Diabetes di Kukar Capai 25.520, Dinkes Ingatkan Bahaya Minuman Manis

img

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufidah. (Kriz)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR: Segelas es teh manis, minuman kemasan, jus dengan tambahan susu hingga boba kini begitu mudah ditemukan dalam keseharian. Rasanya manis, praktis dan kerap menjadi pilihan untuk menemani aktivitas.

 

Namun, di balik kebiasaan tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) mengingatkan adanya risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.

 

Hingga September 2026, Dinkes Kukar mencatat 25.520 kunjungan terkait diabetes di puskesmas.

 

Angka tersebut dihitung sejak Januari dan belum termasuk pelayanan pasien diabetes di rumah sakit.

 

Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufidah mengatakan, angka tersebut cukup tinggi. Terlebih, diabetes kini tidak hanya ditemukan pada kelompok lanjut usia, tetapi mulai banyak dialami masyarakat usia produktif.

 

“Kalau kita lihat dari Januari sampai September ini, sudah 25.520 kunjungan di puskesmas. Ini belum lagi yang ada di rumah sakit,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis (1/10/2026).

 

Kelompok usia 18-59 tahun, kata dia, kini menjadi kelompok dengan angka diabetes tertinggi. Sementara kelompok usia 60 tahun ke atas mencapai sekitar 35 persen.

 

Perubahan tersebut menunjukkan diabetes tidak lagi bisa dianggap sebagai penyakit yang hanya berkaitan dengan usia lanjut.

 

Bahkan, Dinkes Kukar menemukan diabetes pada kelompok usia yang jauh lebih muda. Ia menyebut terdapat 69 kasus diabetes pada kelompok usia 5-18 tahun.

 

Menurutnya, kondisi tersebut membuat anggapan bahwa diabetes semata-mata disebabkan faktor keturunan perlu kembali dilihat.

 

“Sekarang diabetes ini juga terjadi lebih muda. Dulu mungkin orang berpikir diabetes itu penyakitnya orang lansia, sekarang tidak lagi,” kata dia.

 

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pola konsumsi masyarakat, makanan dan minuman dengan kandungan gula, lemak serta minyak tinggi semakin mudah ditemukan. Sebaliknya, pilihan makanan sehat justru tidak selalu mudah didapat.

 

Minuman manis menjadi salah satu yang perlu dikurangi, mulai dari es teh, minuman kemasan, jus hingga minuman kekinian seperti boba, semuanya berpotensi mengandung gula tambahan dalam jumlah cukup tinggi.

 

Ia juga mengingatkan masyarakat tidak langsung menganggap minuman berbahan buah sebagai pilihan sehat.

 

Buah memang baik dikonsumsi, tetapi tambahan susu, gula atau bahan lainnya tetap harus diperhatikan.

 

“Kalau mau makan atau minum buah, ya buah aslinya. Yang perlu diperhatikan itu tambahan-tambahannya,” jelasnya.

 

Es teh yang terlihat sederhana juga bisa menjadi sumber gula yang cukup tinggi. Ketika es ditambahkan cukup banyak, gula terkadang ikut ditambah agar rasa manis tetap terasa.

 

Selain itu, ia mengingatkan bahwa asupan gula tidak hanya berasal dari gula pasir.

 

Makanan yang mengandung karbohidrat, seperti nasi, juga akan diproses tubuh menjadi glukosa.

 

“Jangan berpikir gula itu hanya didapat dari gula. Makanan, nasi misalnya, itu ada kandungan karbohidratnya yang juga akan berpengaruh terhadap gula dalam tubuh,” jelasmua.

 

Menurutnya, diabetes melitus perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan komplikasi apabila tidak dikendalikan.

 

Gangguan kesehatan dapat menyerang berbagai organ, mulai dari jantung, ginjal hingga mata.

 

Karena itu, ia mengajak masyarakat mulai mengubah kebiasaan makan dan minum secara perlahan.

 

Tidak harus langsung menghilangkan makanan atau minuman yang disukai, tetapi kadar gula dan frekuensinya perlu dikurangi.

 

“Sekali-sekali boleh, tetapi tetap harus dikurangi gulanya. Kita mulai memilih yang lebih sehat untuk diri sendiri,” tuturnya.

 

Ia juga menilai masyarakat perlu lebih selektif ketika membeli makanan, jika terdapat pilihan untuk mengurangi bahan tambahan, masyarakat dapat meminta porsinya dikurangi.

 

Menurutnya, tantangan lain adalah ketersediaan makanan sehat yang tidak sebanyak makanan dengan kadar gula, lemak dan minyak tinggi.

 

"Dulu, makanan kukusan lebih mudah ditemukan untuk sarapan, tetapi kini jajanan seperti itu semakin jarang terlihat," sebutnya.

 

Sementara itu, salah seorang warga Kelurahan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Saryono mengatakan, persoalan diabetes bukan sekadar angka yang tercatat dalam laporan kesehatan.

 

Ia pernah kehilangan anaknya yang masih berusia 16 tahun setelah mengalami diabetes yang kemudian berkembang menjadi gangguan pada ginjal.

 

Sang anak harus menjalani cuci darah selama berbulan-bulan, perawatan panjang tersebut akhirnya tidak mampu menyelamatkan nyawanya.

 

Pengalaman itu membuatnya memiliki pandangan berbeda terhadap minuman kemasan dan minuman manis yang banyak dikonsumsi anak-anak maupun remaja.

 

“Minuman kemasan dan minuman manis itu menurut saya sesuatu yang kejam. Anak saya masih 16 tahun, tetapi sudah harus menghadapi penyakit sampai cuci darah,” ujarnya.

 

Ia berharap pengalaman pahit yang dialaminya tidak terjadi pada keluarga lain.

 

Menurutnya, masyarakat tetap boleh menikmati minuman manis, tetapi perlu membatasi dan tidak menjadikannya kebiasaan sehari-hari.

 

Ia juga berharap edukasi mengenai bahaya konsumsi gula berlebihan terus dilakukan, terutama kepada anak-anak dan generasi muda.

 

Menurutnya, kesadaran menjaga kesehatan sebaiknya dibangun sejak dini, sebelum muncul masalah yang lebih serius.

“Boleh minum manis, tapi jangan terlalu sering. Saya tidak ingin kejadian seperti yang saya alami terjadi lagi pada anak-anak yang lain,” pungkasnya. (Kriz)