Laba PT HSB Naik, Pemkab Berau Kantongi Dividen Rp2,13 Miliar
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar pada 9
Maret 2026 di kantor PT Inhutani I di Jakarta
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU: Hasil kinerja PT Hutan Sanggam Berau (HSB) menunjukkan tren sangat positif pada 2025.
Perusahaan kehutanan
tersebut mencatat laba bersih Rp6,88
miliar, yang kemudian disepakati untuk dibagikan sebagai dividen kepada para
pemegang saham. Keputusan itu diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
yang digelar pada 9 Maret 2026 di kantor PT Inhutani I di Jakarta.
Selain menetapkan
pembagian dividen, rapat juga mengesahkan laporan tahunan dan laporan keuangan
perusahaan yang telah diaudit secara independen.
Direktur PT Hutan Sanggam
Berau, Roby Maula, menyampaikan bahwa laporan keuangan tahun buku 2025 ini pun
PT HSB memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari kantor akuntan
publik.
“adapaun keberadaan
laporan keuangan tersebut secara wajar menggambarkan posisi keuangan perusahaan
per 31 Desember 2025,” ujarnya.
Dari total laba bersih
Rp6.889.752.625, para pemegang saham menyepakati 62 persen dibagikan sebagai dividen dan 38
persen dialokasikan sebagai cadangan umum perusahaan. Total dividen yang
dibagikan mencapai Rp4.271.646.628. Pembagian dividen kepada pemegang saham
terdiri dari, -Pemerintah Kabupaten Berau (50%) menerima Rp2.135.823.314, PT
Inhutani I (30%)menerima Rp1.281.493.988, Perusda Kehutanan Sylva Kaltim
Sejahtera (20%)menerima Rp854.329.326.
Masih dalam penjelasannya,
Roby menilai capaian laba tersebut menjadi salah satu yang terbesar dalam
beberapa tahun terakhir. Menurutnya, peningkatan ini tidak lepas dari langkah
efisiensi operasional serta pengelolaan usaha kehutanan yang lebih
berkelanjutan. “Ini menunjukkan upaya perbaikan manajemen dan efisiensi yang
dilakukan perusahaan mulai memberikan hasil positif,” katanya.
Secara kumulatif sejak
2003 hingga 2025, PT Hutan Sanggam Berau telah membukukan total laba usaha
sekitar Rp34,19 miliar, dengan dividen yang telah dibagikan kepada para
pemegang saham mencapai lebih dari Rp22,17 miliar.
Meski mencatat kinerja
positif, perusahaan mengakui tantangan usaha kehutanan ke depan masih cukup
besar. Tekanan harga kayu di pasar global serta perubahan regulasi sektor
kehutanan menjadi faktor yang perlu diantisipasi. “Dari semua torehan keberhasilan
memasuki 2026, kami menghadapi tantangan mulai dari kenaikan regulasi PSDH-DR
hingga fluktuasi harga kayu log di pasar global,” jelasnya.
Untuk menjaga
keberlanjutan usaha, PT Hutan Sanggam Berau kini mulai mendorong diversifikasi
bisnis melalui program Multi Usaha Kehutanan (MUK). Program ini diharapkan
dapat mengurangi ketergantungan terhadap produksi kayu sekaligus meningkatkan
nilai ekonomi kawasan hutan.
Selain itu, pemerintah
daerah juga mendorong pengembangan komoditas lain seperti jagung, kakao, dan
kelapa genjah sebagai bagian dari sinergi pembangunan daerah dengan kegiatan
usaha perusahaan.
Roby berharap dukungan
dari para pemegang saham terus berlanjut agar berbagai rencana pengembangan
usaha dapat berjalan optimal. “Kami berharap dukungan pemegang saham tetap
kuat, sehingga pengembangan usaha ke depan bisa memberikan manfaat lebih besar
bagi perusahaan maupun daerah,” pungkasnya. (sep/fn)