Dewan Siap Dukung Mengubah Arah Ekonomi daerah, Dari Tambang Ke Sektor Pariwisata

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Berau tengah berdiri di persimpangan penting. Di satu sisi, sektor pertambangan masih menjadi penopang utama ekonomi daerah. Namun di sisi lain, muncul dorongan kuat untuk beralih ke pariwisata sebagai masa depan yang lebih berkelanjutan.

 

Gagasan itu kini disuarakan secara terbuka oleh DPRD Berau. Bahkan, langkah yang ditawarkan tidak main-main, bahwa Wakil Rakyat Bumi Batiwakkal siap mengawal dengan mengalokasikan hingga 10 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Berau  untuk mengembangkan sektor pariwisata.

 

Disampaikan Anggota Komisi II DPRD Berau, Sutami, ini bukan sekadar wacana, melainkan investasi jangka panjang untuk mengubah arah ekonomi daerah. Namun juga  mengingatkan, mimpi besar itu tidak bisa dibangun di atas fondasi yang rapuh.

 

“Kalau sistem belum siap, anggaran besar justru berisiko terbuang percuma. Kita butuh kerja keras dan kerja bersama. Kalau sudah siap, bukan hanya 10 persen, 20 persen pun bisa kita dorong,” ujarnya.

 

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Realita di lapangan menunjukkan bahwa sektor pariwisata Berau masih dibayangi persoalan mendasar yang belum terselesaikan. Salah satu gambaran paling nyata terjadi saat libur Lebaran lalu. Alih-alih menikmati keindahan alam, sejumlah wisatawan justru harus menghadapi situasi tak terduga: antrean panjang BBM.

 

Di beberapa titik, wisatawan bahkan harus bermalam di SPBU karena kehabisan bahan bakar. Kondisi ini bukan hanya merepotkan, tetapi juga meninggalkan kesan buruk yang berpotensi membuat wisatawan enggan kembali.

 

“Orang datang ke Berau untuk liburan, bukan untuk antre BBM. Ini bisa jadi trauma,” kata Sutami.

 

Ia menilai, persoalan ini seharusnya bisa diantisipasi. Lonjakan kunjungan saat musim liburan adalah hal yang berulang setiap tahun. Karena itu, ia mendesak pihak Jobber atau Sales Branch Manager (SBM) Pertamina agar lebih sigap dalam mengatur distribusi. Namun BBM hanyalah satu dari sekian banyak persoalan.

 

Masalah klasik lain seperti sampah yang menumpuk setelah libur panjang juga masih menjadi pemandangan yang berulang. Belum lagi persoalan listrik yang kerap padam di kawasan wisata pesisir. Ironisnya, pemadaman ini terjadi meskipun infrastruktur seperti gardu listrik telah tersedia.

 

“PLN itu mati lampu terus. Masyarakat sampai dirugikan karena peralatan elektronik rusak. Saya bingung, padahal sudah ada gardu,” ungkapnya dengan nada heran.

 

Di tengah era digital, tantangan lain muncul dalam bentuk keterbatasan jaringan internet. Banyak destinasi wisata Berau yang sebenarnya memiliki daya tarik visual luar biasa—pantai, pulau, hingga laut yang memukau—namun tidak didukung konektivitas yang memadai. Padahal, di zaman sekarang, promosi wisata tidak lagi hanya bergantung pada pemerintah atau agen perjalanan. Wisatawan justru menjadi “agen promosi gratis” melalui unggahan di media sosial. Sayangnya, potensi itu belum dimanfaatkan secara optimal.

 

“Wisatawan sekarang itu ingin langsung berbagi momen. Foto, lalu upload. Tapi kalau jaringan tidak ada, bagaimana bisa?” ujarnya.

 

Bagi Sutami, persoalan-persoalan ini menunjukkan satu hal penting: pembangunan pariwisata tidak bisa dimulai dari proyek besar semata. Justru, hal-hal mendasar seperti energi, kebersihan, dan jaringan komunikasi harus menjadi prioritas utama.

Tanpa itu, anggaran besar yang digelontorkan berisiko tidak memberikan dampak signifikan.

 

Di sisi lain, DPRD Berau juga mulai memikirkan bagaimana masyarakat lokal bisa ikut merasakan manfaat langsung dari pengembangan pariwisata. Salah satu langkah yang disiapkan adalah skema pinjaman tanpa bunga bagi pelaku usaha penginapan. Program ini ditujukan untuk membantu masyarakat meningkatkan kualitas fasilitas yang sudah ada.

 

Namun, bantuan ini tidak diberikan secara sembarangan. “Kalau sudah punya penginapan dan hanya ingin meningkatkan fasilitas, misalnya menambah AC atau memperbaiki kamar, itu bisa kita bantu. Tapi kalau mulai dari nol, kita belum berani,” jelasnya.

 

Pendekatan ini dinilai sebagai upaya menjaga agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan memiliki dampak nyata.

 

Pada akhirnya, transformasi ekonomi Berau dari tambang ke pariwisata bukanlah perkara sederhana. Ini bukan hanya soal menambah anggaran, tetapi juga tentang membenahi fondasi yang selama ini kerap diabaikan. Dari BBM yang harus tersedia, listrik yang harus stabil, hingga sinyal yang harus menjangkau destinasi wisata semuanya menjadi bagian penting dari pengalaman wisata yang utuh. Jika persoalan-persoalan dasar ini mampu diselesaikan, maka mimpi menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi bukanlah hal yang mustahil. (sep/FN/Advertorial)