ISPU Tenggarong 210,5, BPBD dan PMI Bagikan 5.000 Masker di Tengah Kabut Asap

img

BPBD Kukar bersama PMI membagikan masker kepada warga di tengah kabut asap karhutla di Tenggarong. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Bukan hanya pandangan yang terganggu, kabut asap karhutla kini membuat kualitas udara Tenggarong masuk kategori sangat tidak sehat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Kartanegara (Kukar) menyebut Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai 210,5 pada Kamis (17/9/2026).

 

Kondisi tersebut membuat BPBD bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kukar turun ke sejumlah titik untuk membagikan sekitar 5.000 masker kepada warga yang tetap beraktivitas di luar ruangan.

 

Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kukar, Sigit Imam Prasetyo mengatakan, pembagian masker dilakukan di empat titik yang menjadi lokasi aktivitas masyarakat, yakni SMA Negeri 1 Tenggarong, SMA Negeri 2 Tenggarong, Simpang 3 Pulau Kumala dan Simpang 4 Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta).

 

"Untuk hari ini sekitar 5.000 masker. Ini dengan PMI, kita bergabung hari ini," ujarnya.

 

Ia menjelaskan, memburuknya kualitas udara di Tenggarong berkaitan dengan kabut asap yang muncul akibat karhutla.

 

Kondisi tersebut mulai dirasakan sejak Rabu (16/9/2026) dan masih berlangsung hingga Kamis.

 

"Mulai kemarin sampai ini. Ini dampak akibat karhutla, kebakaran hutan," jelasnya.

 

Menurutnya, hujan yang sempat turun beberapa waktu lalu belum serta-merta membuat kabut asap menghilang.

 

Kondisi lahan yang masih terbakar dapat membuat asap kembali pekat, terutama ketika belum ada hujan lanjutan yang cukup untuk membantu memadamkan titik api.

 

Ia memperkirakan kondisi kabut asap masih dapat berlangsung dalam dua hingga tiga hari ke depan.

 

Namun, durasinya tetap bergantung pada kondisi cuaca dan perkembangan karhutla di lapangan.

 

"Ini kemungkinan kita pikirkan mungkin sampai dua atau tiga hari. Kita lihat kondisinya. Kalau hujan lagi kemungkinan bisa cepat berkurang," tuturnya.

 

Di sisi lain, BPBD Kukar masih melihat adanya penambahan luasan karhutla, kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran yang terus meluas berpotensi memperpanjang kepungan asap di wilayah Tenggarong dan sekitarnya.

 

Karena itu, BPBD kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan maupun lahan secara sembarangan.

 

Ia menyebut pencegahan dari masyarakat menjadi bagian penting untuk menekan potensi karhutla semakin meluas.

 

"Saya mengimbau untuk masyarakat jangan membakar hutan dan lahan. Ini kan sebetulnya bukan akibat hutan terbakar sendiri, berarti kan ada penyebabnya," himbaunya.

 

Sementara itu, kabut asap juga dirasakan langsung warga yang sehari-hari bekerja di jalan.

 

Salah satunya Zaini Ali, pengemudi ojek online (ojol) asal Tenggarong yang harus tetap beraktivitas di tengah kondisi udara yang memburuk.

 

Ia mengatakan, pekatnya kabut asap terlihat jelas dari kondisi jalan yang dilaluinya.

 

Sebagai pengemudi ojol, ia mengaku tidak bisa menghindari paparan asap karena sebagian besar waktunya dihabiskan di luar ruangan.

 

"Kalau dilihat kasat mata, kabut asap ini memang luar biasa pekatnya. Kami yang bekerja di jalanan selalu terpapar asap ini," ujarnya.

 

Paparan asap tersebut juga mulai dirasakan pada bagian mata. Ia mengaku matanya terasa perih ketika harus beraktivitas di tengah kepulan asap.

 

"Jujur mata saya juga perih kena asap ini dan memang seharusnya memakai masker agar terhindar dari penyakit," tuturnya.

 

Menurutnya, masker menjadi perlengkapan yang penting bagi pengemudi ojol karena aktivitas mereka mengharuskan berada di jalan hampir setiap hari.

 

Adanya pembagian masker dari pemerintah bersama PMI pun dinilai membantu, terutama bagi pekerja yang membutuhkan masker setiap kali beraktivitas.

 

"Dengan adanya pembagian masker dari pemerintah ini lumayan meringankan beban kami juga untuk beli masker, karena kami biasa memang setiap hari harus pakai masker," kata dia.

 

Ia berharap kondisi kabut asap akibat karhutla segera berakhir. Ia juga berharap tidak ada lagi masyarakat yang melakukan pembakaran lahan secara sembarangan karena dampaknya dirasakan banyak orang, terutama mereka yang bekerja di luar ruangan.

 

"Semoga bencana karhutla ini cepat berlalu lah. Jangan sampai ada lagi orang yang sembarangan bakar-bakar dan tidak bertanggung jawab," pungkasnya. (Kriz)