Jumlah Pelanggan Melonjak Hinga 45 Ribu, Sementara Kapasitas Produksi Belum Sepenuhnya Mengikuti

img

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Manajer Hubungan Pelanggan  (Hublang) Perumda Air Minum Batiwakkal Berau, Rudi Hartono mengatakan  di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan dasar, tantangan yang dihadapi Perumda Batiwakkal menjadi gambaran bahwa pertumbuhan pelanggan harusnya  diiringi penguatan infrastruktur agar pelayanan tetap mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.

 

“Sementara Peningkatan kapasitas terakhir untuk wilayah perkotaan dilakukan pada tahun 2021 dan jumlah pelanggan masih berada di kisaran 30 ribu sambungan rumah,” ungkap Rudi  Hartono baru-baru ini.

 

Sementara kini jumlah pelanggan telah meningkat menjadi sekitar 45 ribu pelanggan. Artinya, hanya dalam beberapa tahun terakhir terjadi lonjakan sekitar 15 ribu pelanggan atau meningkat hampir 50 persen dibanding saat kapasitas terakhir ditingkatkan.

 

 “Di saat jumlah pelanggan bertambah, jaringan perpipaan juga terus berkembang. Saat ini jaringan pelayanan perkotaan telah menjangkau wilayah yang lebih luas hingga ke Kampung Rantau Panjang bahkan Kampung Sambakungan,” terangnya.

 

Perluasan cakupan layanan tersebut menjadi pencapaian tersendiri karena semakin banyak masyarakat yang memperoleh akses air bersih. Namun di sisi lain, kondisi itu turut memberikan beban tambahan terhadap sistem distribusi dan menyebabkan tekanan air semakin menurun apabila kapasitas produksi tidak ikut ditingkatkan.

 

Ia mengungkapkan bahwa kebutuhan peningkatan kapasitas produksi sebenarnya telah menjadi perhatian perusahaan sejak beberapa tahun lalu. Hanya saja, realisasi pengembangan infrastruktur membutuhkan biaya besar yang belum seluruhnya dapat dipenuhi.

 

Salah satu tantangan terbesar adalah keterbatasan kemampuan keuangan perusahaan. Hingga saat ini tarif layanan air minum disebut belum mengalami penyesuaian sejak tahun 2011 Sementara di sisi lain, biaya operasional terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kondisi itu membuat perusahaan harus memprioritaskan pengeluaran untuk menjaga layanan tetap berjalan setiap hari.

“Untuk penambahan daya saja membutuhkan anggaran sekitar Rp2 miliar. Itu belum termasuk biaya uprating atau peningkatan kapasitas instalasi. Selama ini pembiayaan kami lebih difokuskan pada kebutuhan operasional seperti listrik, bahan kimia, dan biaya pegawai karena kondisi perusahaan belum mencapai RCR,” tukasnya. (sep/FN)