Saat Tambang Melemah, Pariwisata dan UMKM Jadi Harapan Baru
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas.
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU
: Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menegaskan masa depan ekonomi Berau tidak bisa
lagi bergantung sepenuhnya pada sektor pertambangan. Menurunnya kuota produksi tambang dan
berkurangnya Dana Bagi Hasil (DBH),
harus menjadi momentum untuk mempercepat penguatan sektor alternatif,
terutama UMKM dan ekonomi kreatif.
“Dengan berkurangnya kuota produksi tambang
batu bara berimbas pada penurunan DBH. Kita harus melihat ke bawah, apa sumber
daya alam yang bisa kita angkat, seperti UMKM dan ekonomi kreatif,” ungkap
Bupati Sri Juniarsih saat dikonfirmasi baru-baru ini.
Menurutnya, sektor
pariwisata harus menjadi penggerak baru ekonomi daerah, sekaligus membuka ruang
pertumbuhan usaha masyarakat. Karenanya menjaga kebersihan semua Destinasi
wisata dimiliki Kabupaten Berau sangat diperlukan dalam menjaga arah ekonomi
Berau ke depan.
“Dan menurut
kami semuanya bermula dari hal yang
paling dasar namun paling menentukan gerbang menuju surga wisata itu harus
bersih, aman, dan layak dilalui,” tegasnya.
Sebab tambahnya,
sebesar apa pun potensi wisata yang dimiliki, citra sebuah destinasi bisa
runtuh hanya karena persoalan yang dibiarkan tampak sepele sampah di pintu
masuk dan jalan yang dibiarkan rusak.
Di tengah penekanan
soal tata kelola pemerintahan, Sri Juniarsih juga menyoroti persoalan yang
lebih konkret di lapangan, yakni peningkatan fasilitas di sektor pariwisata,
khususnya di destinasi unggulan Labuan Cermin. Ia mengaku menerima laporan
terkait kondisi toilet di kawasan wisata tersebut, terutama lantai toilet yang
belum dilengkapi alas sehingga dinilai berpotensi membahayakan pengunjung,
khususnya anak-anak, karena rawan menyebabkan terpeleset.
Masalah yang terlihat
sederhana itu, menurut Bupati, tidak boleh diabaikan karena berkaitan langsung
dengan kenyamanan, keselamatan, dan citra destinasi wisata Berau di mata
pengunjung.
Karena itu, ia
meminta camat terkait segera berkoordinasi untuk melakukan penyempurnaan
fasilitas tersebut. Bahkan, ia mendorong jika diperlukan, perbaikan dapat
dilakukan melalui pemberdayaan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) agar
penanganannya bisa lebih cepat dan melibatkan potensi lokal. (sep/FN/Advertorial)