DPRD Kukar Gelar RDP Bahas Pemekaran Kecamatan Muara Kaman yang Masih Tertunda
Ketua Komisi 1 DPRD Kukar Agustinus Sudarsono. (pic:Tanty)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR
: DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menggelar Rapat Dengar Pendapat
(RDP) terkait pemekaran Kecamatan Muara Kaman yang hingga kini masih tertunda.
Rapat berlangsung di Ruang Banmus DPRD Kukar, Senin (23/02/2026).
RDP tersebut dipimpin
Ketua Komisi I DPRD Kukar, Agustinus Sudarsono, dan Asisten 1 Setdakab Kukar
Ahmad Taufik Hidayat serta dihadiri hampir seluruh kepala desa se-Kecamatan
Muara Kaman, Camat Muara Kaman, para Ketua BPD, Asisten I Pemerintah Kabupaten Kukar,
perwakilan BRIDA serta anggota Komisi I dan Komisi IV DPRD Kukar.
Saat diwawancarai
awak media usai rapat Agustinus Sudarsono
menyampaikan bahwa rapat tersebut menjadi momentum penting untuk memberikan
kejelasan terhadap proses pemekaran yang sebelumnya berjalan tanpa kepastian.
“Alhamdulillah hari
ini menjadi angin segar bagi tim pemekaran. DPRD Kukar benar-benar
memfasilitasi dan mengawal proses ini, serta siap membantu sampai benar-benar
tuntas,” ujarnya.
Ia menjelaskan,
secara regulasi pemekaran kecamatan mensyaratkan minimal sepuluh desa. Saat ini
baru sembilan desa yang menyatakan kesiapan penuh, sementara satu desa yakni
Desa Sedulang masih belum sepakat terhadap beberapa poin penting.
Sembilan Desa yang
telah siap di antaranya Desa Bunga Jadi, Menamang Kanan, Menamang Kiri, Panca
Jaya, Sabintulung, Sidomukti, Cipari Makmur, Puan Cepak, Teratak dan Sedulang.
Namun dalam perkembangannya, Desa Sedulang belum menyetujui beberapa
persyaratan sehingga proses belum dapat dilanjutkan secara resmi.
“Dari awal
komitmennya sepuluh desa. Namun ada satu desa yang meminta beberapa hal,
sehingga sembilan desa lainnya belum bisa melanjutkan tahapan berikutnya,”
jelasnya.
Agustinus memastikan,
DPRD Kukar tidak ingin meninggalkan Desa Sedulang dalam proses pemekaran
tersebut. Secara geografis, wilayah Menamang Kanan dan Menamang Kiri harus
melewati Desa Sedulang, sehingga desa tersebut dinilai menjadi bagian penting
dalam satu hamparan wilayah pemekaran.
Diketahui, alasan
utama Desa Sedulang belum menyepakati pemekaran karena adanya permintaan agar
ibu kota kecamatan berada di wilayah mereka, serta sejumlah kejelasan terkait
pembangunan.
“Kami tidak ingin
mencari pengganti atau meninggalkan Sedulang. Kami akan melakukan pendekatan
informal untuk mengetahui secara detail apa yang menjadi keinginan mereka.
Karena sejak awal mereka sudah satu komitmen bersama sepuluh desa untuk mekar,”
tegasnya.
Diakui Agustinus
secara administratif, kajian pemekaran disebut telah memenuhi syarat, baik dari
aspek luas wilayah, jumlah penduduk, maupun letak geografis. Proses yang
tersisa saat ini adalah penyatuan komitmen internal antar desa agar mencapai
kesepakatan bersama.
“Administrasi sudah
clear. Tinggal kesiapan internal desa agar sepuluh desa ini bisa satu suara.
Kami optimistis dengan komunikasi yang baik, persoalan ini bisa segera
diselesaikan,” terang Agustinus.
Diriny juga menyebut
DPRD Kukar memastikan akan terus mengawal proses pemekaran Kecamatan Muara
Kaman demi pemerataan pelayanan publik dan percepatan pembangunan di wilayah
tersebut.
Sementara itu,
Asisten I Sekretariat Kabupaten Kukar, Taufik Hidayat, menegaskan bahwa secara
administrasi dan teknis, pemekaran sebenarnya telah memenuhi syarat.
“Pemekaran ini sudah
melalui kajian BRida dan dinyatakan memenuhi syarat. Sepuluh desa menjadi satu
kecamatan sebenarnya sudah clear secara administrasi dan teknis. Hanya saja,
penentuan Ibu Kota Kecamatan yang belum ada keputusan karena ada satu desa yang
menolak jika ibu kota berada di desa lain. Itu yang membuat proses ini
tertunda,” jelas Taufik.
Menurutnya, RDP yang
digelar DPRD Kukar sangat penting karena memberikan penguatan terhadap
kebutuhan sepuluh desa, khususnya Desa Sedulang.
“Yang perlu dipahami,
ada kekhawatiran dari Desa Sedulang jika ibu kota berada di desa lain,
perhatian pembangunan tidak maksimal sampai ke wilayah mereka. Karena itu perlu
dirapatkan kembali bagaimana akses ke Sedulang, baik pendidikan maupun
kesehatan, tetap terjamin,” tambahnya.
Taufik juga mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat masih akan diagendakan rapat lanjutan khusus bersama sepuluh desa yang akan dimekarkan guna mencari titik temu terkait penetapan ibu kota kecamatan. (Tan)