Tim Penilai Sebut Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Masih Memungkinkan Menuju Geopark Nasional
Rapat evaluasi Tim Verifikator
Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, di Kantor Disbubpar Berau, Senin (10/7/2026).
(foto :sep/fn)
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Harapan Kabupaten Berau dan Kutai Timur
untuk mengantongi status Geopark Nasional masih terbuka lebar. Setelah
melakukan verifikasi lapangan selama lima hari, Tim Verifikator Geopark
Sangkulirang-Mangkalihat menilai kawasan yang memiliki kekayaan geologi,
budaya, dan keanekaragaman hayati tersebut telah menunjukkan kesiapan yang
cukup baik. Bahkan, keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan mengelola kawasan
menjadi nilai paling menonjol selama proses penilaian.
Hal itu disampaikan Prof
Ir. Mega Fatimah Rosana, M.Sc., Ph.D, Dekan Fakultas Teknik Geologi Universitas
Padjadjaran yang juga menjadi anggota Tim Verifikator Geopark
Sangkulirang-Mangkalihat, usai rapat evaluasi di Tanjung Redeb, Jumat (10/7/2026).
"Secara umum
kami melihat kesiapan beberapa geosite sudah cukup bagus. Memang masih ada
beberapa bagian yang perlu ditingkatkan, tetapi secara keseluruhan
perkembangannya sangat positif," ujarnya.
Meski demikian, ia
menegaskan masih terdapat pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan
sebelum status Geopark Nasional ditetapkan, yakni memperkuat fungsi edukasi di
setiap geosite.
Dalam pengamatannya
bahwa sebagian besar lokasi wisata lebih menonjolkan keindahan alam dan
aktivitas ekonomi, sementara informasi ilmiah mengenai proses geologi yang
menjadi identitas utama sebuah geopark masih belum banyak disampaikan kepada
pengunjung.
Mega mengatakan,
geopark tidak hanya menjual panorama alam, tetapi juga menjadi ruang
pembelajaran yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kehidupan masyarakat.
Karena itu, setiap geosite harus mampu memberikan pengalaman wisata sekaligus
edukasi kepada pengunjung.
Dari sejumlah catatan
tersebut, ada satu hal yang menurutnya menjadi kekuatan utama Geopark
Sangkulirang-Mangkalihat dibandingkan banyak kawasan lain yang pernah ia
kunjungi, yakni tingginya partisipasi masyarakat.
Ia mengaku terkesan
melihat antusiasme masyarakat yang secara mandiri menjaga kawasan,
mengembangkan destinasi wisata, melakukan konservasi, hingga membangun kegiatan
ekonomi berbasis potensi lokal. Menurutnya, konsep seperti inilah yang menjadi
ruh sebuah geopark.
"Yang paling
saya apresiasi adalah keterlibatan masyarakat. Mereka sudah bergerak sendiri,
menjaga kawasan, mengelola destinasi, bahkan mengembangkan ekonomi masyarakat.
Dalam konsep geopark, proses seperti ini disebut bottom-up, dan memang inilah
yang paling diharapkan," katanya.
Selama kunjungan di
Berau, tim juga mengapresiasi pengelolaan Taman Sungai Dumaring yang dinilai
telah mampu menggabungkan empat unsur penting sekaligus, yakni konservasi
lingkungan, edukasi, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Model pengelolaan
seperti itu dinilai layak menjadi contoh bagi geosite lainnya. Selain kekayaan
geologi, tim verifikator juga melihat potensi budaya Berau sebagai kekuatan
besar dalam pengembangan geopark. Kunjungan ke dua kesultanan di Berau
menunjukkan bahwa sejarah dan budaya memiliki ruang yang sangat luas untuk
dikembangkan melalui konsep geopark.
Mega menilai kerja
sama antara pengelola geopark dengan pihak kesultanan dapat dilakukan melalui
program edukasi, pelestarian budaya, hingga promosi sejarah daerah kepada
wisatawan. Tidak hanya itu, kawasan Kota Tua Teluk Bayur juga dinilai menyimpan
potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya.
Jejak sejarah
pertambangan, bangunan-bangunan tua, serta museum yang ada dapat menjadi bagian
penting dalam memperkaya daya tarik Geopark Sangkulirang-Mangkalihat.
"Di dalam
geopark ada tiga pilar utama, yaitu geologi, budaya, dan keanekaragaman hayati.
Jadi budaya, baik yang berwujud seperti bangunan bersejarah maupun yang tidak
berwujud seperti kuliner, tradisi, dan kearifan lokal, semuanya merupakan
bagian penting yang harus dilestarikan," ungkapnya.
Meski optimistis,
Mega menegaskan bahwa tim verifikator tidak memiliki kewenangan menetapkan
status Geopark Nasional. Tugas mereka hanya melakukan penilaian lapangan dan
menyusun laporan sesuai kondisi yang ditemukan selama proses
verifikasi.Selanjutnya, laporan tersebut akan dipresentasikan dalam rapat
lintas kementerian yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.
Apabila seluruh kementerian memberikan rekomendasi, maka pada Oktober 2026 Geopark Sangkulirang-Mangkalihat diperkirakan sudah memperoleh rekomendasi resmi sebagai Geopark Nasional. Adapun Surat Keputusan Menteri diproyeksikan diterbitkan pada sekitar April 2027.
"Kami hanya
melaporkan apa yang kami lihat di lapangan dan apa yang tertuang dalam dokumen.
Keputusan akhirnya ada di rapat lintas kementerian. Namun dari hasil yang kami
lihat selama lima hari ini, kami optimistis Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memiliki
peluang besar untuk ditetapkan sebagai Geopark Nasional," tutupnya.
(sep/FN)