Hadapi Ujian Berat Kabupaten Berau di Usia 73 Tahun, Pemerintah dan DPRD Berau Serukan Kerja Bersama
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Ketua DPRD Berau Dedy Okto Nooryanto mengatakan, hari jadi daerah harus dimaknai lebih jauh daripada sekadar agenda tahunan. Usia 73 tahun bagi Kabupaten Berau bukan sekadar angka dan bukan pula hanya tentang seremoni perayaan hari jadi, namun ada pekerjaan besar yang masih harus diselesaikan.
Ada hutan dan lahan
yang harus dijaga dari kobaran api, ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan,
serta ada pembangunan yang harus tetap berjalan ketika ruang fiskal daerah
semakin terbatas.
Karhutla menjadi
salah satu ujian paling nyata. Data per 29 Agustus 2026 mencatat jumlah hotspot
di Berau sempat mencapai 779 titik, sekaligus menjadi yang tertinggi di
Kalimantan Timur.
Kendati kondisi itu
perlahan membaik. Berdasarkan data BMKG Kalimantan Timur periode 9 September
2026, jumlah hotspot di Berau turun menjadi 50 titik, meski masih berada di
posisi kedua setelah Kutai Kartanegara yang mencatat 64 titik.
Penurunan tersebut menjadi
kabar baik, tetapi bagi Pemerintah dan DPRD Berau, persoalan belum selesai.
Pesan itu mengemuka dalam Rapat Paripurna DPRD Berau dalam rangka memperingati
Hari Jadi ke-73 Kabupaten Berau dan Hari Jadi ke-216 Kota Tanjung Redeb, Senin
(14/9/2026), di Gedung Paripurna DPRD Berau.
“Momentum ini harus
menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan pembangunan sekaligus
mengukur kesiapan daerah menghadapi berbagai perubahan dan tantangan. Termasuk
memperingati hari yang bersejarah ini merupakan sebuah upaya bagi kita semua
untuk introspeksi diri dalam menghadapi tantangan dan perubahan serta dinamika
yang secara terus menerus mengalami perubahan,” ujar Dedy.
Karhutla yang terjadi
di Berau tambah Dedy menjadi ujian bersama. Dampaknya tidak berhenti pada hutan
dan lahan yang terbakar. Kabut asap, kualitas udara, kesehatan masyarakat,
ketersediaan air hingga aktivitas ekonomi ikut terpengaruh.Karena itu, penanganan
karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.Dedy mendorong keterlibatan
masyarakat, dunia usaha, akademisi, hingga media untuk mengambil bagian sesuai
perannya masing-masing.
Pemerintah Berau
lanjutnya, harus tetap berada di garis depan dengan mengoptimalkan satuan
tugas, mempercepat penanganan titik api, memberikan pelayanan kesehatan serta
memastikan kebutuhan air bersih dan pangan bagi masyarakat terdampak. Namun,
pencegahan juga harus dimulai dari masyarakat. Ia mengingatkan agar pembukaan
lahan tidak dilakukan dengan cara membakar.
“Kesadaran setiap
individu adalah kunci utama memutus rantai bencana ini,” katanya.
Dedy juga memberikan
apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang ikut mengerahkan armada pemadam
kebakaran dan memberikan bantuan melalui program tanggung jawab sosial
perusahaan. Menurutnya, kontribusi akademisi dan pakar juga penting untuk
menghadirkan riset serta teknologi yang dapat digunakan dalam menghadapi
kekeringan dan persoalan lingkungan dalam jangka panjang.
Sementara media
diharapkan tidak hanya memberitakan peristiwa, tetapi ikut memberikan edukasi
kepada masyarakat. Persoalan Berau ternyata tidak hanya datang dari persoalan
lingkungan. Pada saat pemerintah harus mengalokasikan sumber daya untuk
menghadapi karhutla, daerah juga menghadapi tekanan fiskal akibat kebijakan
efisiensi dan pemangkasan Transfer keuangan daerah (TKD).
Dedy menilai situasi
tersebut harus menjadi pemicu bagi pemerintah daerah untuk bekerja lebih
efektif. Keterbatasan anggaran, menurutnya, tidak boleh membuat pembangunan
kehilangan arah.
“Efisiensi bukanlah
alasan untuk berhenti melangkah. Efisiensi justru menjadi cambuk bagi kita
untuk bekerja secara lebih cerdas, lebih tajam, dan lebih berdampak,” tegasnya.
Program pembangunan
pun diminta dievaluasi secara berkala agar anggaran yang tersedia benar-benar
diarahkan pada kebutuhan masyarakat. Infrastruktur dasar, pendidikan,
kesehatan, pengentasan kemiskinan dan penguatan ekonomi kerakyatan harus tetap
menjadi perhatian. (sep/FN)