Gali Strategi Pengelolaan Pertanian, Komisi II DPRD Kukar Berkunjung ke Maros
TENGGARONG, Komisi II DPRD
Kutai Kartanegara, Jumat (3/3) pagi lalu melakukan kunjungan kerja di Kabupaten
Maros Provinsi Sulawesi Selatan.
Kabupaten Maros menjadi salah satu kabupaten lumbung padi di provinsi Sulawesi Selatan, sehingga Komisi II DPRD Kutai Kartanegara ingin menggali informasi terkait strategi dan upaya yang dilakukan Pemkab Maros dalam pengelolaan pertanian.
Pada kunjungan itu dipimpin Ketua Komisi II Junaidi, didampingi sejumlah anggota lainnya seperti Alif Turiadi, Nirmala, Heri Asdar, dan H Abdulrahman, dan diterima oleh H Burhanudin (Asisten Bidang Pemerintahan Kabupaten Maros, M Nurdin Kadis Pertanian, Syamsul Kabid Penyuluhan Pertanian, dan H Sainudin Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian.
“Banyak hal yang kita peroleh dari hasil kunjungan yang kita lakukan ke Kabupaten Maros. Kabupaten Maros merupakan salah satu kabupaten menjadi lumbung padi di Provinsi Sulawesi Selatan.” Ungkap Junaidi.
Pada 2015-2016 kabupaten
Maros memproduksi 351.169 ton padi dan tahun 2016 memproduksi 313.972 ton padi
dengan prosentase 10,59%. Hal ini tidak lepas dari dukungan masyarakat dimana mayoritas penduduk bermatapencaharian sebagai petani secara turun temurun. Luasan lahan pertanian 3000 Ha
yang dikelola dengan tiga kali tanam/panen setiap tahun.
Di Sulawesi Selatan tanam
bersamaan dengan panen itu hanya di Kabupaten Maros karena didukung sumber air dari Bantimurung
meskipun dalam kondisi kekeringan air tetap
tersedia.
Kabupaten Maros merupakan
Kabupaten di Sulawesi Selatan yang
surplus dengan hasil sebesar 390.000 ton sedangkan
konsumsi
masyarakat hanya 100 ribu ton sehingga sisanya ke luar daerah
ada yang ke Kaltim, ke DKI dan ada 4 kabupaten yang mensuplai ke berbagai daerah.
Di Kabupaten Maros masing-masing SKPD bekerja sesuai dengan tupoksi masing-masing untuk antar SKPD, saling mendukung begitu juga sapras yang lain dan ditunjang sarana pertanian dengan bantuan Kementerian seperti dalam proses peralihan menggunaan teknologi yang selama ini menggunakan tenaga manusia sekarang sudah berani panen dalam bentuk combain dan menanam sudah mengunakan transplantine atau mesin tanam semua merupakan inovasi-inovasi di bidang pertanian yang kedepan mendukung dalam peningkatan produksi
“Dukungan masyarakat yang secara turun temurun
bermata pencaharian sebagai petani dan mindset masyarakat
lebih mengutamakan isi lumbung daripada melaksanakan pekerjaan lain yang
menjanjikan uang lebih.” Ungkap Junaidi.
Dengan informasi yang didapat tersebut, lanjut
Junaidi, nantinya bisa diterapkan di Kabupaten Kutai Kartanegara, sehingga
hasil produksi pertanian akan meningkat.(awi-poskotakaltimnews.com)