Warga Kelurahan Gunung Tabur di Perbatasan Sampaikan Kelurahan Soal Keterbatasan Infrastruktur Dasar ke DPRD Berau
Warga RT 17 Kelurahan Gunung Tabur saat menyampaikan sejumlah keluhan terkait keterbatasan fasilitas mendasar dalam RDP dengan DPRD Berau. (foto: sep/fn)
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Di tengah gencarnya pembangunan Kabupaten
Berau di segala bidang ternyata masih ada masyarakat yang masih hidup dalam
keterbatasan infrastruktur dasar. Itu dialami warga RT 17 Kelurahan Gunung Tabur, wilayahnya berada
tepat di perbatasan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Keluhan itu di
ungkapkan warga saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Berau yang
dipimpin Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto baru-baru ini. Dalam forum tersebut,
warga menyampaikan berbagai persoalan mendasar yang selama bertahun-tahun
dihadapi oleh masyarakat perbatasan.
Ketua RT 17, Fadli,
mengungkapkan kondisi pendidikan di wilayahnya masih jauh dari kata layak.
Hingga kini, proses belajar mengajar untuk puluhan siswa masih dilakukan di
rumah warga di Kilometer 42, karena belum adanya bangunan Sekolah permanen.
Padahal, sekolah tersebut sudah berjalan sekitar enam tahun dan kini memiliki
54 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6.
“Anak-anak di sini
belajar seadanya. Sampai sekarang masih numpang di rumah warga karena
belum ada sekolah,” ujarnya.
Menurut Fadli,
pemerintah daerah sebenarnya sudah beberapa kali membahas rencana pembangunan
sekolah bersama Dinas Pendidikan dan Wakil Bupati Berau. Namun, rencana itu
selalu terkendala persoalan lahan. Sebagian besar wilayah di RT 17 diketahui
masuk dalam kawasan hak guna usaha (HGU) perusahaan.
“Di RT 17 ini ada
beberapa lahan KBK milik TRH dan di atasnya masuk HGU PT AET. Selain kawasan
HGU, sudah tidak ada lagi lahan yang bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Tak hanya pendidikan,
persoalan lain yang tak kalah berat adalah minimnya akses air bersih. Warga
selama ini hanya mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari
memasak hingga mandi dan mencuci. Saat musim kemarau datang, masyarakat terpaksa
mencari sumber air lain dengan kondisi terbatas.
Namun dari seluruh persoalan yang ada, listrik menjadi keluhan yang paling dirasakan warga. Ironisnya, jaringan listrik sebenarnya sudah berada sangat dekat dengan permukiman Masyarakat.
Fadli mengatakan,
aliran listrik sudah sampai di gapura perbatasan Kalimantan Timur dan
Kalimantan Utara. Jarak rumah warga dengan titik jaringan listrik bahkan hanya
sekitar 200 meter.
Sayangnya, karena
persoalan administrasi wilayah dan perbedaan provinsi, masyarakat RT 17 hingga
kini belum dapat menikmati layanan listrik tersebut.
“Kami iri karena
listrik sudah sampai di gapura perbatasan. Rumah saya hanya sekitar 200 meter
dari gapura, tapi karena beda provinsi jadi belum bisa terpasang,” katanya.
Kondisi jalan yang
rusak juga memperparah kehidupan warga. Infrastruktur yang belum memadai
membuat biaya transportasi hasil perkebunan menjadi mahal. Akibatnya, hasil
panen masyarakat sering dibeli murah oleh tengkulak.
“Kalau jalan bagus
mungkin harga hasil kebun warga bisa lebih baik. Tapi karena akses sulit,
tengkulak jadi menekan harga,” ungkap salah seorang warga yang hadir dalam RDP.
Selain itu,
masyarakat juga mengeluhkan persoalan tapal batas wilayah. Beberapa kelompok
tani yang sebelumnya masuk wilayah Berau kini disebut masuk wilayah Kalimantan
Utara.
Warga khawatir
persoalan batas wilayah itu nantinya berdampak terhadap administrasi lahan dan
hak masyarakat di kawasan perbatasan. Menanggapi berbagai keluhan tersebut,
Subroto menegaskan bahwa pembangunan sekolah menjadi prioritas utama DPRD Berau
tahun ini. Menurutnya, keberadaan sekolah tersebut sudah sangat mendesak
mengingat proses belajar mengajar telah berlangsung selama bertahun-tahun
dengan fasilitas terbatas.
“Kami menyarankan
agar sekolah itu secepatnya dibangun. Karena saat ini kelasnya sudah dari kelas
1 sampai kelas 6. Artinya sekolah ini sudah berjalan sekitar enam tahun,”
ujarnya.
Ia menjelaskan
kendala utama pembangunan sekolah memang berada pada status lahan yang masuk
kawasan HGU dan sebagian milik TRH. Namun, pihak TRH disebut telah bersedia
meminjamkan lahan sekitar dua hektare untuk pembangunan sekolah. Meski begitu,
ada syarat yang diberikan, yakni bangunan sekolah tidak boleh permanen karena
status lahan masih bersifat pinjam pakai.
“Bagi kami itu bukan
persoalan. Yang penting anak-anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak,”
tegasnya.
Pemkab Berau bersama
OPD terkait juga disebut siap membangun sekolah sementara atau non permanen
agar aktivitas belajar mengajar dapat berjalan lebih baik. Selain pendidikan,
DPRD Berau juga mendorong pembangunan sumur bor bersama untuk membantu kebutuhan
air bersih Masyarakat.
“Tadi kami mendorong
DPUPR Berau agar segera menindaklanjuti pembangunan sumur bor. Walaupun belum
bisa satu rumah satu sumur, setidaknya bisa digunakan bersama,” katanya.
Untuk persoalan
jalan, DPUPR Berau disebut telah menyatakan kesiapan melakukan penanganan awal
berupa penimbunan dan perbaikan ringan di kawasan HGU. Sementara terkait
listrik, DPRD Berau mengaku telah berkomunikasi dengan DPRD Kalimantan Timur
guna mempercepat penyaluran jaringan listrik ke wilayah perbatasan tersebut.
Harapannya,
pembangunan sekolah, penyediaan air bersih, perbaikan jalan sepanjang sekitar
1,5 kilometer, hingga masuknya jaringan listrik dapat direalisasikan melalui
anggaran perubahan tahun ini.
Bagi warga RT 17
Gunung Tabur, harapan mereka sebenarnya sederhana. Mereka hanya ingin hidup
layak seperti masyarakat lain: anak-anak bisa sekolah dengan nyaman, air bersih
tersedia, jalan bisa dilalui dengan baik, dan listrik yang selama ini hanya
terlihat dari kejauhan akhirnya benar-benar menyala di rumah mereka. (sep/FN/Advertorial)