Dayang Donna : Banyak Pesan yang Ditinggalkan Ayah

img

Dayang Donna Walfiares Tania/pic:tanty

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Kabar duka datang dari Kalimantan Timur. Mantan Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, berpulang ke hadirat Ilahi. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, terutama bagi keluarga yang selama ini merasakan langsung keteguhan, nasihat, dan kasih sayangnya. 

 

Sang putri tertua, Dayang Donna Walfiares Tania, mengenang banyak pesan berharga yang ditinggalkan oleh sang ayah semasa hidup.

 

Kepada awak media Senin (23/11/2024) usai pemakaman sang ayah, Donna menceritakan bagaimana sosok sang ayah selalu hadir dengan wejangan yang penuh makna, bahkan di saat-saat terakhir hidupnya. 

 

"Sebenarnya pesan-pesan itu setiap hari ada muncul, tapi saya baru sadar sekarang. Papa selalu bilang bahwa sebagai anak tertua, saya harus menjadi kepala rumah tangga, memberi contoh yang baik untuk adik-adik dan anak-anak," ujar Donna dengan suara bergetar menahan kesedihannya.

 

Donna juga menceritakan bagaimana sang ayah sering memberi arahan tentang cara menghadapi berbagai masalah, baik dalam keluarga maupun dunia usaha.

 

"Papa selalu bilang, setiap masalah pasti ada solusinya, selesaikan dengan cara yang benar dan adil. Itu prinsip yang selalu dia pegang," katanya.

 

Donna mengatakan salah satu momen paling membekas bagi Donna adalah ketika dirinya kalah dalam kontestasi Pilkada. Saat itu, sang ayah datang dengan nasihat penuh ketegaran. 

 

"Beliau bilang, kalah menang itu biasa. Papa juga sudah mengalami jatuh bangun. Yang penting terus berjuang. Semua perjuangan pasti ada biayanya, dan jangan pernah takut," kenangnya. 

 

Nasihat itu, menurut Donna, menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak datang dengan mudah dan setiap langkah harus dijalani dengan penuh kesabaran serta keikhlasan. 

 

Dalam cerita yang penuh haru, Donna mengungkap kebingungannya ketika sang ayah meminta untuk dibawa ke Balikpapan saat kondisinya memburuk, meskipun ada rumah sakit besar di Samarinda. 

 

"Waktu itu saya sempat bertanya-tanya, kenapa harus ke Balikpapan? Tapi setelah saya pulang membawa jenazah papa, saya baru sadar. Beliau ingin pulang lewat jalan tol, merasakan hasil karyanya. Bahkan saat itu, kami diarahkan melewati jembatan kembar yang juga merupakan salah satu hasil kerja keras beliau," ungkap Donna dengan mata berkaca-kaca.

 

Bagi Donna, perjalanan terakhir itu bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan simbol dari warisan besar yang ditinggalkan sang ayah untuk Kalimantan Timur. 

 

Menurutnya, dalam setiap momen kebersamaan, terutama saat makan bersama atau diskusi di pagi hari, Awang Faroek selalu menyelipkan pesan bijaksana kepada dirinya. 

 

"Papa bilang, kalau nanti maju Pilkada lagi, dekati masyarakat dengan tulus. Tinggalkan semua kemewahan, jangan sombong, dan benar-benar merakyat. Karena membangun daerah itu butuh perjuangan, seperti yang beliau alami dulu," ujar Donna. 

 

Awang Faroek Ishak bukan hanya seorang ayah, tetapi juga seorang pemimpin yang meninggalkan jejak besar bagi Kalimantan Timur. Jalan tol, jembatan, dan berbagai pembangunan infrastruktur adalah bagian dari warisan yang akan terus dikenang oleh masyarakat. 

 

"Sekarang saya sadar, setiap langkahnya penuh makna. Bahkan di perjalanan terakhirnya, beliau masih ingin menunjukkan hasil kerja kerasnya kepada kami," tutup Donna dengan penuh haru. 

Selamat jalan, Awang Faroek Ishak. Dedikasi, perjuangan, dan pesan-pesan bijakmu akan terus hidup di hati keluarga dan masyarakat Kalimantan Timur. (Tan)