Pesta Manutung Jukut 2026 Batal Digelar, 5 Ton Ikan Dialihkan untuk Warga di Daerah Rawan Pangan dan Stunting
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Batalnya pesta makan ikan Manutung Jukut 2026 dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Berau tak serta-merta membuat ikan yang telah disiapkan berakhir sia-sia.
Justru, sekitar 4
hingga 5 ton ikan yang sebelumnya dipersiapkan untuk kegiatan tersebut kini
diarahkan untuk masyarakat di wilayah yang dinilai lebih membutuhkan.
Dinas Perikanan
(Diskan) Kabupaten Berau berencana mengalihkan stok tersebut ke sejumlah daerah
prioritas. Penyaluran tidak dilakukan secara merata ke seluruh kecamatan,
mengingat jumlah ikan yang tersedia terbatas.
Kepala Diskan Berau,
Abdul Majid, mengatakan stok ikan tersebut berasal dari pengadaan dinas. Dengan
jumlah sekitar 4 sampai 5 ton, pihaknya tidak memungkinkan membagikannya secara
merata ke seluruh 13 kecamatan di Kabupaten Berau.
“Stok yang kami beli
berkisar 4 sampai 5 ton, jadi tidak memungkinkan untuk membagikannya secara
merata ke 13 kecamatan. Bahkan untuk kawasan Kecamatan Tanjung Redeb saja tidak
cukup. Jadi penyalurannya akan berfokus pada wilayah skala prioritas,” ujar Majid.
Artinya, ikan yang
semula disiapkan untuk menjadi bagian dari sebuah pesta rakyat akan dialihkan
agar tetap memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Diskan Berau nantinya
akan berkoordinasi dengan Dinas Pangan untuk menentukan wilayah yang menjadi
sasaran penyaluran. Pemetaan diperlukan agar stok ikan yang jumlahnya terbatas
tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
Sejumlah indikator
akan menjadi pertimbangan. Di antaranya wilayah yang tergolong rawan pangan,
daerah dengan tingkat konsumsi ikan laut yang masih rendah, serta kawasan yang
masih mencatat angka stunting tinggi.
“Kami akan
berkoordinasi dengan Dinas Pangan untuk melihat daerah mana yang menjadi
prioritas,” kata Majid.
Majid menegaskan,
pengalihan stok ikan tersebut berbeda dengan program pasar ikan murah yang
selama ini rutin dilaksanakan Diskan Berau. Pasar ikan murah merupakan program
rutin yang digelar setiap bulan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sambaliung.
Program tersebut
ditujukan untuk menyediakan ikan dengan harga yang lebih terjangkau bagi
masyarakat.
Sementara ikan yang
akan dialihkan kali ini merupakan stok yang sejak awal disiapkan untuk kegiatan
Manutung Jukut. Karena kegiatan tersebut batal dilaksanakan, Diskan memilih
mencari skema agar stok yang sudah tersedia tetap dapat dimanfaatkan.
Namun, rencana
tersebut belum bisa langsung direalisasikan. Ada persoalan lain yang kini harus
diselesaikan, yakni biaya distribusi. Menurut Majid, pengiriman ikan ke wilayah
sasaran membutuhkan dukungan operasional, mulai dari bahan bakar minyak (BBM) hingga
armada pengangkutan.
Persoalannya, biaya
tersebut sebelumnya tidak masuk dalam anggaran kegiatan Manutung Jukut. Karena
itu, Diskan perlu mengusulkan pergeseran anggaran agar distribusi dapat
dilakukan.
“Mengirim ikan ke
lokasi sasaran tentu memerlukan biaya operasional dan BBM. Pos anggaran ini
belum ada di belanja kami, sehingga kami mengusulkan pergeseran dana melalui
anggaran perubahan,” jelasnya.
Dengan kondisi
tersebut, penyaluran ikan tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Diskan
harus memastikan terlebih dahulu wilayah penerima, sekaligus menyiapkan
dukungan logistik agar ikan dapat dikirim ke lokasi sasaran. Majid mengatakan
pihaknya akan menjalankan proses tersebut secara bertahap, mengingat waktu
pelaksanaan tahun anggaran yang tersisa juga semakin terbatas.
“Bagaimanapun, kita
jalan perlahan karena sisa waktu tiga bulan lagi,” pungkasnya.
Dengan skema
pengalihan tersebut, batalnya Manutung Jukut tidak serta-merta membuat stok
ikan yang telah disiapkan kehilangan manfaat. Jika proses penganggaran dan
distribusi dapat diselesaikan, ikan tersebut justru akan diarahkan kepada
masyarakat di wilayah yang membutuhkan dukungan pangan dan asupan ikan.
(sep/FN)