Embung dan Puncak Sumber Sari Jadi Magnet Baru Wisata Kecamatan Loa Kulu
Camat Loa Kulu, Ardiansyah. (pic:tanty)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR
: Kecamatan Loa Kulu terus menunjukkan geliatnya dalam
mengembangkan sektor pariwisata desa. Salah satu destinasi yang kini tengah
mencuri perhatian adalah kawasan embung dan puncak di Desa Sumber Sari, yang
perlahan menjelma menjadi magnet baru wisata lokal.
Camat Loa Kulu,
Ardiansyah mengungkapkan bahwa kawasan tersebut kini kerap menjadi tujuan
favorit warga, baik dari dalam maupun luar desa. Keberadaan landmark tulisan KUKAR
di puncak kawasan juga dinilai memperkuat daya tariknya sebagai ikon baru
Kecamatan Loa Kulu.
“Puncak dan embung
Desa Sumber Sari kini jadi salah satu destinasi unggulan. Ikon KUKAR juga
menambah daya tarik wisata di sana,” ujar Ardiansyah saat diwawancarai awak
media belum lama ini
Ia menegaskan bahwa
pengembangan kawasan wisata ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah
Kabupaten Kutai Kartanegara. Selain itu diakuinya juga pihak Kecamatan juga
aktif mendorong peningkatan kapasitas SDM desa agar pengelolaan pariwisata
dilakukan secara mandiri, profesional, dan berkelanjutan.
Ardiansyah juga
menyebut tak hanya fokus pada pesona alam, ia juga menyoroti pentingnya
pelestarian sejarah lokal.
“Salah satu contoh
adalah Tugu Pembantaian di Desa Loh Sumber, yang telah mendapat perhatian
melalui perbaikan akses jalan lewat program semenisasi,” katanya.
Camat Loa Kulu ini
mengatakan bahwa lokasi tersebut direncanakan menjadi tempat pelaksanaan
peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2025, sebagai bentuk penghormatan
terhadap sejarah perjuangan.
“Nilai-nilai sejarah
seperti ini harus dijaga dan diwariskan. Kami mendorong desa untuk aktif
merawat dan memanfaatkan situs sejarah sebagai bagian dari penguatan identitas
lokal,” tambahnya.
Untuk menyukseskan
program pengembangan wisata dan budaya, Ardiansyah memastikan pemerintah
kecamatan Loa Kulu terus memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan
Dinas Pariwisata dan Dinas Pendidikan Kukar.
“Tentunya koordinasi
kita lakukan juga dengan pemerintah desa, terutama dalam pengalokasian dana
desa untuk mendukung kegiatan budaya, wisata, dan ekonomi kreatif,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia
menyebutkan keberadaan Desa Jembayan Tengah yang telah ditetapkan sebagai desa budaya juga terus didampingi agar
tradisi dan kearifan lokal tetap hidup di tengah modernisasi.
“Kami terus mendorong
desa-desa untuk aktif menggali potensi wisata dan sejarah yang ada. Kalau
dikelola dengan baik, desa bisa mandiri dan ekonomi masyarakat pun ikut
tumbuh,” tutup Ardiansyah. (Adv/Tan)