri Juniarsih justru meminta jajarannya untuk menjadikannya
sebagai bahan evaluasi.
“Masyarakat ketika
berbicara di media, berbicara miring tentang kualitas pelayanan kita, itu
sebenarnya adalah suara hati dari masyarakat yang merupakan raja kita. Jadi
kita harus sigap,” ujarnya.
Ia secara tegas
mengingatkan agar ASN tidak mudah tersinggung atau bersikap defensif ketika
dikritik. Baginya, kritik adalah cermin yang menunjukkan kondisi nyata di
lapangan. Respons yang dibutuhkan bukan pembelaan, melainkan perbaikan. Dalam
konteks ini, ia menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan koordinasi
antar-OPD. Setiap persoalan yang muncul di masyarakat, kata dia, harus segera
ditindaklanjuti tanpa saling melempar tanggung jawab.
“Kami ingatkan jangan
sampai masyarakat sudah bersuara, tapi kita lambat merespons. Itu yang harus
kita perbaiki bersama,” menjadi semangat yang ia dorong dalam arahannya.
Tak hanya soal
pelayanan, Sri Juniarsih juga menyoroti isu strategis lain yang tak kalah
penting: penanganan stunting. Ia menilai, selama ini masih ada kecenderungan
program berjalan secara administratif tanpa menyentuh akar persoalan di
lapangan. Karena itu, ia meminta seluruh pihak terkait untuk mengubah
pendekatan dari sekadar menjalankan program menjadi benar-benar menyelesaikan
masalah.
“Jangan hanya sekadar
gugur kewajiban, tidak sekadar mengeluarkan anggaran, tetapi betul-betul fokus
kepada orang yang mengalami stunting. Kita harus jemput bola,” tegasnya.
Instruksi tersebut
ditujukan langsung kepada Wakil Bupati selaku Ketua Tim Percepatan Penurunan
Stunting (TPPS), serta dinas-dinas terkait agar lebih aktif turun ke lapangan.
Menurutnya,
penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi. Mulai
dari DPPKBP3A, Dinas Kesehatan, hingga pemerintah kecamatan dan kelurahan harus
bergerak dalam satu irama. Upaya pencegahan pun tidak boleh setengah-setengah.
Sri Juniarsih
menekankan pentingnya intervensi sejak dini, bahkan sejak masa remaja hingga
periode 1.000 hari pertama kehidupan fase krusial dalam menentukan kualitas
generasi ke depan.
Selain itu, edukasi
kepada masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan, menjadi tantangan tersendiri.
Ia mengakui masih ada warga yang belum memahami secara utuh bahaya dan dampak
jangka panjang stunting. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak hanya administratif,
tetapi juga persuasif dan edukatif.
Dalam kerangka besar
pembangunan daerah, Sri Juniarsih menyebut bahwa Pemkab Berau ke depan akan
fokus pada peningkatan kualitas belanja daerah. Optimalisasi dana mandatory
spending menjadi salah satu strategi agar anggaran yang digunakan benar-benar
berbasis kinerja dan berdampak nyata. Di sisi lain, reformasi birokrasi juga
menjadi prioritas utama. Ia menegaskan bahwa transformasi menuju sistem
pemerintahan berbasis digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
“Reformasi birokrasi berbasis digital menjadi harga mati untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan di Bumi Batiwakkal,” pungkasnya.
Melalui penegasan
ini, Sri Juniarsih ingin memastikan bahwa arah pembangunan Berau tidak berhenti
pada perencanaan di atas kertas. Lebih dari itu, ia menuntut perubahan cara
kerja dari yang sekadar menjalankan rutinitas menjadi birokrasi yang responsif,
adaptif, dan benar-benar hadir untuk masyarakat. Sebab pada akhirnya,
keberhasilan pemerintah bukan diukur dari banyaknya program, melainkan dari
seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh warga. (sep/FN/Advertorial)