Dinas Perkebunan Berau Fokus Prioritaskan Kakao dan Kelapa Dalam Tahun Ini
Ilustrasi perkebunana
kakao. (pic:ist)
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Dinas Perkebunan Kabupaten Berau kembali menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan Kakao dan Kelapa Dalam sebagai komoditas unggulan daerah pada tahun ini.
Sekretaris Dinas Perkebunan Berau,
Mansur Tanca, menyatakan bahwa Kakao, yang dikenal dengan kualitas unggulnya,
akan menjadi fokus utama dengan target bantuan bibit mencapai 14.840 batang
pohon. Sementara itu, Kelapa Dalam mendapatkan alokasi 2.000 batang pohon.
"Kami masih fokus pada kakao
karena komoditas ini memiliki kualitas unggul dibandingkan dengan komoditas
lain. Selain kakao, komoditas kelapa sawit, lada, dan kelapa dalam juga menjadi
unggulan. Namun, dari lima komoditas tersebut, kakao dan kelapa dalam menjadi
prioritas utama," ujar Mansur Tanca, Minggu (21/7/2024).
Kupaten Berau telah menyiapkan
berbagai program bantuan, termasuk bibit dan prasarana seperti pupuk, untuk
mendukung para petani. Untuk tahun ini, Ia menyediakan program bantuan bibit
kakao dan prasarana pendukungnya, termasuk pupuk.
Program ini diharapkan dapat
membantu para petani meningkatkan produktivitas kebun kakao mereka, sehingga
dapat menghasilkan kakao berkualitas tinggi yang diakui secara nasional.
Perkembangan kakao di Kabupaten Berau sempat mengalami penurunan luas lahan
karena banyak petani yang beralih ke komoditas lain seperti sawit.
Namun, dengan harga kakao yang
semakin baik, banyak petani kini kembali bersemangat menanam kakao. Salah satu
inovasi yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan adalah pemberian kotak fermentasi
sebanyak 70 unit yang disalurkan ke tiga kampung di dua kecamatan untuk
mengelola kakao guna memperbaiki mutu asli kakao.
"Kakao kita termasuk yang
terbaik di Indonesia. Kami telah mendapatkan indeks biografis dan diakui oleh
Kementerian Hukum," ungkap Mansur.
Untuk mendukung pengembangan sumber daya petani, Dinas Perkebunan juga mengadakan berbagai pelatihan yang mencakup budidaya, kelembagaan, dan pengendalian hama penyakit. Fokus utama pelatihan ini adalah kampung-kampung yang menjadi sentra Kakao, seperti Suaran, Gunung Tabur, Nyapa, Long Lanuk, Tumbit Melayu, dan Dayak.
“Kami lebih fokus ke daerah yang
tidak terjangkau oleh sawit. Pelatihan ini diharapkan dapat memberikan
pengetahuan dan keterampilan kepada petani, sehingga mereka bisa mengelola
kebun kakao dengan lebih baik,” tambah Mansur. (Sep/Nad/Advetorial)