Kolaborasi Budidaya Udang Windu Berbasis Kawasan di Berau Didorong untuk Berkelanjutan
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Pemkab Berau melalui Dinas Perikanan terus mendorong pengembangan budidaya udang windu berbasis kawasan. Hal ini diungkap Sekretaris Dinas Perikanan Berau, Yunda Zuliarsih, dalam kegiatan koordinasi lintas sektor yang digelar pada Selasa (29/4/2025).
Pasalnya budidaya udang windu
tidak bisa dilakukan secara mandiri oleh Pemkab Berau karena secara kewenangan,
sesuai dengan Undang Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,
hal tersebut merupakan ranah Pemprov Kaltim.
"Kita didaerah tidak dapat memberikan dukungan dalam bentuk
sarana produksi seperti benih, pakan, dan pupuk. Oleh karena itu, dibutuhkan
kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan NGO," jelasnya.
Tiga lokasi budidaya yang telah
dikaji, yaitu Suaran, Tabalar, dan Pekat, ternyata hanya Suaran yang dinyatakan
memenuhi syarat dari sisi kelayakan kawasan.
Hal ini disebabkan dua lokasi
lainnya merupakan kawasan kehutanan sosial, sehingga tidak bisa dimanfaatkan
untuk kegiatan budidaya. "Hanya Suaran yang masuk dalam Area Penggunaan
Lain (APL), yang bisa dikembangkan lebih lanjut," ujarnya.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan
dari berbagai program sebelumnya seperti Standarisasi Budidaya Udang Menuju
Udang Berau, “Siap Sedia” (Satu Kampung Budidaya Perikanan Satu Pembudidaya
Bulanan), hingga yang terbaru Kawan Baik, yang mengedepankan sinergi antara
pemangku kepentingan, termasuk NGO dan Pemerintah Daerah.
Sejumlah instansi terkait terlibat
dalam proyek ini antara lain Dinas Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (DLHK), Dinas PUPR, Dinas Pertanahan, Bagian Hukum dan Ekonomi Setda
Berau, serta perangkat kampung. Keterlibatan mereka menyangkut berbagai aspek
seperti izin lingkungan (AMDAL, SPPL, UKL-UPL), legalitas lahan, hingga
perizinan usaha seperti NIB.
Dalam data sementara, produksi
udang windu di Berau meningkat dari 778,9 ton pada 2022 menjadi 1.008,65 ton di
2023, atau naik sekitar 30%. Diprediksi angka ini akan terus meningkat pada
2024 dan 2025, didukung oleh hasil panen yang lebih cepat dan intensitas panen
yang meningkat.
"Dulu hanya dua sampai tiga
kali panen per tahun, sekarang bisa empat kali," ujar Yunda.
Kegiatan ini juga mendapat
dukungan penuh dari NGO, termasuk dalam penyediaan sarana prasarana,
revitalisasi tambak, hingga penyelenggaraan sekolah lapang untuk meningkatkan
kapasitas pembudidaya. Pemerintah kabupaten sendiri berfokus pada penguatan SDM
dan fasilitasi regulasi.
Sumber pendanaan untuk kegiatan awal saat ini berasal murni dari dukungan NGO tanpa menggunakan dana APBD. "Kegiatan ini merupakan bagian dari aksi perubahan yang dijalankan oleh reformer kami, Pak Budi, dalam rangka pendidikan kepemimpinan administrator. Semua kegiatan dibiayai pihak NGO, termasuk narasumber dan konsumsi," jelas Yunda.
Ke depan, pemerintah daerah
menargetkan proyek ini dapat dimasukkan dalam perencanaan jangka menengah (dua
tahun) dan jangka panjang (lima tahun) melalui anggaran daerah. Dengan
demikian, diharapkan budidaya udang windu di Berau dapat berkontribusi terhadap
peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
(sep/FN)