Menembus Swiss, Kakao Asal Berau Mulai Dilirik Pasar Eropa, Tantangan Berikutnya Mengejar Produksi
Plt. Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau, M Hendratno.
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Komoditas Kakao asal Kabupaten Berau mulai
dikenal pasar dunia. Setelah berhasil menembus Swiss melalui ekspor perdana
sebanyak 1,5 ton biji kakao, peluang komoditas tersebut untuk masuk lebih jauh
ke pasar Eropa semakin terbuka.
Respons positif dari
pasar Swiss menjadi sinyal kuat. Permintaan berkelanjutan mulai terbuka, bahkan
sejumlah negara Eropa lainnya disebut mulai menunjukkan ketertarikan terhadap
kakao yang dihasilkan petani Berau. Namun, di balik peluang besar tersebut, ada
pekerjaan rumah yang tidak kalah penting. Berau harus mampu meningkatkan
produksi tanpa mengorbankan kualitas.
Sebab, ketika pasar
mulai datang, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana mencari pembeli.
Tantangan berikutnya adalah memastikan ketersediaan kakao dalam jumlah yang
mampu memenuhi permintaan, dengan mutu yang tetap konsisten.
Plt. Kepala Dinas
Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau, M Hendratno, mengatakan keberhasilan
ekspor perdana ke Swiss menjadi momentum penting bagi pengembangan kakao Berau.
“Permintaan dari
Swiss ini dipastikan terus berlanjut karena tahap uji coba sebelumnya
mendapatkan sambutan luar biasa di sana. Bahkan beberapa negara Eropa lain
sudah mulai melirik,” kata Hendratno.
Menurutnya,
terbukanya pasar internasional harus dimanfaatkan dengan serius. Namun,
peningkatan produksi tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan kualitas biji
kakao. Justru, kata dia, kualitas harus menjadi perhatian utama ketika produksi
mulai digenjot.
“Karena itu, fokus
utama kita saat ini adalah menjaga standar kualitas bahan baku agar konsisten
saat produksi ditingkatkan,” ujarnya.
Hendratno mengakui,
saat ini permintaan dari pasar luar negeri masih belum sebanding dengan
kemampuan produksi kakao di Berau. Kondisi tersebut menjadi tantangan, tetapi
sekaligus membuka peluang besar bagi petani.
Artinya, semakin luas
pasar yang tersedia, semakin besar pula kesempatan untuk mengembangkan
komoditas kakao sebagai salah satu produk perkebunan unggulan daerah. Untuk
mengejar peluang tersebut, pemerintah daerah mulai menyiapkan langkah
pengembangan dari sisi hulu.
Disbun Berau telah
memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan memperoleh alokasi bantuan
bibit unggul untuk pengembangan tanaman kakao di lahan seluas 200 hektare.
“Kita mendapatkan
bantuan alokasi bibit untuk 200 hektare dari pusat. Tapi nanti penyalurannya ke
petani dilakukan bertahap,” terangnya.
Penyaluran bibit
tersebut nantinya tidak dilakukan secara sembarangan. Pemerintah terlebih
dahulu memastikan kesiapan lahan sebelum bibit diberikan kepada kelompok tani.
Menurut Hendratno, kesiapan lahan menjadi salah satu faktor penting untuk
memastikan bibit dapat tumbuh dengan baik dan tingkat keberhasilan penanaman
dapat maksimal.
“Langkah pertama
adalah pemantapan lahan terlebih dahulu. Kita pastikan lahannya siap, rapi, dan
kondisi cuaca mendukung sebelum bibit didistribusikan agar tingkat keberhasilan
tanam maksimal,” tuturnya.
Program pengembangan
seluas 200 hektare itu akan diarahkan kepada sejumlah kelompok tani yang
memiliki potensi dan kesiapan lahan. Beberapa wilayah yang dinilai potensial di
antaranya Kecamatan Segah, Kelay, dan Sambaliung. Penentuan lokasi tersebut
mempertimbangkan kesesuaian lahan serta rekam produktivitas perkebunan yang
mendukung pengembangan tanaman kakao.
“Beberapa kecamatan
yang potensial seperti Kecamatan Segah, Kelay, dan Sambaliung dan lain-lain.
Intinya wilayah yang memiliki kesesuaian lahan serta rekam produktivitas
perkebunan yang mendukung pengembangan tanaman kakao,” tambahnya.
Pengembangan areal
tanam tersebut diharapkan tidak hanya menambah jumlah tanaman, tetapi juga
menjadi bagian dari upaya membangun rantai produksi kakao Berau secara
berkelanjutan. Dengan produksi yang meningkat dan kualitas yang tetap terjaga,
peluang pasar ekspor diharapkan semakin terbuka.
Hendratno pun
berharap keberhasilan ekspor perdana ke Swiss dapat menjadi langkah awal bagi
kakao Berau untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Jika sebelumnya Berau
harus membuktikan bahwa kakao lokal mampu diterima pasar internasional, kini
tantangannya mulai bergeser. Pasar sudah mulai membuka pintu. Tinggal bagaimana
Berau mampu menyediakan produksi yang cukup, menjaga kualitas, dan memanfaatkan
peluang tersebut agar tidak berhenti sebagai ekspor perdana.
Dengan dukungan
perluasan areal tanam, bibit unggul, kesiapan petani, serta konsistensi mutu,
kakao Berau diharapkan tidak hanya dikenal di Swiss, tetapi mampu menjadi salah
satu komoditas perkebunan daerah yang memiliki daya saing di pasar Eropa.
(sep/FN)