Outlook Ketenagakerjaan 2026 Petakan Tantangan dan Proyeksikan Jutaan Peluang Kerja
POSKOTAKALTIMNEWS, JAKARTA:Outlook Ketenagakerjaan 2026 yang disusun Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan (Barenbang Ketenagakerjaan) Kementerian Ketenagakerjaan memproyeksikan jutaan peluang kerja baru dari hilirisasi industri dan ekonomi hijau.
Di saat yang sama, kajian tersebut juga memetakan sejumlah tantangan
pasar kerja, mulai dari tingginya pekerja info rmal, kesenjangan kompetensi,
hingga kebutuhan adaptasi terhadap transformasi digital.
Kepala Barenbang Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi, mengatakan perubahan
lanskap ketenagakerjaan pada abad ke-21 dipengaruhi berbagai faktor global,
mulai dari perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI),
otomatisasi, digitalisasi, hingga tuntutan pembangunan berkelanjutan.
“Indonesia berada pada momentum penting untuk mentransformasi pasar
kerja menuju struktur yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Outlook
Ketenagakerjaan 2026 memberikan gambaran mengenai peluang, tantangan, serta
arah kebijakan yang perlu ditempuh untuk memperkuat ketahanan pasar kerja
nasional,” kata Anwar melalui siaran pers Biro Humas Kemnaker, Senin
(22/6/2026).
Salah satu peluang terbesar berasal dari kebijakan hilirisasi sumber
daya alam yang terus berkembang. Selain hilirisasi, transisi menuju ekonomi
hijau juga diperkirakan menjadi sumber pertumbuhan lapangan kerja baru. Out
look Ketenagakerjaan 2026 memproyeksikan jumlah green jobs mencapai 3,88 juta
orang pada 2026, seiring berkembangnya energi baru terbarukan, ekonomi
sirkular, elektrifikasi transportasi, dan modernisasi industri.
“Peluang kerja yang tercipta dari hilirisasi dan ekonomi hijau harus
diimbangi dengan kesiapan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai
kebutuhan industri. Karena itu, pengembangan keterampilan menjadi faktor yang
sangat penting,” ujar Anwar.
Di sisi lain, Outlook Ketenagakerjaan 2026 juga mengidentifikasi
sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian. Kajian tersebut mencatat
sekitar 58 persen tenaga kerja Indonesia masih bekerja di sektor informal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi pasar kerja menuju pekerjaan yang
lebih produktif dan berkualitas masih perlu terus diperkuat.
Transformasi digital juga telah membuka peluang kerja melalui
berkembangnya pekerjaan berbasis platform digital. Meski demikian, perkembangan
tersebut menghadirkan tantangan terkait pengaturan hubungan kerja, perlindungan
sosial, dan adaptasi regulasi ketenagakerjaan terhadap dinamika ekonomi
digital.
Tantangan lain yang menjadi perhatian adalah kesenjangan kompetensi
tenaga kerja. Outlook Ketenagakerjaan 2026 menunjukkan bahwa sekitar 50 persen
tenaga kerja memiliki literasi digital dasar hingga menengah, sementara kebutuhan
industri membutuhkan lebih dari 80 persen tenaga kerja yang memiliki kompetensi
digital.
Selain itu, fenomena skill mismatch atau ketidaksesuaian antara
kompetensi lulusan pendidikan dan kebutuhan dunia kerja masih menjadi tantangan
dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja nasional.
Untuk menjawab berbagai tantangan sekaligus memanfaatkan peluang yang
ada, Kemnaker terus mendorong penguatan sistem pengembangan kompetensi nasional
melalui strategi link and match antara pelatihan vokasi dan kebutuhan dunia
usaha serta dunia industri.
Upaya tersebut dilakukan melalui revitalisasi Balai Latihan Ke rja
(BLK), penguatan pelatihan berbasis teknologi, pengembangan kompetensi digital
dan energi hijau, serta harmonisasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia
(SKKNI) dengan kebutuhan industri.
“Penguatan kompetensi tenaga kerja, peningkatan relevansi pendidikan
dan pelatihan vokasi, serta kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia
usaha, dan lembaga pendidikan menjadi kunci untuk memanfaatkan berbagai peluang
yang muncul dari transformasi ekonomi dan teknologi,” kata Anwar.
Ia berharap Outlook Ketenagakerjaan 2026 dapat menjadi referensi bagi
pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam
menyusun langkah-langkah strategis guna memperkuat daya saing tenaga kerja
Indonesia dan menciptakan pasar kerja yang lebih tangguh, produktif, dan
berkelanjutan.(PK)