Berau Jadikan Hari Lingkungan Hidup 2026 Momentum Besar Ubah Perilaku Dalam Menjaga Wajah Daerah yang Bersih dan Asri

img

Kegiatan kerja bakti massal yang dipusatkan di kawasan Tepian Sambaliung, Kecamatan Sambaliung, Jumat (19/6/2026).

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026 di Kabupaten Berau tahun ini tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan yang diisi dengan kegiatan simbolis. Lebih dari itu, pemerintah daerah menjadikannya sebagai momentum strategis untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.

 

Melalui kegiatan kerja bakti massal yang dipusatkan di kawasan Tepian Sambaliung, Kecamatan Sambaliung, Jumat (19/6/2026), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan, tidak hanya pada momen tertentu, tetapi menjadi kebiasaan yang dilakukan setiap hari.

 

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari perangkat daerah, aparat Kecamatan, pelajar, komunitas masyarakat, hingga unsur dunia usaha. Sejak pagi, area tepian sungai yang menjadi salah satu ruang publik di Sambaliung dipenuhi aktivitas gotong royong membersihkan sampah, saluran drainase, serta area yang selama ini menjadi titik penumpukan sampah.

 

Kerja bakti massal di Tepian Sambaliung bukan sekadar seremoni, tetapi gerakan bersama membangun budaya bersih yang dimulai dari kesadaran kecil di lingkungan rumah hingga ruang publik. Pemkab berau juga  menilai, gerakan ini menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran kolektif bahwa kebersihan lingkungan bukan hanya tanggung jawab satu pihak, melainkan kewajiban bersama seluruh lapisan masyarakat.

 

Wakil Bupati Berau, Gamalis, dalam kesempatan tersebut kembali menegaskan pentingnya konsistensi pelaksanaan  Gerakan Indonesia Asri (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri yang diterbitkan pada 30 Maret 2026. Menurutnya, gerakan tersebut harus benar-benar dijalankan secara nyata di lapangan, bukan hanya menjadi slogan atau formalitas administratif.

 

“Salah satu poin penting dalam gerakan tersebut adalah kebiasaan sederhana yang berdampak besar, yaitu meluangkan waktu 30 menit setiap hari Selasa pagi sebelum memulai aktivitas untuk membersihkan lingkungan sekitar, baik di lingkungan kerja, usaha, maupun rumah tangga,” ungkapnya.

 

Selain itu, setiap hari Jumat juga ditetapkan sebagai momentum gotong royong untuk membersihkan area-area publik secara bersama-sama. Gamalis menegaskan bahwa keberhasilan gerakan ini sangat bergantung pada peran aktif seluruh pihak, terutama pemerintah tingkat kecamatan, kelurahan, kampung, hingga RT, termasuk keterlibatan dunia usaha dan masyarakat secara luas.

 

“Saya harap di kesempatan ini, camat juga dapat memastikan partisipasi aktif dari kelurahan, kampung, RT, dunia usaha, dan tentu saja seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

 

Namun di balik semangat gotong royong yang terus digalakkan, Pemkab Berau masih menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan sampah. Sejumlah titik pembuangan sampah liar dan ilegal masih ditemukan di beberapa wilayah Kecamatan Sambaliung.

 

Salah satu lokasi yang menjadi perhatian khusus pemerintah berada di kawasan Jalan Oros menuju Kampung Bangun. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kebersihan lingkungan sekaligus mencoreng upaya penataan kawasan perkotaan.

 

Menurut Gamalis, persoalan sampah tidak bisa dipandang hanya sebagai masalah kebersihan semata, tetapi sudah menyangkut citra daerah yang saat ini tengah gencar dipromosikan sebagai destinasi wisata.

“Bagaimanapun hari ini kita sedang mencanangkan kebersihan kota dalam rangka untuk menjual destinasi wisata kita yang ada di Kabupaten Berau,” terangnya.

 

Ia menambahkan, daerah yang bersih dan tertata akan memberikan kesan pertama yang baik bagi wisatawan, sekaligus meningkatkan daya saing Berau di sektor pariwisata.

 

Selain persoalan sampah liar, pemerintah juga menyoroti masih rendahnya kedisiplinan sebagian masyarakat dalam menggunakan fasilitas kebersihan yang telah disediakan. Bak amrol yang telah ditempatkan di sejumlah titik masih kerap disalahgunakan. Sampah tidak dibuang dengan benar sehingga meluber ke luar dan menimbulkan kesan kumuh di lingkungan sekitar.

 

Kondisi tersebut, menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur kebersihan harus diiringi dengan peningkatan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat dalam penggunaannya.

 

“Saya berharap masyarakat dapat meningkatkan kesadaran dan kedisiplinannya agar fasilitas kebersihan yang telah dibangun oleh pemerintah dapat dimanfaatkan dan dijaga dengan baik demi kenyamanan bersama,” pungkas Gamalis.

 

Melalui momentum Hari Lingkungan Hidup 2026 ini, Pemkab Berau ingin menegaskan bahwa upaya mewujudkan daerah yang bersih, asri, dan nyaman tidak bisa hanya bergantung pada program pemerintah semata. Dibutuhkan perubahan budaya, dimulai dari hal kecil, dilakukan secara konsisten, dan dijalankan bersama-sama oleh seluruh lapisan masyarakat. Sebab pada akhirnya, wajah sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kebiasaan warganya dalam menjaga lingkungan setiap hari. (sep/FN/Advertorial)