Harga Obat Berpotensi Naik, Masyarakat Diminta Tak Lakukan Panic Buying
Berbagai
jenis obat terpajang di etalase salah satu apotek di Tenggarong. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Potensi kenaikan harga obat mulai menjadi perhatian di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi dan masih tingginya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor.
Meski demikian, masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak melakukan panic buying atau membeli obat secara berlebihan.
Apoteker asal Tenggarong, Nur Indah, mengatakan sejauh ini belum ada lonjakan harga yang signifikan di tingkat apotek.
Masyarakat juga masih dapat memperoleh obat-obatan yang dibutuhkan, baik obat bebas maupun obat untuk penyakit tertentu.
Menurutnya, potensi penyesuaian harga dapat terjadi secara bertahap pada beberapa jenis obat. Hal itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti biaya pengadaan bahan baku, distribusi, dan operasional.
Ia menyebut sebagian bahan baku obat di Indonesia masih didatangkan dari luar negeri sehingga biaya pengadaan turut dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ketika rupiah melemah, biaya yang harus dikeluarkan industri farmasi untuk mengimpor bahan baku menjadi lebih besar.
Kondisi tersebut kemudian berpotensi memengaruhi biaya produksi dan harga jual beberapa jenis obat, meski dampaknya tidak langsung dirasakan oleh konsumen.
“Untuk saat ini, stok obat di apotek masih aman dan masyarakat masih bisa mendapatkan obat yang dibutuhkan. Kalau pun nantinya ada penyesuaian harga, biasanya terjadi secara bertahap dan tidak langsung pada semua jenis obat,” ujarnya, Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan obat yang beredar di pasaran masih melalui proses distribusi yang cukup panjang.
Selain itu, kata dia, banyak apotek masih memiliki persediaan yang diperoleh dengan harga sebelumnya sehingga dampak penyesuaian harga tidak serta-merta langsung dirasakan masyarakat.
“Misalnya ada kenaikan biaya pengadaan, itu tidak langsung besok harga obat di apotek ikut berubah. Biasanya masih ada stok yang lama, jadi masyarakat juga tidak langsung merasakan dampaknya,” kata dia.
Di tengah kondisi tersebut, Indah mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru membeli dan menyimpan obat dalam jumlah banyak.
Menurutnya, membeli obat secara berlebihan justru tidak diperlukan karena obat memiliki masa simpan dan penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan.
“Kalau memang tidak ada keperluan mendesak, ya beli secukupnya saja. Jangan karena dengar kabar harga obat berpotensi naik, lalu langsung membeli dalam jumlah banyak,” tuturnya.
Bagi sebagian masyarakat, terutama pasien yang harus mengonsumsi obat setiap hari, informasi mengenai potensi kenaikan harga tentu menjadi perhatian tersendiri.
Sebab, obat bukan lagi kebutuhan sesekali, melainkan bagian dari pengobatan yang harus dipenuhi secara rutin.
Kondisi itu dirasakan Siti Hasanah, warga Tenggarong yang mengidap penyakit tekanan darah tinggi dan diabetes.
Ia mengaku harus mengonsumsi obat setiap hari untuk menjaga kondisi kesehatannya tetap stabil.
“Kalau saya memang setiap hari minum obat untuk darah tinggi dan diabetes. Jadi, begitu dengar ada kemungkinan harga obat naik, ya pasti kepikiran juga,” ujarnya.
Meski hingga kini obat yang dibutuhkannya masih mudah didapat di apotek, Hasanah berharap apabila nantinya terjadi penyesuaian harga, kenaikannya tidak terlalu tinggi sehingga tidak memberatkan masyarakat yang menjalani pengobatan rutin.
“Harapannya sih jangan sampai naik terlalu tinggi. Soalnya buat kami yang minum obat setiap hari, obat ini sudah jadi kebutuhan dan harus selalu tersedia,” pungkasnya. (Kriz)