Minyak Kelapa Asal Giring-Giring Berau Siap Naik Kelas Lewat Hilirisasi, DPRD Dorong Jadi Produk Unggulan Daerah

img

Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris.

POSKOTAKALTIMNEWS, TANJUNG REDEB: Harapan baru tumbuh dari kawasan pesisir Kabupaten Berau. Komoditas kelapa yang selama bertahun-tahun hanya diolah secara tradisional oleh masyarakat kini mulai bertransformasi menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Melalui program hilirisasi yang digagas Pemerintah Kabupaten Berau, minyak kelapa produksi warga Kampung Giring-Giring, Kecamatan Biduk-Biduk, dipersiapkan menjadi produk unggulan yang mampu menembus pasar modern dengan kualitas yang lebih kompetitif.

Transformasi tersebut menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat kampung. Tidak lagi sekadar menjual buah kelapa atau minyak hasil olahan sederhana, masyarakat kini didorong menghasilkan produk berkualitas yang memiliki standar pasar, legalitas, hingga daya saing yang lebih tinggi.

Langkah itu mendapat apresiasi dari Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris. Menurutnya, hilirisasi komoditas unggulan merupakan kebijakan yang harus terus diperkuat karena mampu mengubah potensi sumber daya alam menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.

Ia menilai wilayah pesisir Berau memiliki kekayaan kelapa yang melimpah, namun selama ini nilai ekonominya belum dimanfaatkan secara maksimal. Karena itu, kehadiran teknologi dan pendampingan pemerintah menjadi jawaban agar masyarakat tidak lagi hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan baku.

"Kami sangat mengapresiasi langkah pemerintah daerah yang terus mendorong hilirisasi komoditas unggulan. Potensi kelapa di wilayah pesisir sangat besar dan harus mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Jika diolah menjadi produk jadi, tentu nilai jualnya akan jauh lebih tinggi dibandingkan hanya menjual bahan mentah," ujar Gideon. Ia juga berharap pengembangan produk lokal tidak berhenti pada proses produksi semata, tetapi dibarengi dengan penguatan pemasaran, peningkatan kualitas, hingga pendampingan legalitas agar mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Berau, Tenteram Rahayu, menjelaskan bahwa minyak kelapa sebenarnya telah lama diproduksi oleh masyarakat pesisir. Namun, proses pembuatannya masih menggunakan metode tradisional sehingga kualitas produk belum mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Melalui kolaborasi antara DPMK, Tim Penggerak PKK dan Program SIGAP (Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan), masyarakat Kampung Giring-Giring kini memperoleh dukungan berupa mesin filter dan teknologi evaporasi yang mampu meningkatkan kualitas minyak kelapa secara signifikan. Teknologi tersebut membuat minyak kelapa yang sebelumnya berwarna kekuningan kini berubah menjadi lebih bening, jernih, serta bebas dari aroma tengik. Hasil akhirnya pun menyerupai minyak kelapa komersial yang telah beredar di pasaran.

"Hasilnya tidak lagi berwarna kuning, tetapi jernih seperti minyak komersial dan tidak berbau tengik. Ini menjadi salah satu bentuk peningkatan kualitas produk masyarakat melalui teknologi," jelas Tenteram.

Menurutnya, penggunaan teknologi modern bukan sekadar mempercantik tampilan produk. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi hilirisasi agar komoditas kelapa memiliki nilai tambah dan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.

Selama ini, sebagian besar hasil kelapa masyarakat hanya dijual sebagai bahan baku dengan harga yang relatif rendah. Padahal, setelah diolah menjadi minyak kelapa berkualitas, nilai jualnya dapat meningkat berkali-kali lipat sehingga memberikan keuntungan yang lebih besar bagi pelaku usaha di tingkat kampung.

Saat ini, DPMK juga tengah mendampingi proses penerbitan izin edar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terhadap produk minyak kelapa asal Kampung Giring-Giring. Legalitas tersebut menjadi salah satu syarat penting agar produk dapat dipasarkan secara lebih luas, termasuk memasuki jaringan ritel modern maupun pasar di luar Kalimantan Timur.

"Kami sedang mendampingi proses izin BPOM. Setelah seluruh legalitas terpenuhi, kami optimistis produk ini mampu menjangkau pasar yang lebih luas karena kualitasnya sudah semakin baik," katanya. Selain kualitas, peluang pasar minyak kelapa juga dinilai semakin terbuka. Tren masyarakat yang mulai beralih ke produk pangan alami dan lebih sehat menjadi kesempatan besar bagi minyak kelapa untuk bersaing.

Menurut Tenteram, minyak kelapa memiliki keunggulan karena berasal dari bahan alami dan dianggap lebih sehat dibandingkan minyak goreng berbahan sawit. Meskipun memiliki harga yang relatif lebih tinggi, permintaan terhadap produk sehat terus mengalami peningkatan. "Sekarang masyarakat sudah semakin sadar pentingnya pola hidup sehat. Memang harga minyak kelapa lebih tinggi dibandingkan minyak sawit, tetapi ada segmen pasar tersendiri yang memang mencari produk-produk alami seperti ini," ungkapnya.

Keberhasilan pengembangan minyak kelapa di Kampung Giring-Giring pun tidak akan berhenti di satu wilayah. DPMK Berau menargetkan program hilirisasi dapat diperluas ke berbagai kampung pesisir lain yang juga memiliki potensi kelapa melimpah. Beberapa kawasan seperti Maratua, Teluk Sumbang, Biduk-Biduk, hingga kampung-kampung pesisir lainnya telah masuk dalam peta pengembangan. Hanya saja, saat ini pendampingan secara intensif baru difokuskan di Kampung Giring-Giring melalui dukungan Program SIGAP.

"Potensi kelapa sebenarnya ada di banyak wilayah pesisir Berau. Target kami seluruh kawasan yang memiliki potensi bisa mendapatkan pendampingan secara bertahap sehingga manfaat hilirisasi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat," jelasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan program hilirisasi tidak bisa hanya mengandalkan satu instansi. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah kampung, Program SIGAP, Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag), pelaku usaha, hingga sektor swasta agar pengembangan komoditas unggulan berjalan secara berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut tidak hanya diarahkan pada komoditas kelapa, tetapi juga produk unggulan lainnya seperti kakao dan jagung yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tinggi.

"Target kami bukan hanya menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga menciptakan ekonomi kampung yang lebih mandiri. Karena itu kami membuka ruang kolaborasi dengan semua pihak agar potensi lokal benar-benar menjadi kekuatan ekonomi baru bagi Kabupaten Berau," tutup Tenteram.

Dengan dukungan teknologi, pendampingan, legalitas, serta kolaborasi lintas sektor, minyak kelapa asal Kampung Giring-Giring kini tidak lagi dipandang sebagai produk rumahan semata. Komoditas unggulan masyarakat pesisir itu perlahan mulai menapaki jalan menuju pasar modern, sekaligus menjadi bukti bahwa hilirisasi mampu mengubah potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi yang menjanjikan bagi masa depan Kabupaten Berau. (sep/FN/advertorial)