Menjaga Marwah Budaya di Tengah Keterbatasan, DPRD Berau Dorong Anggaran Layak untuk Kesultanan
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Di balik peran besarnya sebagai penjaga tradisi, kedua lembaga adat di Berau masih dihadapkan pada persoalan klasik adanya keterbatasan dukungan anggaran operasional. Sementara di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur tetap menjadi penanda kuat identitas budaya di Kabupaten Berau.
Kondisi tersebut
menjadi perhatian serius Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto. Ia menilai, sudah
saatnya pemerintah daerah memberikan dukungan yang lebih konkret dan
berkelanjutan terhadap eksistensi kesultanan, tidak hanya dalam bentuk
pengakuan simbolik.
Menurutnya,
Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur memiliki peran yang jauh melampaui
seremoni adat. Dalam praktiknya, kedua kesultanan kerap terlibat dalam berbagai
kegiatan resmi pemerintahan, kegiatan sosial, hingga undangan lintas daerah
yang membawa nama Berau.
“Menurut kami
seharusnya Kesultanan ini bukan hanya simbol budaya, tapi juga bagian dari
wajah daerah kita. Mereka hadir dalam banyak kegiatan resmi, bahkan sampai ke
luar daerah. Tentu itu membutuhkan dukungan operasional yang jelas,” demikian
hal menarik lainnya terungkap dalam
forum Musrenbang Kecamatan beberapa waktu lalu.
Namun realitas di
lapangan menunjukkan bahwa aktivitas tersebut belum sepenuhnya ditopang oleh
anggaran yang memadai. Subroto mengungkapkan, selama ini usulan terkait
kebutuhan operasional kesultanan kerap diajukan, tetapi belum menjadi prioritas
dalam pengalokasian anggaran daerah.
Hal ini, menurutnya, tidak boleh terus berulang. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu melihat persoalan ini secara lebih serius, mengingat peran strategis kesultanan dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas lokal.
“Harapan kami jangan
sampai setiap tahun ada usulan, tapi tidak terakomodir. Ini bukan hanya soal
anggaran, tapi soal komitmen kita dalam menjaga budaya,” tegasnya.
Lebih jauh, Subroto
menekankan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui kegiatan
seremonial atau peringatan tahunan. Ia menilai, keberlangsungan budaya sangat
bergantung pada keberadaan lembaga adat yang aktif, hidup, dan didukung secara
layak.
“Kalau kita ingin
budaya tetap hidup, maka lembaga adatnya juga harus kita perhatikan. Jangan
hanya tampil saat acara, tapi minim dukungan di balik layar. Ini yang harus
dibenahi,” jelasnya.
Menurutnya, dukungan
anggaran bukan semata soal operasional kegiatan, melainkan bagian dari
investasi jangka panjang dalam menjaga jati diri daerah. Tanpa dukungan yang
memadai, bukan tidak mungkin peran kesultanan akan semakin terbatas, bahkan
tergerus oleh perkembangan zaman.
DPRD Berau pun,
lanjut Subroto, berkomitmen untuk terus mengawal agar kebutuhan Kesultanan
Sambaliung dan Gunung Tabur dapat masuk dalam skala prioritas pada penyusunan
anggaran ke depan. Ia berharap ada keberpihakan yang lebih nyata dari
pemerintah daerah agar aktivitas adat dan budaya dapat berjalan tanpa hambatan.
“Kami ingin ke depan ada perhatian yang lebih serius. Dukungan untuk kesultanan harus diprioritaskan sesuai kebutuhan, agar mereka bisa terus menjalankan perannya,” pungkasnya.
Isu ini menjadi
pengingat bahwa menjaga budaya tidak cukup hanya dengan kebanggaan dan
pengakuan. Lebih dari itu, dibutuhkan komitmen nyata dalam bentuk kebijakan dan
dukungan anggaran, agar warisan budaya tetap hidup dan relevan di tengah
perubahan zaman. (sep/FN/advertorial)