DPRD Berau Soroti Aktivitas Kapal Wisata yang Bebas Keluar Masuk Tanpa Sistem Pengawasan Terpusat
Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi.
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Keindahan wisata bahari Kabupaten Berau
yang dikenal hingga mancanegara ternyata belum sepenuhnya memberikan dampak
maksimal terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Di balik tingginya aktivitas
wisata di kawasan pesisir dan pulau-pulau unggulan, potensi pemasukan daerah
justru dinilai masih banyak yang “bocor”.
Sorotan itu
disampaikan Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, yang menilai lemahnya sistem
pengawasan dan belum tertatanya regulasi di sektor wisata bahari menjadi
penyebab utama belum optimalnya kontribusi sektor pariwisata terhadap kas
daerah.
“Dari info kami serap
di lapangan hingga saat ini aktivitas kapal wisata di kawasan Kepulauan Maratua
dan Pulau Derawan masih berlangsung tanpa sistem pengawasan yang terintegrasi,”
ujarnya.
Akibatnya, arus
keluar masuk kapal wisata sulit dipantau secara maksimal dan berpotensi
menyebabkan hilangnya potensi pendapatan dari sektor jasa transportasi laut
maupun retribusi wisata. Apalagi selama ini pengelolaan dan penarikan retribusi
sektor wisata bahari masih bocor karena belum terorganisir dengan baik.
“Sistem penerimaan
kita juga belum satu pintu. Jujur kami sampaikan bila kondisi tersebut menjadi persoalan serius
karena sektor pariwisata selama ini selalu disebut sebagai salah satu andalan
utama Kabupaten Berau dalam meningkatkan perekonomian daerah,” terangnya.
Namun di lapangan,
pengelolaan yang belum tertib membuat potensi besar wisata bahari belum mampu
dikonversi secara maksimal menjadi sumber PAD. Sumadi menyebut kapal-kapal
wisata saat ini masih bebas keluar masuk kawasan wisata tanpa kontrol yang
jelas. Kondisi itu membuat potensi pemasukan daerah dari aktivitas wisata laut
kerap tidak terdata secara optimal.
“Itu yang menyebabkan
kapal pariwisata bebas keluar masuk kawasan sehingga potensi pendapatan dari
sektor jasa transportasi laut sering menguap begitu saja,” katanya.
Karena itu, DPRD
Berau mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata (Disbudpar) segera melakukan pembenahan regulasi dan sistem
pengawasan di kawasan wisata bahari. Salah satu langkah yang dinilai mendesak
adalah penerapan sistem satu pintu atau one gate system untuk seluruh aktivitas
kapal wisata yang beroperasi di kawasan perairan wisata unggulan.
Dengan sistem
tersebut, pemerintah daerah diyakini akan lebih mudah melakukan pengawasan
terhadap lalu lintas kapal, jumlah wisatawan, hingga potensi retribusi yang
masuk ke daerah. “Perlu ada penerapan sistem satu pintu agar memudahkan kita
dalam melakukan pengawasan terhadap keluar masuk kapal-kapal pariwisata di
sana,” jelasnya.
Menurut Sumadi,
penataan pintu masuk wisata secara terpusat bukan hanya bertujuan memperketat
pengawasan kawasan wisata, tetapi juga menjadi langkah penting dalam
menciptakan transparansi pengelolaan keuangan daerah. Ia menilai sektor
pariwisata Berau memiliki potensi ekonomi yang sangat besar jika dikelola
secara serius dan terintegrasi oleh seluruh pihak terkait.
Karena itu, ia berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar kebocoran PAD dari sektor wisata tidak terus terjadi dan potensi wisata unggulan Berau benar-benar dapat memberikan manfaat besar bagi daerah maupun masyarakat setempat.
“Ini menjadi langkah
nyata yang bisa kita lakukan bersama untuk menambah PAD dari sektor pariwisata
yang selama ini memang belum kita garap secara maksimal,” pungkasnya. (sep/FN/Advertorial)