Terinspirasi Kasah Nyata di Berau “Karung Gandum Jadi Seragam Sekolah” Diangkat ke Layar Bioskop
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kisah pilu seorang siswi kecil yang terpaksa mengenakan karung gandum sebagai seragam sekolah kini diangkat ke layar lebar oleh anak-anak muda pecinta Sinematografi di Kabupaten Berau. Cerita yang berangkat dari pengalaman nyata tersebut menjadi inspirasi lahirnya film lokal berjudul “Karung Gandum.”
Film ini diproduksi
oleh komunitas kreatif Rabba Rimpa Bahari, yang selama ini aktif menggarap
film-film daerah bertema budaya, sosial, hingga sejarah. Karya terbaru tersebut
rencananya akan segera ditayangkan di Cinema Complex (Cineplex).
Sutradara film
“Karung Gandum”, Yayan, mengatakan kisah dalam film tersebut terinspirasi dari
kejadian yang pernah ia saksikan saat masih bersekolah.
Menurutnya, film ini
menceritakan seorang siswi berusia sekitar tujuh tahun yang hidup dalam kondisi
ekonomi serba terbatas, sehingga hanya mampu menggunakan karung gandum sebagai
seragam sekolah.
“Cerita ini
sebenarnya pernah terjadi di lingkungan sekolah kami dulu. Karena itu kami
ingin mengangkatnya menjadi film agar orang tahu bahwa kondisi seperti ini
pernah ada,” ujar Yayan.
Ia menuturkan, selain
menyajikan kisah kehidupan yang menyentuh, film ini juga membawa pesan moral
bagi masyarakat, khususnya para pelajar, agar tidak melakukan tindakan
perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
“Harapannya film ini
bisa menjadi pengingat bahwa kita harus saling menghargai. Jangan sampai ada
pembulian di sekolah atau tindakan yang menyakiti teman,” katanya.
Sebelumnya, Rabba
Rimpa Bahari telah memproduksi beberapa film lokal seperti “Panjat” dan
“Kampung Padai.” Kedua film tersebut juga mengangkat cerita yang dekat dengan
kehidupan masyarakat Berau. Tak berhenti di situ, komunitas ini juga tengah
menyiapkan produksi film keempat yang mengusung genre horor berjudul
“Bungkang.” Film tersebut ditargetkan dapat menembus pasar nasional dan diputar
di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia.
“Habis ini kami akan
membuat film horor berjudul ‘Bungkang’. Target kami film ini bisa tayang secara
nasional,” ungkap Yayan.
Melalui karya-karya
film lokal, Yayan berharap masyarakat dapat lebih mengenal sejarah dan cerita
yang pernah terjadi di daerahnya sendiri. “Sejarah kadang hanya dianggap cerita
atau mitos. Lewat film, kami ingin membuatnya lebih nyata sehingga generasi sekarang
bisa memahami dan mengingatnya,” pungkasnya. (sep/FN)