DTPHP Berau Bergerak Hadapi Kemarau Panjang, Produksi Padi Baru 40 Persen, Sejumlah Lahan Gagal Panen dan Jadwal Tanam Terancam Bergeser

img

Kepala DTPHP Berau, Lita Handini.

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kabupaten Berau mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi kemarau panjang yang berdampak langsung terhadap sektor pertanian.

 

Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah tidak hanya membuat hasil panen petani menurun. Serangan hama dan penyakit tanaman juga meningkat, sementara sebagian petani terpaksa menunda musim tanam karena ketersediaan air semakin terbatas.

 

Kondisi tersebut turut membuat capaian produksi padi Berau berjalan di bawah target. Dari target produksi lebih dari 8.800 ton, hingga Agustus realisasi baru mencapai sekitar 40 persen.

 

Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, mengatakan kondisi panas ekstrem menjadi salah satu faktor yang menyebabkan produktivitas pertanian menurun.

 

“Panas ekstrem membuat produksi di banyak lokasi menurun karena kekurangan air,” ujar Lita, kemarin.

 

Menurut Lita, kekeringan semakin berat ketika disertai angin yang cukup kencang. Kondisi tersebut tidak hanya mempercepat pengeringan lahan, tetapi juga meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman. Penyebaran hama pun berlangsung lebih cepat sehingga menambah tekanan terhadap tanaman yang sudah lebih dulu mengalami kekurangan air.

 

Dampaknya dirasakan berbeda di sejumlah wilayah, di Buyung-Buyung dan Semurut, petani masih dapat melakukan panen. Namun, hasil produksi mengalami penurunan cukup signifikan karena tanaman menghadapi kekeringan sekaligus serangan hama. Sementara di Merancang, dampaknya jauh lebih berat,  dimana sebagian besar tanaman mengalami kegagalan produksi.

 

“Di Buyung-Buyung dan Semurut tidak gagal semua, tetapi hasilnya menurun karena banyak serangan hama dan kekeringan. Sedangkan di Merancang, sebagian besar gagal,” jelasnya.

 

Meski begitu, DTPHP Berau mencatat kondisi di Tasuk dan Labanan masih relatif lebih baik. Produksi di dua wilayah tersebut masih berjalan, meskipun tetap mengalami penurunan akibat kondisi cuaca.

 

Menghadapi situasi tersebut, DTPHP Berau tidak hanya melakukan pemantauan terhadap kondisi lahan, tetapi juga menyalurkan bantuan pompa air kepada petani di sejumlah wilayah terdampak. Pompa air menjadi salah satu upaya untuk membantu petani mendapatkan pasokan air dari sumber yang masih tersedia dan mengalirkannya ke lahan pertanian.

 

“Bantuan pompa sudah banyak kami berikan untuk lahan yang irigasinya mengalami kekeringan. Petani yang masih bisa panen bulan ini sebagian karena terbantu dengan pompa,” katanya.

 

Namun, upaya tersebut masih menghadapi kendala. Belum seluruh lokasi yang mengalami kekeringan memiliki pompa air. Selain itu, sumber air yang dapat dimanfaatkan petani semakin jauh karena musim kemarau berlangsung lebih panjang. Kondisi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan air tanaman menjadi tantangan tersendiri bagi petani.

 

Komoditas jagung dan cabai juga ikut terdampak. Petani jagung memilih menunda penanaman sambil menunggu hujan turun dan kondisi lahan kembali memungkinkan untuk ditanami. Sementara itu, petani cabai yang tanamannya masih berproduksi berupaya mempertahankan tanaman melalui penyiraman.

 

Menurut DTPHP Berau, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena padi, jagung, dan cabai merupakan tiga komoditas strategis yang menjadi prioritas pemerintah daerah. Ancaman lainnya adalah perubahan jadwal tanam,  apabila hujan baru turun sekitar Oktober, musim tanam berpotensi bergeser hingga akhir tahun.

 

Pergeseran tersebut dikhawatirkan ikut memengaruhi produksi pertanian pada periode berikutnya. Karena itu, DTPHP Berau terus memantau perkembangan cuaca sekaligus kondisi lahan pertanian di berbagai wilayah.

 

Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui wilayah yang paling terdampak sekaligus menentukan kebutuhan penanganan di lapangan, termasuk dukungan sarana pengairan bagi petani. Lita mengatakan pihaknya akan terus mengikuti perkembangan kondisi cuaca dan dampaknya terhadap sektor pertanian Berau.

 

“Kami akan terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan dampaknya terhadap lahan pertanian. Jika musim kemarau terus berlangsung lebih panjang, penurunan produksi hingga akhir 2026 menjadi salah satu risiko yang harus kita antisipasi,” tandasnya.

Bagi DTPHP Berau, tantangan saat ini bukan sekadar menjaga tanaman tetap tumbuh di tengah kekeringan. Lebih jauh, langkah antisipasi diperlukan agar kemarau panjang tidak semakin menekan produksi komoditas pangan strategis sekaligus mengganggu jadwal tanam petani. Di tengah musim yang sulit diprediksi, bantuan pompa air dan pemantauan lahan menjadi bagian penting dari upaya DTPHP Berau menjaga produksi pangan tetap berjalan. (sep/FN)