Dari Potensi Desa Jadi Produk Unggulan Daerah, DPMD Kukar Perkuat Peran BUMDes dan UMKM

img

Penandatanganan komitmen bersama pengembangan produk unggulan desa di Kembang Janggut. (Doc. Solidadidat Indonesia)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Potensi yang tumbuh dari desa di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai diarahkan memiliki nilai ekonomi yang lebih besar.

 

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar mendorong pemerintah desa bersama Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan pelaku UMKM mengembangkan produk unggulan masing-masing agar tidak berhenti di tingkat lokal, tetapi dapat berkembang menjadi produk unggulan daerah.

 

Langkah tersebut salah satunya terlihat di Kecamatan Kembang Janggut melalui Forum Puncak Workshop One Village One Product (OVOP) yang digelar di BPU Kecamatan Kembang Janggut, Kamis (1/10/2026).

 

Kegiatan ini mempertemukan pemerintah daerah, pemerintah desa, koperasi, perbankan, dunia usaha, dan mitra pembangunan untuk memperkuat pengembangan usaha masyarakat di 11 desa.

 

Kegiatan tersebut merupakan agenda puncak rangkaian pendampingan Program POWERRR (Palm Oil & Women's Equity Through Resources Right and Representation) yang dilaksanakan Solidaridad Indonesia bersama Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera.

 

Kepala DPMD Kukar, Arianto mengatakan, kegiatan di Kembang Janggut merupakan hasil kolaborasi pemerintah kecamatan dengan sejumlah pihak ketiga, khususnya perusahaan.

 

Inisiatif tersebut kemudian menjadi ruang untuk mengembangkan konsep penguatan industri berbasis potensi lokal di tingkat kecamatan.

 

“Pak Bupati kan selalu menyampaikan mengenai program One Village One Product. Hal tersebut kemudian disambut oleh teman-teman di kecamatan dengan mengembangkan konsep One District One Industry, yaitu setiap kecamatan memiliki satu industri unggulan,” ujarnya saat ditemui di Tenggarong pada Jumat (2/10/2026).

 

Kembang Janggut menjadi wilayah pertama yang menerapkan pendekatan tersebut.

 

Ke depan, lanjutnya, konsep ini akan dikaitkan dengan peran pemerintah desa sehingga pengembangan industri di tingkat kecamatan tetap berangkat dari potensi yang ada di desa.

 

“Ini pertama kali dilakukan di Kecamatan Kembang Janggut. Nantinya kegiatan tersebut akan dikolaborasikan dengan pemerintah desa,” ucapnya.

 

DPMD Kukar mendorong pemerintah desa untuk tidak berjalan sendiri dalam mengembangkan potensi ekonomi.

 

BUMDes dan UMKM yang sudah ada di desa dapat dilibatkan untuk mengolah dan mengembangkan produk yang memiliki potensi menjadi unggulan.

 

“Kita mendorong pemerintah desa di setiap desa untuk bersama-sama dengan UMKM dan BUMDes yang mereka miliki mengembangkan produk-produk unggulan,” jelasnya.

 

Menurutnya, proses tersebut diharapkan menghasilkan produk yang tidak hanya dikenal di tingkat desa.

 

Produk yang memiliki potensi akan terus dikembangkan sehingga dapat menjadi bagian dari produk unggulan daerah.

 

“Produk tersebut kemudian kita dorong agar bisa menjadi produk unggulan desa dan pada akhirnya menjadi produk unggulan daerah,” ungkapnya.

 

Pengembangan potensi lokal tersebut juga tidak akan berhenti di Kembang Janggut.

 

DPMD Kukar menyiapkan perluasan pendekatan tersebut ke seluruh wilayah Kukar dengan menyesuaikan potensi masing-masing kecamatan, desa dan kelurahan.

 

“Program ini nantinya akan kita dorong di 20 kecamatan, 193 desa, dan 44 kelurahan,” tegasnya.

 

Sementara itu, Senior Manager Agriculture Carbon Solidaridad Indonesia, Edy Hartono menyampaikan apresiasi atas capaian pendampingan Program POWERRR yang telah berjalan di 11 desa Kecamatan Kembang Janggut.

 

Menurutnya, pendampingan menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam pengembangan ekonomi desa.

 

Prosesnya tidak hanya menyentuh kemampuan produksi, tetapi juga mencakup manajemen usaha, penyusunan rencana bisnis hingga penguatan akses terhadap pasar dan pembiayaan.

 

“Yang ingin kita bangun bukan hanya kemampuan menghasilkan produk, tetapi bagaimana perempuan-perempuan di desa memiliki ruang untuk mengambil keputusan dalam usaha dan memiliki akses terhadap sumber daya yang mereka perlukan,” ujarnya.

 

Ia berharap kolaborasi yang terbentuk selama pendampingan dapat terus berjalan setelah rangkaian program berakhir.

 

Keberlanjutan jejaring tersebut dinilai penting agar produk yang telah dikembangkan memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas.

 

“Setelah pendampingan ini selesai, tantangannya adalah bagaimana jejaring yang sudah terbentuk tetap hidup. Kami berharap pemerintah, koperasi, perbankan dan dunia usaha dapat terus membuka ruang agar produk mereka bisa masuk ke pasar yang lebih luas,” jelasnya.

 

Forum puncak Workshop OVOP tersebut turut ditandai dengan penandatanganan dokumen komitmen bersama yang melibatkan pemerintah daerah, pemerintah desa, koperasi, perbankan, dunia usaha dan mitra pembangunan.

 

Komitmen tersebut mengatasnamakan para perempuan pelaku UMKM dari 11 desa di Kembang Janggut.

 

Sebelumnya, pendampingan dilakukan melalui pemetaan potensi, penguatan kelompok, pelatihan manajemen, penyusunan rencana bisnis, perbaikan kemasan hingga pembukaan akses pasar dan pembiayaan.

 

“Harapannya, kolaborasi ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Produk yang sudah dikembangkan bersama masyarakat harus terus mendapat dukungan, sehingga perempuan pelaku UMKM di desa bisa memperluas usahanya dan masuk ke pasar yang lebih besar,” tutupnya. (Adv/Kriz)