Komisi IV Dukung Keputusan Gubernur Menunda Pembelajaran Tatap Muka
Rusman Yaqub Ketua
Komisi IV DPRD Kaltim.(ist)
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,
SAMARINDA -
Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Timur Rusman Yaqub mendukung rencana
Gubernur Kaltim Isran Noor untuk menunda Pembelajaran Tatap Muka ( PTM), meski
telah diagendakan Pemerintah Pusat dilaksanakan pada awal tahun pelajaran baru
Juli mendatang.
Rusman Yaqub menilai alasan yang disampaikan Gubernur Kaltim Isran Noor terkait penundaan PTM tersebut cukup beralasan, yakni pandemi COVID-19 yang belum meeada di wilayah Kaltim.“Kami mendukung rencana pak gubernur sepanjang itu demi kebaikan bersama,” kata Rusman Yaqub di Samarinda, Sabtu 1 Mei 2021.
Politikus
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut menilai tren kasus COVID-19 di
Kaltim sampai saat ini masih fluktuatif, karena setiap hari selalu ada
penambahan kasus positif COVID-9.
Bardasarkan
data terakhir Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim per Jumat (23/4) akumulasi kasus
COVID-19 di Kaltim mencapai 67.582 atau 1.816 kasus per 100 ribu penduduk
dengan positif rate 25,7 persen dari kasus diperiksa.
Sedangkan
total kesembuhan 63.955 atau 94,6 persen dari akumulasi kasus positif dan
kematian 1611 atau 2,4 persen dan masih ada 2.016 kasus aktif yang masih
menjalani perawatan maupun isolasi mandiri.“Statistik tersebut tak bisa
disepelekan. Artinya, COVID-19 belum terkendali,” kata Rusman.
Meski
demikian, Rusman Yaqub berharap pemerintah dapat segera mencari formula terbaik
bila hendak memperpanjang pembelajaran daring, sebab pembelajaran tatap muka di
Kaltim sudah tak terlaksana lebih setahun, sejak kasus COVID-19 muncul di
provinsi ini Maret 2020.
Sejak
itu, pembelajaran diganti secara daring. Jika tak ada inovasi, dikhawatirkan
yang merugi para pelajar. "Saya takutnya bisa ada efek samping yang tak
diinginkan,” kata Rusman.
Efek samping dimaksud Rusman, yakni learning loss atau pembelajaran yang tidak optimal, apalagi ada pemberlakuan kurikulum darurat karena pandemi COVID-19."Ancaman ini bukan hanya mengincar murid SD saja, tapi semua pelajar, mulai TK hingga SMA," tuturnya.
Selain
itu, tidak semua wilayah di Kaltim mendapat dukungan sarana dan prasarana yang
bagus untuk pembelajaran daring, karena tidak tersedianya fasilitas internet
atau kondisi siswa yang tidak memiliki gawai.(adv/dn)