2020 Balikpapan Diprediksi Kesulitan Air Baku

img

BALIKPAPAN,  Ketersediaan air baku untuk Kota Balikpapan saat ini masih bisa dikendalikan dari sejumlah sumur dalam, waduk Manggar dan waduk Teritip namun ditahun 2020 Balikpapan benar-benar akan kesulitan air baku karena tingginya petumbuhan penduduk dan terjadinya migrasi cukup besar. Ini merupakan prediksi Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (KadisLH)  Kota Balikpapan, Suryanto, menjelaskan, berbagai pembangunan waduk baru seperti di antaranya Waduk Teritip, Waduk Wain Bugis, Waduk Samboja termasuk waduk yang menjadi andalan utama warga kota Balikpapan adalah waduk Manggar. Keberadaannya dianggap belum bisa maksimal berfungsi sebagai penyedia sumber air bersih untuk pengolahan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). 

‘’Kami pernah bertemu dengan PDAM selanjutnya mengkaji ketersediaan air baku untuk Balikpapan dan hasil pembicaraan itu memutuskan kalau Balikpapan masih tetap krisis air meski ada beberapa waduk yang dibangun,’’ ujar Suryanto.

Tahun 2020 Balikpapan masih krisis air untuk itu kita harus lebih gesit lagi mencari sumber air baku untuik kepentingan masyarakat Balikpapan termasuk mengolah air laut menjadi air konsumsi. 

"Tidak ada pilihan lain jika nanti pengambilan air dari luar Balikpapan masih terkendala,’’ ujarnya saat berlangsungnya  media briefing The Nature Conservancy, di Hotel Sagita Balikpapan. 

Berdasarkan hitungan PDAM Balikpapan, pasokan air yang mampu dihasilkan selama satu tahun seperti di 2016 lalu, dari Waduk Manggar sebesar 1.160 liter per detik  sementara menginjak tahun 2017 ini, Waduk Manggar dan Waduk Teritip  masih mampu hasilkan produksi air sebesar 1.558 liter per detik untuk waduk Teritip.

Menurut Suryanto, mantan Kepala Bappeda Balikpapan, ketidakmampuan memenuhi sumber air faktor yang jadi penyebab selain adanya pertumbuhan penduduk yang meningkat juga karena keterbatasan infrastruktur yang mapan, sebagai langkah solusi Balikpapan membangun sumur dalam disejumlah titik.

Menurut dia, pilihan Balikpapan untuk melakukan desalinasi air laut yang dimanfaatkan untuk pengolahan air sangatlah tinggi investasinya, ini bisa saja dilakukan namun harus kita tahu kalau investasinya sangat tinggi sekalui, Balikpapan mesti menyiapkan anggaran yang melimpah serta pasokan daya listrik yang prima. Bandingkan dengan biaya produksi air yang sekarang dilakukan PDAM satu meter per kubik yang cukup keluarkan dana Rp. 8 ribu, sedangkan hitungan perkiraan produksi air dari proses desalinasi air laut, biayanya butuh sekitar Rp 24 ribu/ meter kubik, biayanya sangat besar sekali bisa menjadi  dua kali lipat. 

"Kalau kita jual air hasil dari desalinasi air laut pasti akan tinggi, kita harus lihat terkait pendapat masyarakat, apakah akan wajar kita kasih harga tinggi, tapi itu kalau kita dapatkan air hasil dari desalinasi," tutur Suryanto.

Andaikan Balikpapan tidak memiliki modal besar membangun desalinasi air laut menjadi air tawar, maka  apa yang 

diupayakan desalinasi hanya sekedar rencana, padahal bahaya krisis air sudah dekat di mata, olehnya jalan satu-satunya adalah cari sumber air baku alternative dan ini tidak hanya Pemkot Balikpapan yang memikirkannya tapi PDAM harus juga ikut mencarikan solusi masalah ini.

"Anggaran kita sekarang saja sudah terjun bebas, berkurang banyak itu belum kita keluarkan kost untuk mengolah air laut jadi air tawar yang bisa dikonsumsi, kita lihat saja di dinas kami yang tadi puluhan miliar sekarang anggarannya hanya disediakan sekitar dua miliar saja," ujarnya. 

Di forum The Nature Conservancy itu, Nurul Hidayah, Penasehat Green Generation mengungkapkan, pihaknya melibatkan generasi muda seperti kaum remaja dan pemuda, green generation ini nantinya akan berperan aktif untuk ikut mencarikan solusi soal kesulitan air bagi satu daerah, contoh gerakan ini  akan  memanfaatkan air bekas wudhu di beberapa sekolah sebagai pengairan tanaman.

"Air bekas wudhu tidak dibuang begitu saja tapi di tampung lalu dimanfaatkan lagi," katanya. Gerakan yang dianggap sederhana itu kata  Nurul,  akan memberi kontribusi langkah kecil dalam upaya mengatasi krisis air yang  menghantui Kota Balikpapan.(max-poskotakaltimnews.com)