DPRD Berau Dukung Pengelolaan Sampah Dengan Teknologi AI dan Robotik : Ubah Limbah Menjadi Pupuk hingga Energi Alternatif

img

Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto.


POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Rencana menyelesaikan persoalan sampah yang selama ini menjadi tantangan di Kabupaten Berau tidak hanya sebatas wacana. Kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau tengah mengkaji penerapan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI)  dan sistem robotik yang diklaim mampu memilah, mengolah, hingga mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi.

 

Dengan sistem tersebut diproyeksikan menjadi salah satu terobosan terbesar dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Berau. Selain mempercepat proses pengolahan, teknologi itu juga diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik dan bahan bakar alternatif.

 

Rencana tersebut mendapat dukungan dari Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto. Menurutnya, pemanfaatan teknologi modern merupakan langkah yang patut diapresiasi karena sejalan dengan kebutuhan daerah dalam menghadapi persoalan sampah yang semakin kompleks.

 

"Sangat bagus. Kalau memang ini bisa direalisasikan, tentu akan sangat membantu penanganan sampah di Kabupaten Berau. Dari paparan yang kami lihat, alat ini memiliki teknologi yang sangat canggih," ujar Dedy.

 

Ia menilai, sudah saatnya pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan memindahkan limbah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi diarahkan menjadi sistem yang mampu menciptakan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu keunggulan teknologi yang dipaparkan kepada DPRD adalah kemampuannya memilah berbagai jenis sampah secara otomatis menggunakan sistem kecerdasan buatan.

 

Berbeda dengan metode konvensional yang masih banyak mengandalkan proses manual, mesin tersebut diklaim mampu mengenali karakteristik setiap jenis sampah, mulai dari sampah organik, plastik, botol, kaca, hingga material lainnya, meski seluruhnya masuk dalam kondisi bercampur. Setelah proses pemilahan selesai, sampah akan melalui tahap pengeringan yang diperkirakan hanya memerlukan waktu sekitar satu jam sebelum memasuki proses pengolahan lanjutan.

 

Menariknya, hampir seluruh tahapan kerja dilakukan menggunakan sistem robotik yang telah diprogram. Karena itu, operasional mesin hanya membutuhkan satu hingga dua orang operator untuk mengawasi jalannya proses. Menurut Dedy, efisiensi tersebut menjadi salah satu nilai tambah yang dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan sampah di masa mendatang.

 

Tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, teknologi tersebut juga diklaim menghasilkan produk yang memiliki nilai guna. Sampah organik diproyeksikan dapat diolah menjadi pupuk, sedangkan residu tertentu dapat diproses menjadi bahan bakar alternatif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pengganti batu bara.


Menurut Dedy, apabila proses tersebut berjalan sesuai rencana, hasil pengolahan limbah bahkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan energi, termasuk peluang memasok bahan bakar alternatif ke pembangkit listrik.

 

"Mesin ini menghasilkan semacam bahan pengganti batu bara yang nantinya bisa disuplai ke PLTU. Kalau itu bisa diwujudkan tentu sangat baik karena sampah tidak hanya selesai diolah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi," katanya.

 

Meski demikian, pemanfaatan hasil olahan tersebut tetap akan bergantung pada hasil kajian teknis serta pemenuhan standar yang berlaku sebelum dapat digunakan secara luas. Dalam tahap awal implementasi, sistem pengolahan sampah modern tersebut direncanakan melayani empat kecamatan, yakni Tanjung Redeb, Gunung Tabur, Sambaliung, dan Teluk Bayur.

Keempat wilayah dipilih karena menjadi kawasan dengan aktivitas masyarakat yang tinggi dan menghasilkan volume sampah cukup besar setiap harinya. Pemkab berau selanjutnya menargetkan sistem tersebut dapat diperluas secara bertahap hingga menjangkau seluruh 13 kecamatan di Kabupaten Berau. Untuk mendukung target tersebut, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) akan menyusun pola pengangkutan sampah dari masing-masing kecamatan menuju fasilitas pengolahan sehingga sistem dapat berjalan secara terintegrasi. (sep/FN/Advertorial)