Tiga Tahun Jatuh Bangun, Akbar Pemuda Loa Janan Bangkit Lewat Usaha COBAIN!
Pemilik COBAIN!
Muhammad Akbar saat berjualan dalam event Car Free Night di Jalan Kusuma
Bangsa, Samarinda. (Doc. Muhammad Akbar)
POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Bagi sebagian orang, memiliki usaha sendiri mungkin terlihat sederhana ketika sudah berjalan dan mulai dikenal pelanggan.
Namun, di balik
sebuah kedai atau gerobak jualan, selalu ada cerita tentang keberanian memulai,
bertahan ketika dagangan sepi, hingga keputusan untuk kembali bangkit setelah
sempat ingin berhenti.
Cerita itulah yang
dijalani Muhammad Akbar, pemuda asal Loa Janan yang selama sekitar tiga tahun
terakhir merintis usaha kuliner bernama COBAIN!.
Akbar yang lahir pada
17 Januari 1999 ini sebenarnya tidak langsung terjun ke dunia usaha.
Sebelum membangun
COBAIN!, ia sempat bekerja sekitar dua tahun di pelelangan ikan dengan waktu
kerja yang cukup menguras tenaga.
Pekerjaan tersebut
membuatnya harus bekerja hingga larut malam, sementara di rumah ia memiliki dua
anak yang mulai tumbuh dan membutuhkan perhatian lebih dari orang tua.
“Kerjanya di
pelelangan ikan, jam 12 malam baru turun. Jadi setelahnya anak butuh perhatian
lebih, sudah aktif-aktifnya,” ceritanya kepada Poskotakaltimnews pada Sabtu
(19/9/2026).
Kondisi tersebut
kemudian membuat Akbar mulai membicarakan pilihan untuk memiliki usaha sendiri.
Keinginan itu bukan
semata-mata karena ingin meninggalkan pekerjaan, tetapi lebih kepada harapan
agar dirinya dapat memiliki waktu yang lebih fleksibel untuk keluarga.
Dari sebuah pemikiran
ingin meluangkan waktu bersama anak, muncul ide sederhana untuk mencoba
berjualan minuman dengan memanfaatkan modal dari hasil kerja yang telah
dikumpulkan sebelumnya.
Dari usaha minuman
itulah COBAIN! mulai tumbuh. Perjalanannya tentu tidak selalu berjalan sesuai
harapan, karena Akbar harus menghadapi kondisi ketika penjualan ramai dan
ketika pelanggan sepi.
Ada masa ketika
semangatnya naik karena usaha berjalan baik, tetapi ada pula saat ia merasa
lelah dan mempertimbangkan untuk berhenti karena hasil yang didapat belum
sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan.
“Namanya usaha
merintis itu jatuh bangun. Semangat, loyo lagi. Karena namanya jual-jualan
kadang sepi, kadang sempat sudah bilang, ah berhenti saja lah,” kata dia.
Keputusan untuk
berhenti bahkan sempat benar-benar ia lakukan. Akbar mengambil jeda sekitar dua
bulan dan kembali bekerja dengan orang lain.
Namun, setelah
mendapat kesempatan dan tambahan modal, ia memilih kembali melanjutkan usaha
yang sudah dirintisnya.
Keputusan tersebut
menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan COBAIN!, karena sejak saat
itu Akbar mulai melihat peluang untuk tidak hanya menjual minuman, tetapi juga
mengembangkan usaha melalui menu makanan.
Salah satu menu yang
kemudian hadir adalah pempek berbahan ikan tenggiri. Menu tersebut menjadi
bagian dari pengembangan COBAIN! yang sebelumnya lebih dikenal dengan produk
minumannya.
Saat ini, pelanggan
dapat memilih pempek campur yang bisa disesuaikan dengan permintaan maupun
pempek kapal selam berukuran jumbo yang masing-masing dibanderol Rp25 ribu.
“Alhamdulillah dapat
kesempatan lagi, ada modal lagi, dilanjut lagi usahanya. Sampai sekarang
alhamdulillah bisa menghidupi,” tuturnya.
Tidak hanya pempek,
COBAIN! juga menyediakan berbagai pilihan minuman, mulai dari teh jumbo, lemon
tea, lemon grass, thai tea, green tea, teh susu, hingga taro, milo, chocolate
sweet, sweet mango dan strawberry milkshake.
Untuk pilihan coffee,
tersedia hazelnut latte, coffee latte, kopi milo sultan serta popcorn bliss
latte, dengan harga minuman mulai Rp8 ribu hingga Rp25 ribu.
Usaha yang kini
dijalankan Akbar berlokasi di Jalan Soekarno Hatta No. Km 1, Simpang Tiga,
Kecamatan Loa Janan.
Selain outlet
tersebut, COBAIN! juga hadir di sejumlah lokasi pada waktu tertentu, termasuk
kawasan Kusuma Bangsa dan Gor Segiri, serta mengikuti sejumlah event yang
dinilai dapat membantu memperkenalkan produknya kepada lebih banyak pelanggan.
Akbar mengakui
perjalanan usahanya belum sepenuhnya stabil. Pendapatan yang diperoleh bisa
berubah-ubah karena dipengaruhi sejumlah kondisi, mulai dari cuaca, daya beli
masyarakat hingga adanya event.
Ketika ada kegiatan
yang ramai, penjualan biasanya ikut meningkat dan omset COBAIN! dalam kondisi
tertentu dapat menembus lebih dari Rp10 juta per bulan.
“Kalau omzet tidak
bisa ditentukan, kadang bagus, kadang jelek. Tergantung cuaca, tergantung juga
perekonomiannya,” jelasnya.
Meski demikian, Akbar
tidak melihat perjalanan tiga tahun tersebut hanya dari sisi angka penjualan.
Baginya, pengalaman
jatuh bangun dalam membangun usaha justru memberikan pelajaran yang tidak
didapat ketika hanya bekerja sebagai karyawan.
Ia belajar bagaimana
menghadapi pelanggan, mengatur usaha, mengambil keputusan ketika kondisi sedang
sulit, sekaligus belajar untuk tidak mudah menyerah ketika hasil yang diperoleh
belum sesuai harapan.
Lebih dari itu, usaha
juga memberinya kesempatan untuk menjalani kehidupan yang selama ini ia
inginkan, yakni tetap bisa bekerja sekaligus memiliki kedekatan dengan
keluarga.
Bagi Akbar, memiliki
waktu untuk melihat perkembangan anak dan berada lebih dekat ketika keluarga
membutuhkan menjadi salah satu alasan terbesarnya untuk terus mempertahankan
COBAIN!.
“Memang pengen
cita-citanya itu fokus di rumah saja sama keluarga. Nanti sekolah biar aku yang
antar. Atau paling tidak dekat sama dia kalau ada apa-apa,” ungkapnya.
Karena itu, ketika
berbicara mengenai pengalaman menjalankan usaha, Akbar tidak hanya bercerita
tentang pempek dan minuman yang dijualnya.
Ia juga berbicara
tentang keberanian untuk mencoba, menerima kemungkinan gagal, kemudian kembali
bangkit ketika kesempatan datang.
Menurutnya, anak muda
yang ingin memulai usaha tidak perlu terlalu takut dengan kegagalan.
Sebab, dari proses
mencoba itulah seseorang akan mendapatkan pengalaman dan memahami bagaimana
menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.
“Cobalah berbisnis.
Banyak pelajarannya di dalam, banyak hikmah kehidupannya juga di dalam,”
katanya.
Tiga tahun berjalan, perjalanan COBAIN! masih terus berlanjut. Akbar pun memilih untuk tetap menjalani proses tersebut dengan segala kondisi yang ada, sembari perlahan mengembangkan usaha dan mempertahankan alasan sederhana yang sejak awal menjadi bagian dari keputusannya, bekerja untuk mendapatkan penghasilan, tetapi tetap memiliki waktu untuk keluarga.
“Karena sembilan dari
sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan,” pungkasnya. (Kriz)