Danamon Ajak Nasabah Waspada Quishing Lewat Kampanye #JanganKasihCelah
BALIKPAPAN, POSKOTAKALTIM : Di era digital yang semakin
maju, ancaman serangan siber juga kian berkembang. PT Bank Danamon Indonesia
Tbk (Danamon) melalui kampanye #JanganKasihCelah mengedukasi nasabah untuk
menghadapi tren penipuan berbasis social engineering yang dikenal sebagai Quishing
atau QR Code Phishing.
Chief Digital Officer Danamon, Andreas Kurniawan, menjelaskan bahwa Quishing adalah metode penipuan baru yang menggabungkan teknologi kode QR dengan trik manipulatif untuk mencuri informasi korban.
“Pandemi COVID-19 mempercepat adopsi kode QR dalam transaksi finansial.
Sayangnya, hal ini membuka peluang bagi pelaku kejahatan untuk
menyalahgunakannya,” jelas Andreas.
Lebih lanjut,Quishing memanfaatkan
kode QR palsu yang mengarahkan korban ke situs web berbahaya atau halaman yang
meniru situs resmi. Di sana, korban diminta memasukkan data pribadi atau bahkan
melakukan pembayaran ke akun tidak resmi. Kasus ini berpotensi merugikan korban
secara finansial langsung.
“Kode QR memang memudahkan
transaksi, tetapi kita harus waspada terhadap penyalahgunaan. Beberapa pelaku
kejahatan menggunakan kode QR palsu untuk mencuri informasi atau melakukan
penipuan,” tambah Andreas.
Langkah Lindungi Diri dari
Quishing
Danamon memberikan beberapa tips
untuk membantu nasabah melindungi diri:
Gunakan
Aplikasi Resmi
Lakukan pemindaian QR hanya
melalui fitur QRIS di aplikasi resmi seperti D-Bank PRO. Hindari menggunakan
kamera smartphone langsung untuk transaksi finansial.
Periksa
Keaslian Situs Web
Pastikan situs yang diakses menggunakan
kode QR adalah resmi, seperti www.danamon.co.id untuk layanan Danamon. Jangan
masukkan data di situs yang mencurigakan," terangnya.
Pantau
Riwayat Transaksi
Segera laporkan aktivitas mencurigakan ke Hello Danamon di 1-500-090. Jika transaksi QRIS menunjukkan penerima yang salah, segera batalkan transaksi.
Perbarui Keamanan Perangkat
Pastikan perangkat selalu diperbarui dengan versi perangkat lunak terbaru untuk meminimalkan risiko siber," pungkasnya. (mid)