Tunda Pelaksanaan MBG, Lapas Tenggarong Memilih Prioritaskan Ketahanan Pangan
Ilustrasi MBG masuk Lapas.
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Lapas Kelas IIA Tenggarong menunda pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan memilih memprioritaskan pengembangan program kemandirian serta ketahanan pangan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Keputusan tersebut diambil
meski Lapas Tenggarong sempat masuk dalam rencana pembangunan dapur MBG atau
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Masuknya program MBG ke
lingkungan lapas sebelumnya telah disampaikan Direktur Jenderal Pemasyarakatan
(Dirjenpas) Mashudi beberapa waktu lalu.
Mashudi menjelaskan
program MBG terus diperluas dengan memanfaatkan lahan lembaga pemasyarakatan
sebagai lokasi pembangunan dapur produksi makanan bergizi.
Selain itu, warga binaan
juga akan dilibatkan dalam operasional dapur sebagai bagian dari pembinaan
keterampilan kerja.
“Mudah-mudahan akhir Mei
sudah jalan. Saat ini ada 18 titik ditambah 18 lagi, jadi total 36 dapur sudah
dibangun dan siap beroperasi,” kata Mashudi di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Menurut Mashudi,
Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) mendukung program MBG
dengan menyediakan lahan lapas untuk pembangunan dapur MBG atau Satuan
Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dari total 119 titik yang
diusulkan, saat ini baru 70 lokasi yang mendapat persetujuan, dan 36 di antaranya
sudah memasuki tahap pembangunan.
Menanggapi hal tersebut,
Kepala Seksi Administrasi Keamanan dan Tata Tertib Lapas Kelas IIA Tenggarong,
Halif Shodiqulamin mengatakan, Lapas Tenggarong sebenarnya sempat masuk dalam
rencana pelaksanaan program MBG.
“Memang waktu itu ada
usulan bahwa Lapas Tenggarong direncanakan untuk program tersebut. Jadi
sebenarnya sempat ditunjuk, cuma dengan berbagai pertimbangan akhirnya
diputuskan ditahan dulu,” ujarnya saat di hubungi pada Sabtu (9/5/2026).
Menurut Halif, keputusan
tersebut diambil pada masa pimpinan sebelumnya yang lebih memilih memfokuskan
pengembangan lapas pada program ketahanan pangan dan pembinaan kemandirian
warga binaan.
Ia menjelaskan,
pelaksanaan program MBG di dalam lapas membutuhkan kesiapan yang matang karena
berkaitan dengan pembangunan fasilitas, sistem pengamanan, hingga keterlibatan
warga binaan dalam operasional dapur.
“Kalau nanti berjalan,
nanti skemanya melibatkan WBP. Jadi yang bekerja adalah WBP, tetapi quality
control dan pengawasannya dari BGN,” jelasnya.
Di sisi lain, Lapas
Tenggarong saat ini terus memperkuat program kemandirian warga binaan melalui
sektor ketahanan pangan.
Program tersebut juga akan
dikembangkan melalui Sarana Edukasi dan Asimilasi (SEA) yang nantinya dapat
diakses masyarakat umum.
Melalui program SEA,
masyarakat akan diperlihatkan langsung berbagai aktivitas produktif yang
dikelola warga binaan, mulai dari perkebunan, budidaya ikan air tawar, hingga
layanan pencucian kendaraan sebagai bagian dari pembinaan keterampilan dan
ketahanan pangan di lingkungan lapas.
Halif juga mengungkapkan
bahwa hasil pengukuran sebelumnya menunjukkan lahan di Lapas Tenggarong masuk
kategori tipe A sesuai standar yang ditetapkan BGN.
Namun pembangunan
fasilitas MBG masih memerlukan pembahasan lebih lanjut karena berkaitan dengan
administrasi lahan negara dan sarana pendukung lainnya.
Meski untuk sementara ditahan,
pihak lapas memastikan tetap siap apabila nantinya ada instruksi lanjutan dari
pemerintah pusat untuk menjalankan program MBG.
“Kalau memang pusat
memerintahkan untuk tetap berjalan, kami siap,” tutupnya. (kriz)