Kemarau Keringkan Kolam Ikan, Warga Sumber Sari Rogoh Rp60 Juta untuk Sumur Bor

img

Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Kemarau yang mengeringkan sebagian besar kolam ikan di Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, membuat sejumlah warga harus merogoh ‘kocek’ lebih dalam hingga Rp60 juta lebih untuk membangun sumur bor sebagai sumber air alternatif.

 

Kepala Desa Sumber Sari, Sutarno mengatakan, kondisi kolam ikan di wilayahnya saat ini semakin memprihatinkan.

 

“Sebagian besar saat ini sudah kering. Memang ada sebagian yang masih ada airnya, tetapi persentasenya sedikit,” ujarnya kepada Poskotakaltimnews pada Sabtu (22/8/2026).

 

Kondisi tersebut membuat warga yang kolamnya telah kering menghentikan aktivitas produksi untuk sementara.

 

Sementara itu, pembudidaya yang memiliki sumber air dari sumur bor masih dapat mempertahankan sebagian aktivitasnya.

 

Ia menyebut sejumlah warga memilih membuat sumur bor secara mandiri, biaya yang harus dikeluarkan cukup besar, bahkan mencapai lebih dari Rp60 juta untuk satu titik.

 

“Biayanya memang cukup mahal, bisa sampai Rp60 juta lebih. Ada beberapa warga yang sudah membuat dan sudah jadi,” ungkapnya.

 

Dari dua titik yang telah dipantau, sumur bor tersebut sudah selesai dibuat dan mulai mengeluarkan air. Namun, ia belum dapat memastikan daya tahan sumber air tersebut jika kemarau masih berlangsung panjang.

 

“Cuma baru berjalan, belum sampai satu bulan. Kalau kemaraunya berlanjut, kita juga belum tahu bagaimana kondisinya nanti,” jelasnya.

 

Ia menyebut pembuatan sumur bor masih sepenuhnya menggunakan modal pribadi warga.

 

“Yang punya modal dan cukup untuk membuat sumur bor, mereka membuat sendiri,” kata dia.

 

Upaya mendapatkan air melalui pompanisasi dari sungai juga belum dapat dilakukan. Kondisi sumber air permukaan di sekitar desa ikut menyusut hingga sejumlah sungai kecil mengering.

 

“Kalau ada sungai yang bisa dipompa ke sawah, mungkin masih bisa. Ini sungai kecil saja sudah kering, ditambah tidak ada hujan,” ungkapnya.

 

Ia menilai penambahan titik sumur bor perlu dipertimbangkan sebagai solusi jangka panjang. Sumber air alternatif tersebut dinilai dapat membantu menyelamatkan kolam ketika kemarau datang setelah proses produksi berjalan.

 

Ia juga menilai embung yang tersedia belum menjadi solusi efektif karena ikut mengering saat musim kemarau.

 

Karena itu, lanjutnya, penambahan sumur bor dinilai lebih relevan dengan kondisi yang dihadapi warga.

 

Selain penyediaan sumber air, ia berharap pemerintah memberikan bantuan kepada pembudidaya yang mengalami kerugian akibat kekeringan.

 

Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu warga yang kehilangan modal setelah gagal produksi.

 

“Kami berharap ada semacam insentif bagi mereka yang gagal panen, baik dari sektor perikanan maupun pertanian padi,” harapnya.

 

Terpisah, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Kukar, Muslik, membenarkan adanya laporan mengenai kolam ikan yang terdampak kekeringan di sejumlah wilayah, termasuk Loa Kulu.

 

“Ya, ada beberapa laporan. Saat ini ada beberapa laporan, kadang-kadang mereka sudah minta bantuan ke Damkar untuk menyemprot,” ujarnya.

 

Pemantauan terhadap kondisi kolam dilakukan melalui penyuluh perikanan lapangan (PPL).

 

DKP Kukar juga memperhatikan dampak kekeringan terhadap ketersediaan ikan agar tidak mengganggu pasokan di daerah.

 

“Yang terutama kita jaga adalah suplai ikan kita. Karena kalau misalnya sangat terganggu, itu akan berdampak kepada inflasi kita,” ujarnya.

 

Ia menyebut terdapat pembudidaya yang mengurangi aktivitas akibat kekeringan, tetapi di sisi lain masih ada yang mampu mempertahankan produksi.

“Kalau secara keseluruhan produksi kita masih stabil untuk ikan,” pungkasnya. (Kriz)