DPRD Berau Minta Hotel hingga Pelaku Wisata Mulai Serius Kurangi Penggunaan Plastik Sekali Pakai
Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto.
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Keindahan laut jernih, gugusan pulau
tropis, hingga pesona bawah laut yang mendunia menjadikan Kabupaten Berau
sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kalimantan Timur. Namun, di
tengah meningkatnya kunjungan wisatawan setiap tahun, ancaman sampah plastik
mulai menjadi persoalan serius yang dikhawatirkan dapat merusak wajah
pariwisata Bumi Batiwakkal.
Tumpukan sampah
plastik di kawasan pesisir, penggunaan botol minuman sekali pakai, hingga
limbah wisata yang tidak terkelola dengan baik dinilai dapat menjadi ancaman
nyata bagi kelestarian lingkungan laut Berau yang selama ini menjadi daya tarik
utama wisatawan.
Melihat kondisi
tersebut, Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, mendorong seluruh pihak,
khususnya pelaku usaha wisata dan perhotelan, untuk mulai serius mengurangi
penggunaan plastik sekali pakai.
Menurutnya, langkah
tersebut penting dilakukan demi menjaga kebersihan lingkungan sekaligus
mempertahankan keberlanjutan sektor pariwisata daerah.“Sudah seharusnya
pengurangan plastik sekali pakai memang
harus menjadi perhatian bersama, terutama di kawasan wisata dan
perhotelan. Jangan sampai keindahan wisata Berau rusak akibat persoalan
sampah,” ujarnya.
Dedy menilai,
meningkatnya jumlah wisatawan yang datang ke Berau membawa dampak positif
terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Namun di sisi lain, lonjakan aktivitas
wisata juga berpotensi meningkatkan volume sampah, terutama sampah plastik yang
sulit terurai.
Apabila persoalan
tersebut tidak segera diantisipasi, maka dikhawatirkan dapat mengganggu
ekosistem laut, mencemari kawasan pesisir, hingga menurunkan kualitas destinasi
wisata yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Berau.
“Wisatawan datang ke
Berau untuk menikmati keindahan alam dan lautnya. Kalau lingkungan kita kotor
dan penuh sampah plastik, tentu akan berdampak pada citra pariwisata kita
sendiri,” katanya.
Karena itu, ia
meminta sektor pariwisata tidak hanya fokus mengejar jumlah kunjungan
wisatawan, tetapi juga mulai membangun budaya wisata yang peduli terhadap
lingkungan.
Menurutnya, hotel,
restoran, operator wisata, hingga pengelola destinasi perlu menjadi contoh
dalam penerapan konsep ramah lingkungan secara bertahap. Salah satu langkah
sederhana yang dinilai efektif adalah mengurangi penggunaan botol plastik
sekali pakai dengan menyediakan fasilitas air minum isi ulang atau refill
station di hotel maupun kawasan wisata.
Selain itu,
penggunaan sedotan ramah lingkungan, pengurangan kantong plastik, hingga
pengelolaan sampah berbasis daur ulang juga dinilai perlu mulai diterapkan
secara konsisten.
“Hal-hal kecil
seperti ini kalau dilakukan bersama-sama dampaknya akan besar bagi lingkungan,”
ucapnya.
Dedy menegaskan,
menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah semata. Menurutnya, diperlukan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari
masyarakat, pelaku usaha, komunitas lingkungan, hingga wisatawan itu sendiri.
Ia menilai kesadaran
masyarakat menjadi faktor paling penting dalam upaya mengurangi pencemaran
sampah plastik, khususnya di kawasan pesisir dan pulau wisata yang selama ini
menjadi ikon pariwisata Berau.
“Kesadaran menjaga
lingkungan harus dibangun bersama. Jangan sampai kita menikmati hasil dari
sektor pariwisata, tetapi lalai menjaga alamnya,” tegasnya.
Selain mendorong
pembatasan penggunaan plastik sekali pakai, Dedy juga meminta pemerintah daerah
memperkuat edukasi terkait pengelolaan sampah berbasis lingkungan kepada
masyarakat dan pelaku usaha wisata.
Menurutnya, edukasi
yang dilakukan secara berkelanjutan akan membantu membangun pola pikir
masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan, terutama di
wilayah wisata dan pesisir. Ia juga berharap adanya regulasi dan pengawasan
yang lebih kuat terkait pengurangan sampah plastik, sehingga program tersebut
tidak hanya menjadi imbauan semata, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan.
“Kalau semua bergerak
bersama, saya yakin Berau bisa menjadi contoh daerah wisata yang tidak hanya
indah, tetapi juga bersih dan peduli lingkungan,” ungkapnya. Dedy menambahkan,
keberhasilan menjaga lingkungan akan berdampak langsung terhadap keberlangsungan
sektor pariwisata daerah. Semakin bersih dan terjaga ekosistem laut Berau, maka
peluang meningkatnya kunjungan wisatawan juga akan semakin besar.
Menurutnya, wisatawan
saat ini tidak hanya mencari destinasi yang indah, tetapi juga kawasan wisata
yang bersih, nyaman, dan memiliki komitmen terhadap pelestarian lingkungan.
“Pariwisata dan
lingkungan itu saling berkaitan. Kalau alam kita terjaga, laut tetap bersih,
maka wisatawan akan terus datang ke Berau,” pungkasnya. (sep/FN/Advertorial)