Peningkatan Kapasitas Intake Bekotok jadi Solusi Kebutuhan Air Bersih Tenggarong

img

Foto: Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri saat melakukan monitoring di IPA Bekotok. (POSKOTAKALTIMNEWS)

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR:  Peningkatan kapasitas Intake Bekotok yang berada di Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong kini menjadi langkah strategis Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dalam menjawab kebutuhan air bersih masyarakat Tenggarong.

Upaya ini diharapkan mampu mengatasi keterbatasan produksi sekaligus meningkatkan kualitas layanan air bersih secara menyeluruh.

Langkah tersebut ditinjau langsung oleh Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri saat melakukan monitoring di Instalasi Pengelolaan Air (IPA) Perumda Tirta Mahakam di Bekotok pada Selasa (28/4/202).

Dalam kunjungannya, ia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas menjadi kebutuhan yang mendesak seiring dengan pertumbuhan jumlah pelanggan dan tuntutan kualitas layanan.

“Ini kita meninjau Intake Bekotok dalam rangka pembangunan peningkatan kapasitas. Kita sudah bekerja sama dengan pihak ketiga yang nantinya akan membangun intake dengan kapasitas 250 liter per detik,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, kapasitas produksi dari IPA Bekotok  masih berada di angka 75 liter per detik. Dengan rencana peningkatan kapasitas menjadi 250 liter per detik, diharapkan suplay air bersih dapat menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat Tenggarong secara lebih merata, baik dari sisi kuantitas maupun kontinuitas aliran.

Menariknya, pembangunan ini menggunakan skema kerja sama dengan pihak ketiga, di mana pemerintah daerah melalui Perumda aman membeli air bersih yang telah diolah.

Meski akan menggunakan pola baru, pemerintah daerah memastikan bahwa tarif distribusi air bersih tidak akan mengalami kenaikan.

“Dengan skema ini kita tidak menaikkan tarif air. Tujuannya meningkatkan kualitas layanan, air lebih deras dan kualitasnya juga lebih baik,” tegasnya.

Pemilihan IPA Bekotok sebagai titik pengembangan ngga bukan tanpa alasan, karakteristik air baku di wilayah tersebut dikenal memiliki tingkat pengolahan yang lebih kompleks dibandingkan wilayah lain seperti IPA Sukarame dan Bukit Biru.

Tak hanya soal produksi, perhatian juga diarahkan pada jaringan distribusi. Saat ini tingkat kebocoran air atau non-revenue water (NRW) masih berada di angka 38 persen.

Kondisi ini, lanjutnya, menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada efisiensi layanan dan potensi kehilangan pendapatan.

“Kalau jaringan tidak adekuat, air akan banyak terbuang. Bagi PDAM, itu sama saja dengan membuang pendapatan,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno, menegaskan bahwa penambahan kapasitas menjadi langkah penting untuk meningkatkan layanan air bersih di Tenggarong.

“Kendala kami masih ada wilayah yang belum terlayani 24 jam karena keterbatasan kapasitas. Selain itu, kualitas air baku juga menjadi tantangan karena cenderung keruh, sehingga perlu peningkatan dari sisi pengolahan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan beberapa kali survei bersama pihak ketiga sebagai bagian dari rencana penambahan kapasitas layanan air bersih di Tenggarong.

“Polanya, pihak ketiga memproduksi air bersih, kemudian kami membeli air jadi tersebut untuk disalurkan ke masyarakat,” pungkasnya. (kriz)