Ketua DPRD Berau Dorong Disbudpar untuk Menyusun Kalender Festival Budaya Sejak Awal Tahun

img

Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto.

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kabupaten Berau selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia berkat keindahan Kepulauan Derawan, Maratua, Kakaban, hingga Sangalaki yang telah mendunia. Namun, di balik pesona alam tersebut, Berau juga menyimpan kekayaan budaya yang tak kalah bernilai.

 

Sayangnya, berbagai festival adat dan tradisi yang rutin digelar masyarakat di sejumlah Kampung belum mampu menjadi magnet wisata secara maksimal, karena masih terkendala promosi dan belum adanya kalender kegiatan yang tersusun secara pasti.

 

Padahal, hampir setiap tahun masyarakat di berbagai Kampung di Kabupaten Berau menyelenggarakan beragam agenda budaya, mulai dari ritual adat, pesta rakyat, pertunjukan seni tradisional, hingga perayaan yang diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan tersebut bukan hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata yang mampu mendatangkan ribuan pengunjung.

 

Namun minimnya publikasi dan kepastian jadwal pelaksanaan membuat banyak festival budaya hanya diketahui masyarakat sekitar. Bahkan tidak sedikit wisatawan yang baru mengetahui adanya kegiatan tersebut setelah acara selesai dilaksanakan.

 

Kondisi itu dinilai menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi apabila Berau ingin menjadikan sektor budaya sebagai salah satu kekuatan baru dalam pembangunan pariwisata daerah.

 

Ketua DPRD Kabupaten Berau, Dedy Okto Nooryanto, mengatakan pemerintah daerah sudah saatnya menyusun kalender budaya tahunan yang memuat seluruh agenda adat dan festival dari setiap kampung sejak awal tahun.

 

“Menurut kami kepastian jadwal menjadi faktor penting dalam membangun promosi yang efektif sekaligus memberikan kepastian kepada wisatawan untuk menyusun rencana perjalanan,” ujarnya baru-baru ini di Kantor Dewan Jalan Gatot Subroto Kelurahan Sei Bedungun.

 

Kalau jadwalnya sudah ditetapkan sejak awal tahun dalam kalender wisata, menurut Dedy, tentu akan lebih mudah melakukan promosi. Wisatawan juga bisa mengatur jadwal kunjungannya jauh-jauh hari sehingga peluang kedatangan mereka akan semakin besar.

 

“Jujur kami nilai selama ini potensi budaya Berau belum dipromosikan secara maksimal. Padahal setiap kampung memiliki karakteristik budaya yang berbeda, mulai dari adat istiadat, kesenian, hingga tradisi yang menjadi identitas masyarakat setempat,” tukasnya.

 

Keberagaman itu merupakan kekuatan yang tidak dimiliki semua daerah dan dapat menjadi alasan baru bagi wisatawan untuk datang ke Berau, tidak hanya menikmati wisata bahari tetapi juga merasakan pengalaman budaya yang autentik. Menurut Dedy, tren pariwisata saat ini telah mengalami perubahan. Wisatawan tidak lagi sekadar mencari panorama alam, tetapi juga ingin mengenal kehidupan masyarakat lokal, menyaksikan tradisi yang masih lestari, hingga menikmati atraksi budaya yang hanya bisa ditemukan di daerah tertentu.

 

Karena itu, festival budaya harus ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi pengembangan pariwisata Kabupaten Berau. "Budaya adalah identitas daerah. Kalau kita mampu mengemasnya dengan baik, maka festival budaya bisa menjadi daya tarik baru yang melengkapi kekuatan wisata alam yang selama ini sudah dimiliki Berau," katanya.

 

Lebih jauh, Dedy menjelaskan bahwa festival budaya tidak hanya memiliki nilai pelestarian tradisi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi masyarakat. Setiap penyelenggaraan festival akan menghidupkan aktivitas ekonomi di Kampung.

 

Pedagang makanan dan minuman, pelaku UMKM, pengrajin, penyedia jasa transportasi, homestay, hingga pelaku ekonomi kreatif akan memperoleh manfaat langsung dari meningkatnya jumlah pengunjung. Semakin banyak wisatawan yang datang, maka semakin besar pula perputaran uang yang terjadi di masyarakat.

 

"Festival budaya bukan sekadar seremoni tahunan. Di balik kegiatan itu ada peluang ekonomi yang sangat besar. UMKM bergerak, pedagang mendapatkan pembeli, penginapan terisi, transportasi hidup, dan masyarakat ikut merasakan manfaatnya," terangnya.

 

Namun demikian, ia mengakui bahwa salah satu persoalan utama yang masih dihadapi adalah kurang optimalnya penyebaran informasi mengenai jadwal kegiatan.

 

Sering kali agenda budaya diumumkan hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan sehingga ruang promosi menjadi sangat terbatas. Akibatnya, wisatawan dari luar daerah tidak memiliki cukup waktu untuk merencanakan perjalanan menuju Berau.

 

Karena itu, Dedy mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau menyusun kalender wisata pada event budaya yang terintegrasi dan dipublikasikan secara luas melalui berbagai media, baik media sosial, website resmi pemerintah, biro perjalanan wisata, hingga kalender wisata tingkat provinsi maupun nasional.

“Dengan demikian, seluruh agenda budaya dapat diketahui masyarakat jauh sebelum pelaksanaan,” ujarnya menyarankan.  (sep/FN/Advertorial)