SPPG Sebulu Ulu Hentikan Operasional Pasca Insiden Dugaan Keracunan Massal MBG, Tim Gabungan Lakukan Evaluasi
Tim Gabungan saat
melakukan evaluasi di SPPG Sebulu Ulu Yayasan Wadah Lumbung Inklusi. (Kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sebulu Ulu menghentikan sementara operasionalnya setelah insiden gangguan kesehatan yang dialami puluhan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara pada Senin (3/8/2026).
Penghentian layanan
dilakukan bersamaan dengan evaluasi yang dilakukan tim gabungan dari Dinas
Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur imur, Badan Gizi Nasional (BGN) Kalimantan
Timur, Dinkes Kukar, dan Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Selasa
(4/8/2026).
Evaluasi dilakukan
sehari setelah puluhan siswa dan penerima manfaat lainnya mengeluhkan mual,
muntah, pusing, hingga sakit perut usai mengonsumsi makanan MBG.
Tim menelusuri
seluruh tahapan penyelenggaraan, mulai dari bahan baku, proses pengolahan,
penerapan standar sanitasi, hingga sistem distribusi makanan.
Kepala SPPG Sebulu
Ulu Yayasan Wadah Lumbung Inklusi, Rahmatullah Ananda Putra, mengatakan
penghentian operasional dilakukan untuk mendukung proses pendalaman yang masih
berlangsung.
Seluruh aktivitas
produksi dihentikan hingga ada keputusan lanjutan dari pihak berwenang.
"Kami masih
menunggu hasil pendalaman dan pengumpulan data. Setelah itu baru menunggu
arahan lebih lanjut dari pimpinan," ujarnya.
Pada hari kejadian,
dapur SPPG Sebulu Ulu memproduksi 1.834 porsi makanan yang didistribusikan ke
10 sekolah dan enam titik layanan, termasuk posyandu.
Menu yang disajikan
terdiri atas nasi putih, telur, pentol, tahu, dan sayur dengan proses memasak
dimulai sekitar pukul 01.00 WITA, sedangkan distribusi dilakukan mulai pukul
07.30 WITA.
Putra menjelaskan,
setiap menu telah melalui pemeriksaan organoleptik sebelum didistribusikan.
"Kami mengikuti
SOP yang berlaku. Di sini dilakukan pengecekan organoleptik terlebih dahulu,
setelah itu baru didistribusikan. Di sekolah juga ada PIC sekolah yang ikut
mencicipi sebelum makanan dibagikan," tuturnya.
Di tengah
berkembangnya dugaan mengenai salah satu menu, ia memastikan seluruh bahan
pangan dipasok setiap hari sehingga tidak disimpan dalam waktu lama.
"Untuk bahan
baku kami restok setiap hari, jadi selalu baru dan tidak disimpan lama.
Pentolnya kami buat sendiri, bukan produk frozen," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala
Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufida menjelaskan pihaknya menangani dua aspek
sekaligus, yakni pelayanan kesehatan terhadap para pasien dan penyelidikan
epidemiologi untuk mengetahui penyebab kejadian.
Pasien pertama
tercatat datang ke puskesmas Sebulu I sekitar pukul 09.14 WITA, kemudian
jumlahnya terus bertambah hingga malam.
Data sementara
mencatat 85 orang mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Sebanyak 82 orang
menjalani rawat jalan, sementara tiga lainnya masih dirawat inap.
Secara umum, gejala
yang dialami berupa mual, muntah, pusing, dan sakit perut.
"Seluruh pasien
sudah ditangani. Obat-obatan maupun cairan infus yang dibutuhkan tersedia dan
mencukupi. Gejalanya khas keracunan makanan, tetapi secara umum kondisinya
tidak berat dan korban masih bisa diajak berkomunikasi," jelasnya.
Untuk kepentingan
penyelidikan, tim kesehatan mengamankan dua paket makanan utuh sesuai menu yang
dibagikan kepada para penerima manfaat.
Sampel tersebut telah
diserahkan ke Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM), sementara
penyelidikan di lapangan mencakup pemeriksaan bahan baku, proses memasak,
sanitasi dapur, hingga wawancara terhadap petugas pengolah makanan.
"Sampelnya sudah
kami ambil dan sudah diserahkan ke Balai POM. Yang berwenang melakukan
pemeriksaan laboratorium adalah Balai POM," ujarnya.
Menurutnya, SPPG
Sebulu Ulu sebelumnya telah mengantongi sertifikat laik sehat dan rutin
mendapat pembinaan serta pemantauan dari Dinas Kesehatan bersama puskesmas.
Karena itu, kata dia,
penyebab pasti kejadian masih harus dibuktikan melalui hasil laboratorium.
"Kalau pun
banyak yang menyebut pentol, belum tentu itu penyebabnya. Ada yang makan pentol
tidak mengalami gejala, ada juga yang mengalami gejala. Jadi kami menunggu
hasil laboratorium," tegasnya.
Di tengah proses
investigasi yang masih berlangsung, sebagian penerima manfaat yang sempat
menjalani perawatan mulai menunjukkan perkembangan kondisi.
Salah satu orang tua
korban, Nur Helva (45), mengatakan anaknya mulai mengeluhkan sakit perut
setelah mengonsumsi menu MBG yang terdiri atas nasi, telur, pentol, tahu, dan
sayur sekitar pukul 10.00 WITA.
Namun, anaknya hanya
sempat memakan satu butir pentol karena mengaku rasanya tidak enak.
"Dia baru makan
satu butir pentol, katanya rasanya tidak enak, lalu langsung dimuntahkan.
Setelah itu muncul muntah, pusing, dan sakit perut," tuturnya.
Meski sempat menahan
sakit hingga pulang sekolah, sang anak akhirnya dibawa ke Puskesmas Sebulu I
sekitar pukul 14.00 WITA.
Setelah menjalani
observasi selama sekitar satu jam dan kondisinya belum membaik, dokter
memutuskan untuk merawatnya.
Ia memastikan bahwa
anaknya tidak memiliki riwayat penyakit serius sebelumnya.
Sebagai pekerja
harian lepas, ia berharap ada perhatian dari penyelenggara terhadap keluarga
yang harus mengeluarkan biaya selama mendampingi anak menjalani perawatan.
"Kalau memang
memungkinkan ada bantuan dari penyelenggara untuk biaya yang kami keluarkan
tentu kami sangat bersyukur. Kami kerja harian lepas, kalau tidak bekerja ya
tidak ada penghasilan," kata dia.
Meski demikian, ia
mengaku tidak menginginkan MBG dihentikan. Menurutnya, yang perlu dilakukan
adalah memperbaiki kualitas makanan agar kejadian serupa tidak terulang.
"Saya tidak
menuntut program MBG dihentikan silakan saja kalau memang mau dilanjutkan. Tapi
tolong lebih teliti lagi, terutama soal gizinya. Sebelum makanan disajikan ke
anak-anak harus benar-benar dipastikan layak atau tidak untuk dikonsumsi,"
ujarnya.
Ia juga berharap penyelenggara menghadirkan menu yang lebih beragam dengan tetap mengutamakan kualitas bahan pangan dan kesegaran makanan.
"Kalau
menyalahkan seratus persen juga tidak bisa. Yang saya harapkan, pihak-pihak
terkait memperbaiki lagi kualitas makanan untuk anak-anak. Kalau memang ada
yang kurang, ya diperbaiki supaya ke depan lebih baik," pungkasnya. (Kriz)