Tiga Ormas Desak Ketua DPRD Kukar Mundur
Foto: Aksi demonstrasi tiga ormas daerah Kukar di DPRD
Kukar. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) memanas seiring menguatnya desakan dari tiga organisasi masyarakat yang turun langsung ke Kantor DPRD Kukar, Senin (4/5/2026).
Ratusan massa yang
tergabung dalam Aliansi Tiga Ormas Daerah itu datang dengan membawa tuntutan
Ketua DPRD Kukar untuk mundur dari kursi jabatannya.
Desakan tersebut mencuat
sebagai bentuk dari akumulasi kekecewaan atas sikap dan kebijakan yang dinilai
tidak sejalan dengan harapan masyarakat.
Aksi yang digelar Aliansi
Tiga Ormas Daerah yang terdiri dari Remaong Koetai Berjaya, Remaong Kutai
Menamang, dan Kayuh Baimba sejak awal sudah diwarnai ketegangan.
Massa yang datang dengan
jumlah ratusan itu tidak langsung menemukan Ketua DPRD di lokasi, sehingga
memicu kekecewaan yang perlahan berubah menjadi situasi ricuh di area kantor
DPRD.
Dalam dinamika di
lapangan, massa akhirnya setuju untuk melakukan dialog di ruang Banmus bersama
dengan ketua DPRD, Ahmad Yani dan anggota DPRD yang lain.
Upaya pertemuan pun
difasilitasi, namun kondisi di dalam ruangan tidak berjalan kondusif, emosi
massa yang sudah terbangun sejak awal kembali memuncak saat dialog berlangsung,
sehingga situasi sulit dikendalikan.
Melihat kondisi tersebut,
aparat penegak hukum mengambil langkah cepat dengan mengamankan Ketua DPRD dari
lokasi pertemuan guna mencegah potensi benturan yang lebih besar.
Setelah diamankan, Ketua DPRD tidak lagi kembali menemui massa aksi yang masih berada di sekitar gedung.
Ketua Remaong Koetai
Berjaya, Hebby Nurlan Arafat, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan respons
atas sejumlah kebijakan dan pernyataan Ketua DPRD yang dinilai tidak wajar dan
memicu keresahan di tengah masyarakat.
“Aksi damai di DPRD Kukar
pada hari ini berkaitan dengan beberapa kebijakan dan pernyataan yang dianggap
tidak wajar dari Ketua DPRD Kutai Kartanegara yang belakangan ini menjadi viral
di berbagai media,” ujarnya.
Ia mengatakan bahwa
persoalan ini tidak hanya sebatas pernyataan, tetapi juga menyangkut dugaan penyalahgunaan
tugas dan fungsi sebagai Ketua DPRD, khususnya dalam memfasilitasi organisasi
yang dinilai bermasalah dan tidak terdaftar secara resmi.
“Bahkan di Kesbangpol
Kukar sendiri organisasi tersebut tidak terdaftar, tetapi tetap diundang. Hal
inilah yang memicu konflik beberapa hari lalu hingga berujung pada persoalan
hukum,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa
tuntutan yang disampaikan aliansi bukan tanpa dasar, melainkan sebagai bentuk
sikap tegas terhadap kondisi yang dinilai sudah tidak kondusif.
“Atas dasar itu, kami
menginginkan Ketua DPRD Kukar untuk mundur dari jabatannya,”tegasnya.
Di sisi lain, Wakil Ketua
I DPRD Kukar, Abdul Rasid, menyampaikan bahwa lembaga DPRD telah menerima
seluruh aspirasi yang disampaikan oleh massa aksi.
Ia menegaskan bahwa setiap
tuntutan yang masuk akan diproses dan ditindaklanjuti sesuai dengan mekanisme
serta kewenangan yang dimiliki oleh DPRD sebagai lembaga legislatif.
“Sebagai lembaga
legislatif, DPRD Kukar, menyatakan akan menindaklanjuti aspirasi tersebut dengan
menyampaikan kepada pihak-pihak terkait sesuai dengan kewenangan yang
ada," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua
Fraksi PDI-P DPRD Kukar, Sugeng Hariadi, menilai peristiwa yang terjadi telah
menimbulkan kekecewaan di tengah masyarakat, khususnya dari kalangan ormas yang
terlibat dalam aksi.
Ia mengakui bahwa situasi
tersebut tidak terlepas dari sikap Ketua DPRD yang dianggap mencederai
perasaan, baik secara emosional maupun dari sisi kemanusiaan.
“Kami dari PDI, khususnya
saya selaku Ketua Fraksi, menyikapi bahwa apa yang dilakukan oleh Ketua DPR
mungkin telah mencederai rasa, baik perasaan hati maupun sisi kemanusiaan,”
ujarnya.
Ia mengatakan, Fraksi
PDI-P akan segera melakukan evaluasi internal serta berkoordinasi dengan DPP
untuk menentukan langkah lanjutan terkait persoalan tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa
keputusan mengenai posisi Ketua DPRD sepenuhnya berada di tangan DPP, sekaligus
menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kejadian yang terjadi.
“Dengan segala kerendahan hati, kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Kutai Kartanegara. Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran bagi kami untuk melangkah lebih baik ke depan,” tutupnya. (kriz)