Pemkab Kukar Tegaskan Keberpihakan Terhadap Pondok Pesantren, Raperda Pesantren jangan “Digoreng”
Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri. (kriz)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, meminta polemik terkait Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Fasilitasi Pengembangan Pesantren tidak terus dibesar-besarkan setelah sempat memicu ketegangan dalam Rapat Paripurna DPRD Kukar pada Senin (11/5/2026) Kemarin.
Menurutnya, persoalan tersebut seharusnya
dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik tanpa menimbulkan kegaduhan di
tengah masyarakat.
Aulia menegaskan Pemkab Kukar selama ini tetap
menunjukkan keberpihakan terhadap pondok pesantren dan organisasi keagamaan di
daerah.
Ia bahkan menyebut pemerintah daerah aktif
mengikuti berbagai kegiatan keagamaan bersama para tokoh agama dan pesantren.
“Saya berani jamin lebih sering saya ke
pesantren daripada orang-orang yang mengatakan itu. Teman-teman bisa lihat
sendiri bagaimana hubungan Pemerintah Kabupaten Kukar dengan pesantren selama
ini,” ujarnya saat di temui di Grand Elty Singgasana Hotel, Tenggarong, Selasa
(12/5/2026).
Ia juga menyinggung keterlibatan pemerintah
daerah dalam kegiatan safari subuh bersama organisasi keagamaan seperti
Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah hingga Lembaga Dakwah Islam Indonesia
(LDII).
Menurutnya, fakta di lapangan menunjukkan
hubungan pemerintah daerah dan pesantren berjalan baik.
“Siapa yang lebih sering mengikuti kegiatan
safari subuh bersama NU, Muhammadiyah, LDII dan organisasi keagamaan lainnya?
Fakta di lapangan bisa dilihat langsung. Tidak mungkin Pemkab Kukar tidak
berpihak kepada pesantren,” kata dia.
Aulia menilai tudingan bahwa Pemkab Kukar
tidak mendukung pesantren merupakan anggapan yang tidak berdasar.
Terlebih, lanjutnya, pemerintah daerah saat
ini telah menjalankan program bantuan biaya hidup bagi ribuan santri di Kukar.
“Sekarang pemerintah daerah sudah meluncurkan
program untuk 2.662 santri dengan bantuan biaya hidup Rp250 ribu per bulan.
Jadi menurut hemat saya, tudingan bahwa Pemkab Kukar tidak mendukung pesantren
itu tidak masuk akal,” tegasnya.
Ia mengaku terkejut ketika mendengar adanya
anggapan bahwa pemerintah daerah tidak mendukung keberadaan pesantren.
Karena itu, Aulia meminta agar persoalan
tersebut tidak dijadikan bahan untuk mencari sensasi politik maupun memicu
polemik berkepanjangan.
“Kalau mau mencari sensasi, jangan membawa
persoalan pesantren dan agama menjadi polemik,” ucapnya.
Menurut Aulia, setelah menerima laporan dari
Kepala Bagian Kesra dan Sekretaris Daerah Kukar, dirinya melihat pembahasan
Raperda Pesantren sebenarnya berjalan baik dan tidak perlu menjadi persoalan
besar.
“Kemarin setelah saya menerima laporan dari
Kabag Kesra dan Pak Sekda, saya melihat program ini justru bagus untuk
pesantren ya udah on-going aja. Sesuatu yang sebenarnya tidak harus dijadikan
masalah besar,” kata dia.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk menjaga
kondusivitas daerah dan lebih fokus menggunakan energi untuk pembangunan daerah
dibanding memperbesar persoalan yang masih bisa diselesaikan melalui
komunikasi.
“Tujuan kita
sekarang adalah menjaga kondusivitas daerah. Gunakanlah energi kita, itu
benar-benar untuk membangun daerah kita. Bukan untuk hal-hal yang kecil, yang
sebenarnya ini belum tentu ujung pangkalnya seperti dan dijadikan bahan untuk
digoreng-goreng,” tutupnya. (kriz)